Titik Nol – Aku Memanggilnya Bima – Fragmen Bunuh Diri – Akan Malam – Sumpah Kabut Kota

Karya . Dikliping tanggal 6 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Titik Nol

Simpangempat itu,
mengepak rapi jejak ribuan ladam
saat kaki-kaki roda membiru.
Sungguh, waktu tak pernah lupa
menggunting habis liputan jarak kita
dengan menara-menara tua.
Dan mataharui menguncup,
mulai bercerita tentang kecup
dan luka yang selalu sama
saat senja beradu dengan surup
Cuma di matamu,
kumandang azan dan deru klakson,
saling bertemu
Punggung kota,
adalah saksi ketika kita,
bercermin ke cakrawala
Di mana heningmu,
yang menidurkan setiap kereta melaju,
kucari di setiap bulir debu,
saat wkatu memilih untuk diam dan
tetap merindu

Aku Memanggilnya Bima

Aku memanggilnya Bima
Kaki bocah kecil itu terus mengayuh
pedal sepedanya. Sambil menghapal 
nama gang dan sungai kecil yang tercecer
di pusat kota. Selalu saja ada yang terlewat.
Mulai dari kotak sarapan, hingga
pagar sekolah berkarat. Tapi tidak dengan 
nama gang dan sungai kecil itu.
Tidak pula dengan gedung-gedung tua
yang mulai layu oleh waktu
Aku memanggilnya Bima.
Bukan seorang pandhawa yang kekuatannya
menguasai luas angkasa. Tapi cuma bocah
yang tanpa lelah mengayuh pedal sepedanya
menuju ke sekolah.
Melintas padang kota yang pengap oleh asap
dan sampah serapah.
Kencananya sepeda tua berkarat. Gadanya tas hitam
usang dengan tambalan melintang
Sungguh ia tak acuh dengan segala.
Dengan cerita tentang pejabat istana
berikut kuda dan gakah-gajah
kencananya. Dengan kota yang dianggapnya
punya luka yang selalu sama.
Aku memanggilnya Bima.
Bocah kecil yang nyaris tak lagi jadi
bagian dari masa. Bukan calon ksatria
yang melahap begitu saja racun dan bisa.
Ia cuma sekadar kolase dari penggalan cerita
tentang kemarau hujan dan pancaroba.
Hidup antara rumah dan sekolah di tepi kali
yang usianya bisa jadi jauh lebih renta dari cuaca.
Tugasnya pun sedergana. Matematika
seadanya dan ilmu tentang agama yang
juga sekadarnya.
Aku memanggilnya Bima.
Bukan putri Kunti yang dikisahkan dalam Mahaprasthanikaparwa.
Ia hanya bocah yang masih saja bertahan di derasnya berita
tentang kota. Tentang maling yang dibikin babak belur oleh massa
saat mencuri beberapa butir telur.
Perihal rajanya yang berebut tahta di tengah gemerlap papan reklame plaza.
Ia tetap saja mengayuh pedal sepedanya.
Ke sekolah ke rumah lalu
entah menuju ke mana.
Aku emmanggilnya Bima.
Ketika mendadak ia menghilang di telan rimbun
rimba kata-kata. Rumahnya telah larut oleh luapan 
kali yang bukan Gangga. Sepedanya kini mungkin sudah
jadi arang, membakar mimpinya
bersama setusuk sate kerang. Buku-buku matematikanya
sekarang pun sudah tertumpuk di gudang loakan. Meski
kolase kota, ia tetap bukanlah bagian dari masa.
Tak lagi ada cita-cita.
Tak menuntut  apa-apa kecuali sekadar
berpura-pura bahagia.
Aku tetap memanggilnya Bima.

Fragmen Bunuh Diri

Bayi bulan di atas bende
masih sore,
ketika lampu kafe
mendadak angkuh oleh alun jimbe,
sisa detak semakin sedikit, napas pahit
lesap di lemmbaran langit.
Serak suara mulai terserak,
ketika dengung panggung terlihat mendung,
ketipak jimbe bergeletar
bersama getar senar gitar-sitar
serupa nun, melengkung
dengan dua ujungnya yang linglung
Ada yang terpaku
di segelas teh berkaramkan gula batu
tersesat di partitur-partitur beku
ah, baginya waktu adalah liang
tempat jasadnya disemayamkan
oleh wkatu luang
Yogya, 2016

Akan Malam 1

mulanya adalah deru kereta
adalah debu stasiun
begitu cepat menanduskan
airmatamu
airmata yang terhujam
lamat tepat di tengah
dadamu lebam
oleh muskilnya kenangan
: akan malam
Surabaya, 2015

Akan Malam 2

jelang subuh
sunyi meluas
seteguk sajak
seteguk arak
seteguk alif purba
melenguh meriuh
o, wahai orang buangan,
betapa malam akan meledak
pada kepal napas
yang tak lagi lepas
Surabaya, 2015

Akan Malam 3

tanpa cumbu,
memanjat pintu pagi
mati derap kaki
lalu penglihatan
lamur
setelah kelokan kesekian
dan kematian yang juga kesekian
sebab gemintang melebur
asap timbal menebal
dan eros yang sesat
melepas ngilu
lepas sujudku
Surabaya, 2015

Akan Malam 4

langkah-langkah renta
lorong-lorong gelap
adalah malam yang lupa
akan kelamnya
sedang bumi gaib
serupa gagak
mematuk senyapku
mendekamkan pilu;
akan malam
akan waktu yang menusuk
luka dan kematianku
Surabaya, 2015

Sumpah Kabut Kota

keikhlasanmu,
ketulusan gedung-gedung baru,
kelapangan becek jalanan bisu,
dan trotoar menyungai,
sungai menyeringai
adalah sumpahmu,
sumpah tentang kabut,
tentang doa
bagi lumut-lumut
pada bekas benteng tua
tersampar di pusat kota
dari segala sisi,
aku bisa melihat api,
: pinggulmu yang melekuk rapi
Yogya, 2015


Arief Junianto: lahir di Surabaya, 4 Junio 1984. Aktif di Komunitas Studi Seni dan Sastra Cak Die Rezim Surabaya. Hingga kini karya-karyanya banyak terdapat di beberapa antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (2003), Senjakala (2005) dan Ruang Hitam (2006), Mozaik Ingatan (2010), Menggapai Asmara (2014), dan Di Balik Hitam Putih Kata (2014). Saat ini menetap di Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arief Junianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 6 Maret 2016