Ulang Tahun di Kedai Sate Padang – Lidah – Lidah Marunyang – Di Pantai Keramas – Peringatan

Karya . Dikliping tanggal 27 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Ulang Tahun di Kedai Sate Padang

Baik, tuan, 49 tusuk daging lidah
(Maaf, sekali ini saja tuan ingatlah
padaku. Lidah senyap yang mengunyah,
melembutkan muslihat)
lidah lembu yang pedas
lidah pengicuh bergerak lemas
Kuhuni mulutmu serupa hewan penunggu
guha keramat. Guha yang mengeluarkan 
sekalian gema dan bayang. Ada banyak 
peristiwa ketika tuan diam-diam datang
mengucap mantera penjinak. Berbaring
di bawah tubuhku tuan mengikat leherku
lidah berkuah yang hangat
lidah kata yang melihat
Sejak itu, tuan, aku tumbuh
sebagai pesuruh. Seekor anjing putih
dari jenisnya yang paling indah. Matanya
serlang, taringnya berkilauan. Yang setia
menjaga selimut cahaya bulan sementara
tuan mengendap-endap ke dalam guha
Mengubah sekalian bayang, mengicuh
jantung terang
(Maaf, sekali ini saja tuan ingatlah
padaku. Lidah senyap yang mengunyah,
melembutkan muslihat)
Baik, ini tuan, 49 tusuk daging lidah 
2015

Lidah

Sehangat tubuh anak dara
aku bilah lembut yang berpilin
Bersimpanglah jalan kata
Menapak ke tanah licin
Serupa lelaki bernama Isa
di jalan kata aku memanggul manusia
Darahku air perigi; mandi dan minumlah
Kutebus nestapa dalam merah jantung tanah
Selembut tubuh senggama
pengerang manusia dan kata
pagut memagut di puncak lengang
Ke tanah licin kupanggul bayang…
2016

Lidah Marunyang

Terbentuk dari gema lonceng
lidahmu memasuki pikiran. Memenuhi
tubuhku dengan tubuh yang lain. Tubuh
yang membawaku berjalan keluar
Kutanggalkan sepatu dan arloji
Kubiarkan orang-orang membongkar
lemari pakaianku, memakainya
dalam upacara peribadatan
Lidahmu mengandung ribuan sayap
yang tak memisahkan terang dan bayangan
Dalam keduanay lidahmu berayun-ayun
dan selalu luput menyentuh tubuhku
Dalam keduanya aku berjalan di atas
jembatan gantung. Di bawah lonceng
yang menggema ke dalam pikiran;
pikiran yang terus mengerang
Di ujung gema lonceng, di gerbang
kota berwarna putih, kitanggalkan 
tubuhku. Kumasuki tubuhmu, memilin
lidahmu, mereguk air liurmu
Lalu kubiarkan kau membingkar
lemariu pakaianku. Memakainya
dalam upacara pemakaman
2016

Di Pantai Keramas

Dari nusa panida gemerincing angin memasuki suaramu
Menghembuslah diri ke jantung hilang
Badan menyelam ke lubuk bayang
Jejak kakimu di pasir hitam, dada laut
yang berkilauan, kail tersangkut dalam buih
Di balik pulau-pulau karang
waktu adalah ular naga yang memanggul
dunia manusia. Mengeluarkan isi perutnya
Helai-helai rambut, jemari tangan
dan potongan-potongan lidah
Bersama ikan-ikan yang berdarah,
tetabuhan dan harum dupa, para penari
memanggul sisa tubuhku. Menyelam
ke akar pulau. Mencari-cari suaramu
Pasir dan selat tak berangin
Di air alun serupa batu-batu nisan tua
Tekstur tulisan yang rumit, gambar ular naga
Dan sisik-sisiknya yang mengelupas
Berdiri di atas air
Di antara helai-helai rambut, jemari
tangan dan potongan-potongan lidah
Diamlah badan dalam sesaji,
asap dupa dan para penari
Dari Nusa Panida gemerincing langit memenuhi suaraku
2016

Peringatan

Langit melapisi punggungku dengan musim
paling dingin. Punggungku seakan terikat
balok es. Sayapku hitam dan berat. Tak ada
apapun yang diwariskan leluhurku
selain kesepian dan kesummat
Aku terbang sambil mendengar suara 
yang datang dari dalam kubur. Bila
kau mendengar suaraku kau sedang
mendengar apa yang sedang kudengar
Jangan tatap aku sebab setelah itu
kau tak akan bisa menatap apapun
Aku berasal dari jantung
seekor burung gagak. Degupku
menghembuskan kejahatan dan ketakutan
Bayang tubuhku atas danau membuat bulan
dipenuhi bangkai ikan. Sedang suaraku
mengandung gema yang mengubah rasa air
Ini musim paling dingin
Di punggungku kebosanan lebih
mengerikan dari kegelapan. Aku terbang
sambil mendengar kesedihan mendesis
dalam mulutku
Jangan mengingatku sebab setelah itu
kau tak akan bisa mengingat apapun
2016
Ahda Imron lahir di Kanagarian Buruhgunung, Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 Agustus. Kumpulan puisinya Pengunggang Kuda Negeri Malam (2008) dan Rusa Berbulu Merah (2014). Ia bergiat di Selasar Bahasa Kebun Seni bandung.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi 26 Maret 2016