Hutan – Malam – Perempuan di Lingkar Matahari

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Hutan I

Ibu,
hutan sunyi
ibundaku mengaji di tapal pelangi
tafakur menghitung hari
janji jalin jemalin ronce langit
anakmu,
rindu masakanmu, Buk..
Hutan Ngawi, Mei ‘14

Hutan II

Melaluimu dengan lelah waktu
Tanpa khabar tentang rindu yang menghujam matahari
Bayangan aspal yang meranggas panas, kelokan demi kelokan
Lalu seratus khayal tentang perjalanan yang tanpa catatan
Menyelinap dalam lipatan rerimbunmu
Dimana kelopak mawar
Dimana air sungai yang mengalir
Dimana sekelompok kerbau mandi
Atau keniscayaan akan peluh ini,
yang mengajariku menjadi sepi
Hutan Ngawi, Mei ‘14

Hutan III

Berkelana mencari bentuk huruf demi hruf
Mencari kalimat persinggahan
Bukan kamu yang meronce tangis
Hanya air mata yang selalu mendegus mengabarkan kematian
Jati putih, para petani , pencari kayu, penjual kelapa muda, penjual
burung, warungwarung kecil
Mereka menyerupai awan, bergerak lalu mendung
Sebentar hujan lagi.
Senja duduk diperaduan, kemudian dipanggil malam untuk pulang
Aku diterjang magma khayal tentang kota raya yang angkuh
Tentang kemiskinan , dan tentang perempuan yang di serang rindu
Atau tentang harga bawang yang lucu.
Akh. Aku ingin turun, lalu menyentuh rumput yang tumbuh liar
Kemudian berbaring sebentar. Melihat bulan sudah melahirkan kekonyolan.
Hutan Ngawi, Mei ‘14

Hutan IV

Aku bersama fajar
Luka malam aku tinggalkan ,
Tanpa pamit bahkan sunyi pun aku campakkan
Petualang kecil dilipur jalanan dan puisi
Petualang kecil dijamu gelisah alam
Petualang kecil terkurung di rerimbun pohon jati
Petualang kecil harus berdiri , berjalan lagi, tuntaskan seribu
kembara
: petualang kecil kini telah ditunggu 4 malaikat
Hutan Saradan, Mei ‘14

Malam I

jengah menjengukmu
pinuspinus mengurut kalbu
bekas hujan tak nampak lagi
kau kawal bulan.
lalu kau tinggalkan begitu saja
pada bekas luka yang tak bisa terobati
malam ini, menghantam kekonyolanku
kini, aku melihat lakilakidan perempuan saling menyandera rindunya
tertawaku. pada pesta bulan bersabit.
Klaten, Mei ‘14

Malam II

ada yang termurung
di balik remangremang sajakku
kaukah itu, ketika rembulan perak
kau pecahkan berkepingkeping
padahal cahayanya masih kau sulam
Klaten, Mei ‘14

Perempuan di Lingkar Matahari

aku mendengar ceritamu
pada paruh malam yang rakus menggulita
geram kau dibakar seribu kelelawar
terpasung kau memuja air mata
linang, mengalir
suratmu yang terakhir, berkata ” Mas, maaf aku pinjam belatimu “
darah menjadi prasasti
siang itu
matahari mengumpat dendam
lelaki tanpa alamat , mati , tanpa kelamin.
Klaten, April ’14
Dendy Rudiyanto. Penyair, Cerpenis, Aktivis kesenian tinggal di Klaten. Karya-karya puisi /cerpen yang pernah dibukukan, antara lain, Batu Beramal II, Bangkit I, Antologi Kelompok Sastra Mangkubumen
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dendy Rudiyanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 10 April 2016