Kulepas Kamu – Tuhan dan Ibuku – Sang Koruptor – Masjid Nabawi – Surat Untuk Rasul

Karya . Dikliping tanggal 24 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Kulepas Kamu

:bianglala andriadewi

pada ruas waktu
jarum jam berdetak iba
letih terdera
gelap dan cahaya saling membusungkan dada
menjaga kalah yang menolak disandarkan
— kulepas kamu
pada ruas waktu
jarum jam tak lagi bertegur sapa
memandang nanar
angin dan debu mengabut
langit kian penuh mimpi orang-orang papa
— kulepas kamu
kulepas kamu
di tengah belukar kegaduhan
jiwa-jiwa telah membatu
merampas langkah pandang
tetaplah menyemai tiap jengkal waktu
bersama bulan dan matahari
tempatmu kelak menjadi permaisuri
di antara para bidadari
— kulepas kamu
semarang 2016

Tuhan dan Ibuku

doa-doa hanya menjadi pelengkap kesadaram
menggelombang berarah angin
terperangkap gumpalan awan
luluh lantak berantakan
doa-doa adalah ribuan serangga
mengulang jejak dalam pendar cahaya
tak berapa lama
terkulai berserakan
tuhan,
aku mohon engkau mengubah kebijaksanaanmu
untuk ibuku
dalam kebimbangan
aku gagal melafalkan ismul jalalah
menjelang detik-detik akhirnya
kepadanya aku tak pernah putus berhutang
wa qina ‘azabanar
wa qina ‘azabanar
wa qina ‘azabanar
semarang 2016

Sang Koruptor

kutemukan sepasang matamu
di antara puing-puing kota yang terbakar
ketika angin mulai lelah mencumbu sisa pusaran api
lantas apalagi yang akan kamu cari
di negeri leluhur ini
hutan sudah tak punya tempat
bagi matahari yang ingin sekadar singgah
desa-desa berhamburan lintang pukang
berlindung gumpalan awan negeri seberang
tapi lenguh birahimu masih menghampar
saatnya nanti
tulang belulangmu akan dijaga nyalak anjing
berwaktu-waktu
semarang 2016

Masjid Nabawi

aku ingin mengajakmu pulang
untuk lelah dan amarah
yang tak pernah tertuntaskan
wahai kekasih
aku akan tetap senantiasa terjaga
untuk rindu yang kau kirim sewaktu kelak
medinah 2015

Surat Untuk Rasul

hujan sering bermalam
di rumah yang kau wariskan
angin dan kabut diajak serta
gemuruh membadai
di luar kunang-kunang berhamburan
di atas rimbun ilalang
riuh dalam sorai
tapi hujan kian deras berderai
entah sampai kapan
allaahumma shali ‘alaa sayyidinaa muhammad
wa ‘alaa aali sayyidinaa muhammad
semarang 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agoes Dhewa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 24 April 2016