Sektarianisme Sajak – Elegi Nelayan Karam – Elegi Jawa

Karya . Dikliping tanggal 24 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Sektarianisme Sajak 

: Save Penyair

Bukankah itu puisi?
melingkar pilu
compang-camping ia mengetuk batin
tanpa bertabur angan mengurai bijak kata-
kata
yang terpajang menghias beranda
namun tetap niatan merayu kerling
membenam tatap lekuki aksaranya:
khayal!

Bukankah itu puisi?
kini terkulai ia merapal tangis
meratapi hendaya makna berkias
separuh diksinya buntung
darah baitnya tercecer
menggenangi muara jalan-jalan berliku
terkebiri luap emosi sastrawan bingung

Bukankah itu puisi?
dan kita hanya berdiri mematung
resah, seraya melumat degupan jantung
memutar arah arusnya
memunggungi amarah serta serapah
yang terlahir dari jerat nestapa linglung

Itu puisi, sekarat!
tergilas warna racau kata
yang keji memutilasi raganya
mengikis habis napasnya
kala memperjuangkan satu nama
penyair di puncaknya

Baca juga:  Penyeberangan - D. Zawawi Imron

Cileunyi, 2016 


Elegi Nelayan Karam 

Tuan, hendakkah kembali bernapas?
mengais sisa di batas kisah
mozaik sempurna bagi mereka
entah bagimu

Pada palung-palung sempit, kaku
tak terbalut kafan, terlarung segumpal mimpi
sunyi
dirimu tak dapat rasa detak, berpulau-pulau
pada sajadah-sajadah panjang, bergumul doa
iringi wangi dupa, tersayat ratap isak
erami jiwa-jiwa menanti

Tuan, sadarkah?
biduk kokohmu lumat, menyisa patahan
cadik
tatap karang dan terdiam mengenyam garam
membelah lautan dalam
sekian purnama terdekap ruang dingin
gelap mengabur pandang
dinaungi renik-renik

Dan di atas sana terngiang debur ombak
menggiring pesan pada lembaran jala
hingga tercabik istri dan anak-anakmu
urai sembilu

Baca juga:  Di Kuil - Bayangan Langit - Pagi di Kebun Kubis - Mengantar Ibu - Setangkai Teratai

Maka sudikah berbalik, Tuan?
susuri tapak tertuju di balik punggungmu
serap genangan luh tanpa belai raga

Cileunyi, 2016 

Elegi Jawa 

Yang terlukis hanyalah waktu
menjaja di persimpangan semu
pilu meraja mengusam bayang-bayang
perawan-perawan renta, janda-janda garang
tutup usia digilas heiho berangan
Nippon tak pernah mati muda dibidik zaman
istana seribu cahaya memancar
kepala romusha ditempa sekeras batu
diberondong akal borjuis menumbuh lugas
dari kernyit mata-mata sipit, sudut-sudut
sempit
kuasa menari-nari di kubangan semesta
tangis melucuti jiwa
hina melucuti Jawa

Cileunyi, 2016

Baca juga:  Matahari Turun di Kota Yogya - Sampai Hujan Tiada - Lelaki di Pinggir Rel

Fernanda Rochman Ardhana, Lahir di Jember, Jawa Timur, 27 Februari 1991.Beberapa tulisannya berupa puisi, cerpen, dan resensi terbit di beberapa media cetak nasional dan lokal. Antologi bersama puisi antara lain, Kumpulan Puisi: Sakkarepmu! (HMGM, 2015). Serta sebagai pengantar buku Kumpulan Puisi: Aksara Napasku (Pustaka Kata, 2016) dan Simfoni Jiwa (Pustaka Kata, 2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fernanda Rochman Ardhana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu 24 April 2016