Karena Tanjungkarang – Ingin Jadi Asap di Ujung Rokok – Ketika Aku Pohon, Kau Ingin Jadi Taman – Sebab Pohon – Kepalaku dalam Kepalamu

Karya . Dikliping tanggal 18 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Karena Tanjungkarang

karena tanjungkarang tak lagi ramah
kini biarlah kota yang telah menanam
ariariku
hanya kenangan, cukup untuk kuingat
meski kelak membawa usiaku
jadi humus jadi lumut jadi sampah
dan petugas kebersihan mengangkut
pada pagi
menuju bakung atau pantai telukbetung
bertumpuk lalu dilayarkan

usiaku jadi perahu dan ke bandar-bandar
ia akan sandar – ke dermaga dermaga
ia ucapkan luka; kota yang pada, jendela
mobil melambai. sulit mencari sampai,
usia selalu ditelikung di jalan

kalau tanjungkarang sudah tak ramah
menerimaku
cukuplah ariariku yang ditanam ayah
kelak hanya sebagai sejarah…

2015/2016



Ingin Jadi Asap di Ujung Rokok

ia ingin menjelma jadi asap
di ujung rokokku
agar terbang dan menari
ke udara juga imajiku
sebagai pedansa di lantai licin

Baca juga:  Residu Rindu - Catas Trophe - Insomina

di peluk ujung rokok
di puntung jalan itu

ah, tak kucari kotak lain
nama yang dulu

selalu kurindu
kuisap seluruh asap!

24 Maret 2016




Ketika Aku Pohon, Kau Ingin Jadi Taman

ketika kusebut ingin jadi pohon
kau pun mengatakan mau jadi taman

di bumi yang tak ada lagi surga
kita pun tumbuh dan subur
dari jutaan kutuk
serupa ular di kebun yang lain

aku ingin jadi pohon, kataku
aku adalah tamannya, ujarmu

Baca juga:  Jumprit - Bodoh - Yang Berlalu - Semut Jantan - Aku Seperti Puisi - Tinggal Angan - Ingin Aku Jemput Kau Malam Ini

lalu pohon dan taman
berkawin hingga hilang

2016


Sebab Pohon

aku tahu, sebab pohon
kau pun dipanggil taman atau hutan
lalu para pencari cinta menjadikanmu
tempat bertemu dan mengais udara
di ceruk paling kelam, kalian himpun
masa datang dan pertikaian
hingga petaka berulang

2016

Kepalaku dalam Kepalamu
dari air dan tanah aku menjadi
meninggikan batang
               melebarkan ranting
ke langit tinggi
               ke luas bumi

dan kakiku hunjan ke ulu tanah
jadi perisai             jadi pemisah
membendung segala air
jika hendak jadi bah

Baca juga:  Di Mana Alamat Rindu

bermula dari tanah, air yang
menghidupkan. udara menguatkan usia
ke tinggi langit
                          ke ruangruang bumi
                   ke kedalaman jiwa!

kau sebut apa aku
jika hidupmu dalam genggamku
ketika bandang, topan, puyuh
lindu bertamu?

aku tetap pohon
betapapun kepalaku
ada dalam kepalamu

15 November 2015-28 Maret 2016


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Isbedy Stiawan ZS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu ke-3, 17 April 2016