Sebuah Tanya – Pananjakan Bromo – Ini Wajah Kota Kita Sekarang

Karya . Dikliping tanggal 13 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Sebuah Tanya

seorang anak laki-laki berumur sepertiga jagung itu bertanya:
“Apa bahagia itu, ibu? aku heran, mereka selalu membicarakannya setiap hari
menuntutnya, bahkan berkelahi, mengadu kekuatan untuk memperebutkannya.
jelaskan padaku, apa bahagia itu, Bu?”
lugu, ingin tahu, si anak melepas seragam merah putihnya, menggantung sekena
“Betapa hidup tak adil. Betapapun hidup tak pernah berpihak,” lanjut si anak.
dari dalam kamar ia menggerutu, meraih sesuatu di bawah meja belajarnya
membuat simpul dari bisikan yang tak berasal dari hatinya, nampak kalap.

mendnegus napas, dalam, sembari mengaduk adonan bakwan yang akan dijajakan
si ibu bermata cekung -akibat tangis yang membekasi- pun menjawab:
“Maka perdengarkan ini, nak.
Sekelopak nasihat yang tak dapat terbalas oleh lelahmu.
Bahagia itu adlaah ketika kau dapati kegembiraan, kedamaian,
dan rasa syukur dalam waktu bersamaan. Hilang saja salah satunya,
hidupmu akan timpang, tak seimbang. Kau akan kehilangan arah.”

Baca juga:  Tiga Pertanyaan - Lagu Ajal Kita - Ayat-Ayat Bunga - Di Atas Pekuburan

si anak hanya tercengang, diam. menyelami telaga tafsir dari ucapan ibunya
“Sebab, akan kau dapati nantinya, mereka yang bergembira dengan kesemuan.
Berfoya dalam kesementaraan. Mengagungkan angan-angan kosong
sedangkan kedamaian tak direngkuh. Bahkan,
untuk syukur pun benar terkhilaf. Maka anak, janganlah kau serupa itu”
si ibu menyambung lagi, mengadon air mata
tak ada jawaban, hening. Hanya suara minyak goreng berletupan mendidih

sedangkan di pintu kamar belakang,
menggantung diri si anak telah memutus jatah nyawa dengan seutas tali

2014

Pananjakan Bromo

di Desa Tengger, sepagi ini dingin masih begitu mengikat sendi
kaca-kaca mengembun di balik nasi dan lauk yang baru diangkat dari kuali
sebelum dipentaskan pukau alam raya, ada yang menahan gigil hawa gunung
menanjak, menempur malam, tak sadar dengan malam yang dendam
sorak sorai suara kita membelah
dedemit yang terbangunkan dari semedinya
menyambut bias mentari berpendar dari puncak tertinggi di balik Semeru

Baca juga:  Pakter Tuak

masih menahan gigil
sarung tangan dan syal ini tidaklah cukup,
bahkan dua lapis jaket tebal yang sudah dibawa

gigil yang menggoyang tulang-tulang
gigil yang hampir memisah sendi dari tempat ia berdiri
mahaindah dicipta, tumpukan tanah yang meninggi,
mengandung kawah dalam rahimnya

sisa tanah hikayatmu menjadi penyembuh
senantiasa berkelindan dalam setiap pengantar tidur anak-anakku kelak

2014

Ini Wajah Kota Kita Sekarang

di pertengahan jalan, sembari mengendarai lelah dan menahan sangguk
seorang perempuan sebaya mengeluhkan tentang sesaknya kotaku

kota yang lambat laun tak nampak lagi memukau tepi hulu hilirnya
kota yang mulai tergerus keehoisan dan kecurangan-kecurangan

tronton batu bara ke sana ke mari berlalu, meninggalkan luka tanah
berkubik batang-batang kayu menyisir, menyisakan tangis penghuni rimba
semakin menggelembung harta mereka, semakin tenggelam berfoya
bahwa seolah hidup tak mau berpihak pada yang papa, kian menyisil duka
selain orang-orang yang sibuk dengan kepentingannya sendiri juga tak mau tahu

Baca juga:  Rupa Ayah

jalan protokol yang membentang hanya untuk hewan besi berkaki empat
yang berkaki dua, terpaksa merangkak langkah pelan-pelan di trotoar
menandai bahwa jarak yang dekat sengaja mengebiri wkatu, itu yang ia keluhkan
kota yang tak lagi indah seperti halnya amsa kecil kita dahulu.

Samarinda 2014

Imam Budiman, lahir di Samarinda, Kalimantan Timur. Puisi-puisinya dimuat di beberapa media lokal dan nasional. Buku kumpulan puisinya, “Teriakan Bisu” (2012), “Perjalanan Seribu Warna” (2014). KIni berdomisili di Ciputat, Tangerang Selatan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Imam Budiman
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 13 Maret 2016