Gorontalo – Makam Aulia Raja Ilato Jupanggola – Danau Lamboto – Rambut Kesedihan – Mei Hwa – Saliung – Madah dari Utara

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Gorontalo

Aku bergayut pada tebing karang

Merayap di antara akar-akar damar laut
Dan pokok-pokok eboni. Sebuah kuali besar
Hamparan biru yang meruapkan buih putih
Tepinya melengkung tajam mengiris perbukitan
Sepanjang teluk. Tak kudengar deburan ombak
Hanya lambaian daun-daun kelapa yang sayup
Disuarakan angin lalu. Hanya serangga hutan
Yang mempermainkan waktu. Dari ketinggian ini
Dari puncak segala keheningan dan kesendirian
Kulihat sebatang sungai menerobos belantara
Berkelok-kelok membelah sawah dan kebun
Menyelinap masuk kampung, menelusuri kota
Dan menepi di kuala. Mungkin sebuah alur cerita
Atau sejenis airmata yang dikirimkan lubuk gunung
Dari belahan utara. Aku masih bergayut pada tebing
Ketika gumpalan-gumpalan awan pecah di udara
Dan kabut senja menguraikan tubuhnya sendiri
Menjadi lembayung. Kini pandanganku hinggap
Pada sebuah kubah hijau di pinggir danau mati
Di mana seorang orang tua selalu menebarkan
Aroma setanggi dari celah makamnya yang wangi
Konon orang tua itu seorang aulia yang rambutnya
Dipercaya telah memberkati hamparan samudera
Sedang janggutnya menumbuhkan jalinan akar
Yang mengikat tebing karang dan perbukitan
Menjadi dinding penyangga kuali besar ini
2013

Makam Aulia Raja Ilato Jupanggola

Delapanpuluh anak tangga adalah suara keheningan
Yang mengitari bukit dan laut. Delapanpuluh anak tangga
Adalah gema dari kediaman yang tak terdengar oleh telinga
Delapanpuluh anak tangga adalah petualangan tanpa rute
Delapanpuluh anak tangga adalah langkah penziarah
Menapaki lorong di hatinya. Delapanpuluh anak tangga
Adalah mantera yang dirapalkan pada segunduk tanah
Delapanpuluh anak tangga adalah celah gelap di bumi
Delapanpuluh anak tangga adalah jejak pengembara
Yang menulis di atas air. Delapanpuluh anak tangga
Adalah anak panah yang kembali ke jantung pemiliknya
Delapanpuluh anak tangga adalah takwil tanpa aksara
Delapanpuluh anak tangga adalah tahap penempuhan
Mendaki puncak tertinggi diri. Delapanpuluh anak tangga
Adalah tahun yang meninggalkan bulan dan matahari
Delapanpuluh anak tangga adalah kilatan pedang waktu
Delapanpuluh anak tangga adalah arah menuju peleburan
Yang jalannya licin dan curam. Delapanpuluh anak tangga
Adalah kelahiran dan kematian yang telah berganti tempat
Delapanpuluh anak tangga adalah nisan tanpa alamat
2013

Danau Lamboto

Diam-diam kauserap tubuhku

Baca juga:  Azazel
Ke dalam palung sunyimu
Pelan-pelan kauisap napasku
Ke dalam hening ombakmu
Kau kuburan tanpa kelambu
Ganggang dan kiambang berkelindan
Di lubukmu. Kau riak-riak rindu
Berderet nisan seperti rakit bambu
Diam-diam kautarik sisa kafanku
Hingga telanjang seperti bayi
Pelan-pelan kauciumi puting susuku
Hingga mengerang halus sekali
Kau sebuah ruang tunggu
Tak ada lagi kuda yang berperang
Di bening matamu. Kau dermaga waktu
Para pertapa khusyuk seperti terumbu
2013

Rambut Kesedihan

Di bawah jembatan tak ada lagi dermaga kayu

Tongkang-tongkang besi melintas seperti kelelawar
Sungai mulai beriak seiring meredupnya ufuk di barat
Dan aku membayangkan pasang akan segera datang
Ketika segala sesuatu terbungkus senja, apakah jarak waktu
Bisa diduga? Tak kuhitung berapa hutan yang terbakar
Tak kudengar suara akar gambut dari balik timbunan abu
Di tepian ini aku tidak sedang menggali bangkai cahaya
Kesedihan adalah lipatan-lipatan mega yang memadat
Lalu pecah di udara. Dan hujan adalah rambut kesedihan
Yang jatuh terurai ke haribaan bumi sebagai kata-kata

Kekasihku, sungai terus mengalir dan airnya kian meluap
Tepian mulai gelap dan aku tetap berdiri menunggu:
Di bawah rambut kesedihan yang lebat kutulis madah ini

2014

Mei Hwa

Aku mencari bunga mei jauh ke kampung-kampung

Baca juga:  Nabi - Makam Kita - Pencurian Sekarung Arloji - Aturan Sewa Rumah - Danau Purba
Tapi yang kutemukan bunga bangkai. Bersama tatung
Aku mengembara dengan sisa arak yang masih memberat
Di kepala. Malam ini aku ingin ikut pesta bersama hantu
Di kuburan aku merapal mantera, berharap wangi bunga mei
Memberkahi udara. Aku makan kue apem dan rebus ayam jantan
Minum kopi sambil dipangku amoy di bawah remang lampion
Tiga batang hio kubakar buat kejayaan dan kedamaian dunia
Aku mencari bunga mei sampai ke balik dinding vihara
Menyusuri warnanya yang ajaib pada tiap sisik patung naga
Aku menari sambil menancapkan ujung belati ke perut sendiri
Di langit yang bergaun merah muda nampak fajar mulai tiba
Aku mencari bunga mei sampai ke rongga terdalam jiwa
Menyelaminya hingga relung-relung hati paling rahasia
Terus mengembara bersama segenap rasa sakit dan gembira
Tiga batang hio kubakar lagi agar pintu sorga segera terbuka
2014

Saliung 

Aliran sungai kautandai

Sebagai tubuh yang terlentang
Di bumi. Lalu kuas yang kaugoreskan
Serta tinta yang kauserap dari hutan
Mengekalkan kuntum-kuntum mei
Yang merahnya mengkristal
Pada kertas sesaji
Puncak gunung kaumaknai
Sebagai payudara yang tengadah
Ke langit. Lalu dupa yang kaunyalakan
Serta arwah leluhur yang kauundang
Menjelmakan patung-patung dewa
Yang lidah emasnya menjulur
Dari kedalaman doa

Tungku gerabah kauberkati
Sebagai tangan yang memanjang
Hingga sorga. Lalu lempung yang kauolah
Serta kaligrafi yang kautatah pada setiap guci
Melukiskan jembatan gantung dari asap
Yang tiangnya melengkung di udara
Penghubung dunia dan akhirat
2014

Madah dari Utara

Alis matamu mengiris lengkung pantai yang kehitaman

Baca juga:  Malalayang - Bahu - Minggu Pagi di Pineleng - Epitaf - Terdampar di Muntok
Buih-buih putih seperti ujung lidah yang menjilat-jilat
Dari mulut biru. Pelipismu memantulkan paras langit
Ketika gerombolan awan kelabu menyisih entah ke mana
Deretan bukit seperti rangkaian gerbong kereta hantu
Yang meliuk-liuk mengikuti garis pantai. Daun-daun kelapa
Melambai-lambaikan tangan di sela rambutmu yang hijau
Dan matahari menebarkan kilau emasnya pada kulitmu
Hanya angin yang bisa meraba setiap lekuk tubuh
Dari seluruh keindahanmu. Hanya dingin yang bisa masuk
Ke balik gaun suteramu serta memetik bunga kantil di sana
Senja mengintip dari balik pelepah-pelepah pandan
Ketika gerombolan awan kembali memasang banyak tenda
Di udara. Langit merendah seiring datangnya ombak pasang
2015

Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Kumpulan puisi terbarunya adalah Like Death Approaching and Other Poems (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 16 April 2016