Menjadi Juru Cerita – Terbangun – Tentang Cerita – Jatuh ke Dalam Sepi – Meredup – Biografi Sepanjang Aku – Berbuka Puisi – Pigura masa Lalu

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Menjadi Juru Cerita

Kau tahu, kawan
sejak dulu, aku tak bisa
menjadi juru cerita yang baik bagimu
dan itu membuatku berasa
amat berdosa.

“Tentang kota-kota berwajah pucat,
debu-debu menempel di bajumu,
dan tentang-Mu singgah di ruang tamu”

Terbangun 

Dirimu yang berbaring di lantai
tergelitik oleh pagi telah naik
seperti mimpi, dan memang hanya mimpi
bilang, tak bersuara–memekik

Tentang Cerita

Setengah cerita lenyap, karena tak layak. Ka-
ta-kata pun
tak menjadi panjang lebar. Seorang anak
membaca hanya 10 baris saja.

“Jam sebelas kurang sepuluh menit. Aku me-
langkah. Angin tak menyapaku. Sepertinya, ia berkhianat atau bersembunyi. Sedang yang
kulihat, hanya lukisan perempuan telan-
jang–resah dan gelisah. Aku lengah.”

Itu, beberapa cerita yang terbaca.

“Ada apakah di dalam cerita itu?” Aku bertanya.

Baca juga:  Bangun Tidur - Menyapu - Sarapan - Sebelum Tidur Siang - Bangun Tidur Siang

Jatuh ke Dalam Sepi

Aku jatuh ke dalam sepi
mengaduh di ruang purba
sambil mencari-cari
diri yang tak tua


Meredup

Di bulan Juli,
dan dingin mulai menggigit,
mataku redup.
Kata-kataku pun mulai meredup.
Aku telah meninggalkan cerita,
dengan tiba-tiba…

Biografi Sepanjang Aku

Umurku bertambah. Tubuhku menetap da-
lam kalender-kalender terputar waktu. Di
situ, biografi diriku berjalan tak menentu.
Menunggu kepastian bersama buku-buku
yang aku baca. Aku pulang hanya mencari ke-
laparan yang tak pernah aku lumat. Jam ber-
detak mencari kematianku. Kematian yang
tersimpan dalam jantung Tuhan. Aku dan Dia
sepasang benang terputus. Tak pernah ter-
sambung, yang kini hendak menyambung.

Rumah, menjadi antologi sunyi. Menawarkan
putih kehampaan tak terbalut hitam suci. Pu-
ing-puing diriku terperosok dalam sumur tak
berujung. Tak ada air mata, tak ada mata air.

Baca juga:  Tempat Tinggal - Penyair

Burung-burung yang pernah kubaca ter-
perangkap dalam huruf. Berumah dalam
literasi, sampai akhirnya terpanggang oleh
waktu. Sepatu-sepatuku melompat pada
jalan kematian. Mencari-cari sejarah luka,
yang tak pernah tercatat oleh kamera.

Kameraku mati. Yang tersimpan hanya lumut
masa lalu, tak pernah terurus olehku.

Kesunyian layang-Layang Putus
Aku menyanyi di antara kesunyian layang-
layang putus
terombang-ambing angin,
dan sedikit demi sedikit merobek.

Berbuka Puisi
Waktu telah senja
anak-anak lari dari kelaparan
mereka tak lagi ke sana
ataupun ke sini

Mereka kembali ke diri
tuk membuka perasaan
lewat puisi


Pigura Masa Lalu

Tebing-tebing batu, berjalan kaki melewa-
ti hidupku
tak seluruhnya tertinggal ataupun pergi
masih ada yang tinggal berdiam diri menung-
gu jawaban dariku
dan ada yang pergi, membunuh hubungan ini

Baca juga:  Sisa Kita

Aku, satu-satunya obyek yang ingat tentang
bunuh diri

Pada-Mu
Tak ada jejak-jejak luka, derita, apalagi asa
yang kutuliskan pada-Mu dan aku
hanya diam, diam, dan diam
menggigil di antara demam-demam

Ayat-ayat suci mampir ke dalam diri

(2013-2015)




Budiawan Dwi Santoso, pengelola blog: budiawandwisantoso.wordpress.com. Puisi-puisinya termaktub dalam antologi buku Menguntum (Jagat Abjad, 2011) dan antologi puisi Pendhapa 13 (Tb-JT, 2012). Cerpennya termaktub dalam buku Berbeda (Jagat Abjad, 2012). Antologi puisi tunggal: Sekejap (Jagat Abjad, 2013).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budiawan Dwi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 10 April 2016