Pada Suatu Gerhana Matahari – Penyair dan Fotografer yang Menunggu Gerhana Matahari – Dunia Maya – Batu Karang yang Menyembul Diantara Pasir – Di Manakah Rumah Kata-Kata

Karya . Dikliping tanggal 20 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Pada Suatu Gerhana Matahari

SEBUT saja aku Ibrahim. Iya, aku Ibrahim yang
menyanggul kapak untuk membelah kepala
musim. Akulah peramal ulung yang pandai menafsiri
takdir lewat mimpi. Karena aku tak paham
bagaimana bahasa puisi. Kuramal dunia yang sakit
ini. Usianya tidak akan sampai satu detik lagi.
Di dalam patung diri, ribuan cahaya pergi menziarahi
bumi tanpa tahu kapan kembali. Dan pada
suatu malam, aku menangis ingin dikenal sebagai
peramal yang memiliki hati keras nan terjal
Sebut saja aku Ibrahim. Iya, aku Ibrahim yang
gemar bercakap dengan matahari. Bahkan ia
pernah jadi budak sekaligus tuhanku. Lalu kutinggalkan
dirinya setelah aku mengenal jarak antara
rumah dan pintu.
Aku percaya ini bukan soal kecengengan di
hari tua. Cuma saja karena aku tak sering nangis
di waktu muda. Maka aku menangis di langit ini,
sambil menutup wajah dan diri. Maka karena aku
peramal ulung sejati yang gemar bercakap dengan
matahari. Biarlah kuceritakan bisik matahari
di sini, dengan bahasa puisi yang aku tidak pernah
mengerti.
Wajahku yang merah lebam nyaris hitam dicomot
oleh ribuan mata kamera, lalu ditaruhnya di
dunia maya yang aku tak pernah mengenalnya;
tak pernah mengenangnya.
Malang, 2016

Penyair dan Fotografer yang Menunggu Gerhana Matahari

Tuhan, apakah gerhana matahari sudah dimulai?
Ijinkan aku menyaksikan dan memotret dengan
kamera hati
Malang, 2016

Dunia Maya

:untuk Mawardi Stiawan

Aku saksikan orang-orang begitu girang,
begitu khusuk keluar masuk di dunia maya.
Waktu pun saling bersulang dan menyisakan
ruang kosong
di dalam gelas-gelas jiwa yang hampa
Malang, 2016

Batu Karang yang Menyembul Diantara Pasir

:kepada Penyair Umi Kulsum

Aku terharu kau panggil aku penyair. Padahal
aku batu karang yang menyembul di antara pasir.
Bila ombak hendak ingin menyeret tanganku dari
dasar lautnya yang biru. Aku melukai diri dengan
carang atau pun duri. Agar terkenang matahari
menyimpan lukisan abadi.
Bila anak-anak datang bermain dan menginjak
tubuhku. Aku hanya terdiam tanpa sedikitpun menaruh
dendam. Sebab aku tahu cuma di atas tubuhku
cinta digenggam dan dilepaskan. Dan Cuma
di atas tubuhku cinta ditanam lalu dihancurkan.
Malang, 2016

Di Manakah Rumah Kata-Kata

Di manakah rumah kata-kata, aku ingin mencarinya?
Apakah sajak telah terlempar ke luar dunia,
ataukah masih menyala di jurang-jurang jiwa?
Kata-kata berjatuhan dari tangkai bagai daun
dan ranting bercerai. Menimpa batu kepalamu
hancur pecah beribu

Aaa, Iii

Begitulah mulut kata berderu, terdengar hingga
batinmu-batinku yang batu. Apa yang tersimpan
di balik tanda tanya dan tanda seru, kelak bakal
terpantul rahasianya dari cermin kalbu

Uuu, Eee

Begitulah mulut kata berderu, dari konsonan ke
vokal, dari vokal ke konsonan lalu berumah di antara
huruf-huruf kecil dan kapital. Inilah rumah kata-kata
terindah bagiku-bagimu. Kelak bila semua
bahasa telah rubuh rumah kata itu pun bisa jadi
penawar rindu, rindu yang begitu kekar menghantam
tubuh.

Ooo, Ooo

Di dalam kata ada Tuhan menjelma, di dalam
bahasa ada airmata menyala. Di atas angkasa
kata-kata tinggal menetap, di tengah dunia bahasa
cuma numpang lewat. Aku dan kata-kata
saling menatap, saling dekap dengan erat. Aku
dan kata-kata meleleh jadi kalimat, jadi dunia
yang terlipat, jadi kiamat yang sudah dekat.

A, I, U, E, O

Jikalau nanti ada bunyi yang menipu, sudah
pasti ialah gema yang belago

Baca juga:  Megatruh Sebatang Jati - Tanjung Pasir 2 - Haiku Sya'ban
Malang, 2016

Subaidi Pratama, lahir di Sumenep, 11 Juni 1992. Puisinya dimuat banyak media. Dan terkumpul dalam antologi Festival Bulan Purnama Trowulan Mojokerto 2010, Bersepeda Ke Bulan Yayasan Haripuisi Indonesia 2014, NUN Yayasan Hari puisi Indonesia 2015 dan Ketam Ladam Rumah Ingatan Lembaga Seni & Sastra Reboeng 2016. Kini bergiat di komunitas
sastra Malam Reboan di kota Malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Subaidi Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 20 Maret 2016

Baca juga:  Sajak Shinta - Elegi Dewi Ima - Solilokui Kursi - Solilokui Tanah - Elegi Hujan - Kidung Prenjak - Katastrofe