Negeri Tercinta – Surat kepada Keadilan – Revolusi Mental*

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Negeri Tercinta

tak ada rasa bela
apalagi sungkawa
di negeri yang kucinta
: rindu pada kursi berwibawa
serta sangat sederhana

Jember, 12-03-2015


Surat kepada Keadilan

yang terhormat keadilan
harapan rakyat pinggiran

salam rindu

tirani penuh belenggu
memperbudak nafsu-nafsu
: tanah, udara, gunung, dan batu
diperas tanpa rindu

penguasa hilang rasa
cinta kasih tak berjiwa
: potret kehidupan berbangsa
dipenuhi bermacam dusta

yang terhormat keadilan
mohon surat ini direnungkan

salam rindu

tertanda
: generasi yang terbelenggu tirani

Baca juga:  Semua akan Puitis pada Waktunya - Aku Mencari Diriku pada Selembar Wajah

Jember, 12-03-2015

Revolusi Mental*

ini masa kata Ronggo Warsito:
“zaman edan
kalau tidak ikut edan tidak kebagian”

revosuli mental hanya sebatas puisi
pak hakim ikut korupsi
pak jaksa ikut korupsi
pejabat apalagi
katanya negeri demokrasi
demokrasi yang bagaimana?

revolusi mental hanya sebatas ilusi
BBM naik
subsidi ditarik
pajak juga naik
katanya untuk pembangunan
pembangunan yang mana?

ini masa kata Ronggo Warsito:
“zaman edan
ikut edan tak akan tahan”

revolusi mental sudah mental
utang luar negeri ditambah
rupiah anjlok
sembako naik
katanya untuk rakyat
rakyat yang mana?

Baca juga:  Rongga

revolusi mental sudah mental
peraturan dibuat sara
agama dikambinghitamkan
nama Muhammad dipermasalahkan
katanya untuk kemananan
keamanan siapa?

revolusi mental sudah mental
reformasi dibuat terasi
Pancasila hanya dibaca
koruptor dipelihara
katanya demi HAM
HAM yang bagaimana?

ini masa kata Ronggo Warsito:
“zaman edan
menyaksikan zaman edan,
serba susah dalam bertindak”

revolusi mental tanpa mental
penegak hukum saling hantam
contoh polisi-KPK
jadi serbalucu tak karuan
katanya negara hukum
hukum apa?

Baca juga:  Kesaksian Burung Manyar

ah benar kata Ronggo Warsito:
“pada zaman edan
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang ingat dan tetap waspada”

semoga aku tidak ikut edan

Jember, 23-03-2015





*) Muhammad Lefand, lahir di Sumenep, Madura. Kini tinggal di Ledokombo, Jember. Lulusan Universitas Islam Jember.





Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Lefand
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu, 10 April 2016