Puisi Asap

Karya . Dikliping tanggal 23 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

1

pada rak terbawah di etalase kiri, pada seksi
ekologi indonesia di frankfurt book fair itu:
tersipampang seplastik asap orisinil–terlihat
galau, menggeliat sehingga itu disegel rapat

tidak akan tergambarkan oleh bahasa apapun
–tapi bila itu dibuka: terdengar gemuruh api
membakar hutan, jeritan hewan terpanggang
serta dengking napas manusia tercekik asap

“itu semuanya konkrit–kontekstualitstik”
katamu. semua itu menembus selat serta laut,
serupa isyarat dari si kuku kaki terbakar, aura
jangat serta daging yang mulai terpanggang

meski tuna kecap serta garam, telanjang bagai
data ekspor terbaru–free bonus: produk lokal

2

alam kebakaran hotel bintang lima itu
bersilengking terpapar asap rokok–itu,
padahal, baru tiga hisapan

si manajer hotel telepon, mempersilakan
santai di kolam renang, dekat dinding pas
mendekat ke perkampungan kumuh

atau naik ke puncak, menyimak panorama
malam: mempertimbangkan meloncat atau
pelan-pelan lambat-lambat merokok

Baca juga:  Filosofi Bubur - Filosofi Bibir - Agar Bibir Tak Jontor - Sarapan Bubur di Neraka

: kenapa tak mengirim aku ke borneo tengah,
ke asbak besar tempat segala terbakar, serta
paru-paru primata mulai terpanggang?


3

itu surga di hari tua: berkebun sambil santai
menghangatkan tubuh setiap pagi. selingan
di masa pensiun di masa tidak berguna

menunggu sirsak matang, bagi cucu yang
berkunjung sabtu-minggu–atau: tetangga
yang nanti akan ikhlas menguburkanku

dan di sore hari membakar sampah kebun
: daun kering gemeritik, saat sisa minyak
nabatinya menguap disengat api kecil

mengusir nyambuk dari rumah lewat jendela
yang dibuka lebar. dipampangkan, sebelum
dikunci sepanjang malam di saat terlelap

lupa kalau perdu serta pohon–bukan cuma
daun–dibakar, dan asapnya menyerbu kota
: memanggang anak-anak + orangd ewasa
metoda kasar menurunkan harapan hidup

4

budaya sunda sangat patriarkik. mereka suka
mencumbu anak lelakinya dengan panggilan:
asep–kasep, tampan–dengan rayuan aa

bagus atau gus kalau di jawa, sumatra serta
borneo menirunya, dengan membuat asap–
dengan massal membakar perdu dan hutan

Baca juga:  Last Train To - On Track - Stasiun - Ekspres Malam - Takaruf - Madiun-Ponorogo - Time Roll - One Way’s Ticket - Slowmotion

malahan mengekspornya ke singapura serta
malaysia–seperti kita membanggakan awan
debu kekal letusan krakatau dan tambora

dan kamus di neka bahasa di duniapun akan
suka rela mencatat kosa kata baru–diksi aa,
dari runtuk-kutuk anjing, anjrit atau asu

5

arang membara itu basis kuliner khas–sate

ranting dan dahan pilihan dibakar di dalam
rongga yang tertutup tanah. asap mengepul
karena pembakaran sengaja kurang oksigen

di saat yang tepat: segera disiram dengan air

: ranting dan dahan akan menghitam. sisa api
pemanggang tak memusnahkannya. itu basis
kuliner khas: surabi oncom, bakmi nyemek

sekarang mereka sedang mengolah menu rusa
atau orang-utan-garing, menu instan siap sedu
–cukup tinggal disedu dengan air panas saja

lagi berpesta: pengantin atau pengayau arang

Baca juga:  Jantung Kerupuk Tiga Seribu - Pagi - Kenapa Saya Berhenti Menulis Sajak setahun ini - Pohon Kelapa yang Tumbuh do Belakang Rumah - Jalan Maut

6

sebubungan asap dari sekitar 70 hektar hutan
terbakar, disedu 15 penerbangan dari pesawat
pengangkut a 20 ton air tawar atau payau

bunyi desis mirip aneka bumbu nasi goreng
digongso–sebelum udang, sosis, telur, dan nasi
dicampurkan serta terhidang di meja makan

kemudian bersandar: menyimak televisi, sambil
membaca koran dan bergurau tentang gosip artis
–menanti hidangan penuntup yang selalu telat

secangkir kopi serta sebungkus rokok–indonesia
itu surga untuk orang usil serta terlengas. katanya
“selalu seperti merokok di ruang tertutup ber-ac”

2015

*Beni Setia: pengarang tinggal di Madiun




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu ke-4, 24 April 2016