Kemarin Sudah Kutebus – Ku dan Kau – Racau – Biola – Childish – Sembap – Tunas

Karya . Dikliping tanggal 24 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Kemarin Sudah Kutebus 

:K
sehingga awan membuatku tengadah
pada kaca jendela yang tergores jamur
ah, kutemukan lagi seribu hal
yang
cuma aku pulang lagi
; padamu

Ku dan Kau 

: ab
berlarilah ke tikungan
untuk meneropong malam
yang tiba-tiba jadi lebih pekat
oleh keringat yang lekat
pad apipimu
dan… aku terpana
mengiranya sebagai air mata
tiap sampai pada bait lagu
buat seorang perempuan lucu
pengalun suara syahdu
pemutus mimpi
ku dan kau

Racau 

: K
membiarkan kelopak kuning merah mengering
madu tandas oleh semut-semut pengangkut
kehidupan
tukang gambar mencari sudut
sesaat
ada dalam kotak datar tipis itu
bukan, bunga yang membayang,
hanya; wajahmu

Biola 

: rasjg

1
sembuhkana duka pagimu
dan banting kembali pada lebam
yang ada pada kata-kata cinta bisu
lirik-lirik lugu dan air mata garu
2
kekasih tanpa warta
membuka satu sisi jantung dan membiarkannya lenyap
kering sudah darah
songsong hari yang kosong
3
di Selandia Baru
dingin dan hangat menyatu
sampai dua tepukan jari mengganggu 
dan terjamu sungging bibir sayu
gadis pejalan kaki urung pergi
alunan biola meremat kemarin yang lewat

Childish 

–aku ingin terus menjadi kanak-kanak
ketika Bening mengambil tiga buah buku
menatap satu-satu buku itu penuh ragu
Ariel duyung, Cinderella berhati emas, Zorro
matanya lekat-lekat menatap
berganti pada kulit jemari dan kulit buku
dan dilayangkan matanya pada gelap
; lalu ditusuknya bintang-bintang untuk satai
diraupnya awan yang selalu ia ragukan
; apakah semanis kue kap bikinan mama?
berhentlah Bening pada daun-daun kering
barangkali
serenyah keripik kentang?
oh… Peter Pan , merasuki Bening
sementara kepiting di ot kotor jadi yuyu kangkang
sang penyeberang istri Ande-ande Lumut
oh… Peter Pan menepuk kening Bening 
“Mama, adakah kue gula?”
kali itulah matanya menangkap cahaya

Sembap 

:n

pasa wayang membayang 
malam yang tidak ingin dipertukarkan
dengan barang-barang barteran
sebab aku membungkus rapat-rapat 
asap rembulan dan dengung kecil nokturnal
pun memori yang hanya berulang
tiap kali kau singgah lagi sebelum pulang
–sajak tanggung pada panggung riuh
oleh percakapan kita yang mengembara
–sembab, kini bertanya kapan
langkah bakal kembali menginjak
semburat blencong
isi….

Tunas

Lima tahun kutanam seruas
tunas yang tak sengaja kutemu
di bawah lubang sempit 
tempat kau menjerit dan berdoa
pada Tuhan
lima tahun kutimpuk dengan 
beberapa butir garam yang beku
tidak terlalu asin –tapi sungguh seru
hingga tunas itu menyeruak
waktu.
lima tahun kuberi ia pembicaraan-pembicaraan
meski ia bukan mawar, dan aku bukan
pangeran kecil.
sewaktu-waktu kau masih pulang 
–yang kau tak tahu? di situ tunasmu 
sudah berbenalu
Bunga Hening Maulidina, lahir 7 Agustus 1995. Belajar di UNS Surakarta, anggota diskusi kecil. Beralamat di Clupak RT 25, Mojopuro, Sumberlawang, Sragen. Kontak di bheningm@yahoo.co.id
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bunga Hening Maulidina
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 24 April 2016