Goresan Melodi Kehidupan – Rindu – Sendiri – Katamu – Fitnah

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Republika

Goresan Melodi Kehidupan

Mungkin goresanku buruk 
Tapi tidak berarti terpuruk 
Sebab pemandangan indah sebenarnya 
Tetap hadir di hati bagai 
melodi surgawinya 
(Lantai 3 Ponpes Musyq Kudus, Keheningan jelang Fajar 25- 01-2016) 

Rindu

Rindu
Semua terasa seperti itu
Bukan hanya dalam bayanganku
Ia sudah menyatu dalam diriku
Rindu,
Rasa haru saat bertemu
Ingin kuceritakan kisah-kisahku
Namun lidah ini terasa kelu
Rindu,
Rasa senang menerpa qalbu
Namun juga menyesakkan dada
Rindu semakin menyiksa
Rinduku
Tak peduli akan waktu
Aku ada, ia ada
Sebagai teman jiwa
Rindu akan suaranya
Rindu akan belaianya
Rindu akan nasihatnya
Rindu akan dirinya
Rindu
Entah bagaimana aku tak tahu
Mengapa selalu menemaniku
Dalam setiap langkahku
(Nggak sabar nunggu sambang orang tuaku, besok Ahad 7-2-16. Sabtu, 27 jam sebelum sam bang).

Sendiri 

Aku pernah berteman dengan sahabat sejati
Namun, keadaan memisahkan kami
Aku pernah berteman dengan dia yang suka memanfaatkan
Seiring waktu kemudian terpisahkan
Aku pernah berteman dengan seseorang pengkhianat
Kemudian berpisah di suatu saat
Kini, di putaran roda kehidupan keduaku
Masa-masa itu kembali diputar waktu
Aku berteman dengan teman baru
Penuh sensasi hangat dan seru
Hingga aku berteman dengan ia si baik
Namun, kutahu hatinya tiudak terlalu baik
Kemudian berteman dengan si muka dua
Kini, tak penting bagiku ia
Berganti lagi aku berteman dengan seorang pasif
Padahal, aku ingin selalu aktif
Waktu berganti, musim berlalu
Tak penting lagi mereka bagiku
Hingga detik ini kutemukan sang sejati
Kesendirian dalam diri
Hanya desau angin berteman
Dan dengannya, ku merasa nyaman
Ditemani kenangan yang semakin mengabur
Dan, dengannya ku terhibur
Di sampingku bayang masa lalu
Yang takkan lenyap oleh waktu
Kesendirian itu memang berat
Membuat dada sesak dan udara pengap
Namun, karenanyalah kita mengerti
Betapa waktu sangat berarti
Kegagalan memang ada
Tapi, itulah ujian kita
Mengertilah kemenangan sejati
Datang bagi mereka yang berusaha sepenuh hati
Mendengar tawa orang me mang menyakitkan
Namun, ia seolah mengingat kan
Betapa berartinya tawa canda
Saat kita bersama sahabat sebenarnya
Rasa sepi, sakit, dan hampa
Membuat kerinduan semakin menyala
Hanya desau angin berteman tak apa
Karena memang akhirnya kita harus sendiri
Bukankah begitu, wahai kesendirianku kini?
(6-2-2016)

Katamu

Bisakah nanti
Kurasakan arti
Kata dan nasihat yang kau beri
Kini membayangi
Mimpi ……
Kau kata kunci
Harta karun dalam peti
Yang tersembunyi di balik pelangi
Harapan
Ujarmu bukan sekadar angan
Takkan dapat dihentikan
Apa pun yang kau percayakan
Cita….
Itulah yang wajib ada
Semangat harapan jua
Dengan kata “Percaya”
dirimu berkata
Yang terpenting ada
Adalah selalu percaya
Adanya sayang dan cinta

Fitnah

Fitnah bagai api
Yang menjalar dengan cepat
Namun, seperti api, ia akan padam
Bila langit menurunkan hujan
Fitnah akan terpendam
Ketika datang sauh kebenaran
(4-2-2016)
Goresan pena Alfina Nurul `Ayni dalam Tuhan! Aku Merindu; Ontologi Puisi San tri. Lahir di Boyolali pa da Jum’at 10 Januari 2003. Siswi kelas VII-E di Madra sah Tsanawiyyah NU Banat Ku dus, serta santri pada Ma’had al-‘Ulum al-Syar’iy yah Yanbu’ al-Qur’an (MUS YQ) li al- Banat Kudus. Per nah memenangkan be be rapa perlom- baan puisi di Kabupaten Boyolali.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alfina Nurul `Ayni
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 17 April 2016