Selepas Musim Gugur – Katakanlah – Hujan di Tepi Musim

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Selepas Musim Gugur 

selepas musim gugur salju bernyanyi, angin kekal
dingin tersebar dari ranting dan daun
menerjang pandangan
tersesat
jauh ke persembunyian

malam merajuk, minta dibelikan pizza
yang renyah, panas, menggoda mata
mengalahkan rindu tersaruk di dinding kamar
memetakan beku yang mengutuk penuh nanar

jiwa-jiwa terasing surut ke balik awan
warnanya kelabu bagai senja rawan
m e n g u ra i a l m a n a k , t a n g g a l t a n g g a l t a k m a u
berguguran
setelah setia menunggui perapian

dengan wajah penuh mimpi
mengira-ngira, apakah di musim panas tahun ini
bulan masih tergores
oleh bayangan
kekasih

Hull, 2013



Katakanlah

katakanlah, angin terbang
menusuk jantung
lalu aku berlalu dari hari-harimu
apakah akan kau sedu kamboja
dan burung gagak enggan melintas dengan jumawa

Baca juga:  Orang-Orang dari Beijing

katakanlah, kenangan melagukan kisah kita
bagai bait-bait paling sedih di novel kita reka
apakah awan akan tetap turunkan hujan
menyuburkan tanah yang telah lama tak kau pesiang

akarnya mematahkan rindu, dalam puisi luka
menjadi tong sampah
yang dulu menjelma huruf sajak masa kecilku
bergegas koyak
dihimpit musim
beku

bernyanyilah, simpan semua kata
diam sudah lama ingin diajak serta
sebagai mimpi paling sempurna

Hull, Januari 2015



Hujan di Tepi Musim 

Hayan

cuaca tak mengizinkan kita tamasya
ke ujung dunia
setelah program televisi yang kau nanti
meriap laksana salju
menggusur daun-daun tua

Baca juga:  Seseorang Menulis tentang Kematian - Magrib Tiba - Prasangka - Musim Hujan - Ilusi

kita habiskan kentang terakhir
sambil berteduh di halte sempit
menyambut bus merah pengantar sunyi
menghitung wajah-wajah skizofreni

pohon-pohon kurus berdiri kaku
mengiringi sejuta kepergian
bagai tak henti bertanya alamat yang hilang
oleh cuaca gersang
mencoreng buku peta dengan puisi tergesa
tak sempat memposkan coklat
ke alamat penguasa

di Spring Bank kita turun, hujan mengurung
kuceritakan pelangi, sebuah negeri di timur
kau katakan ingin segera ke sana
menjemput bidadari
yang berdiam
di lipatan
jas hujan

Hull, Maret 2013





Mohammad Isa Gautama lahir di Padang, Sumatra Barat, 21 November 1976. Puisi dan cerpennya tersiar di berbagai media massa nasional dan lokal. Antologi puisi bersamanya antara lain Pesan Camar (Dewan Bahasa dan Sastra Malaysia, 1996), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung, 1996), Slonding (Yayasan Selakunda, Bali, 1998), dan Baruga (Taman Budaya Sulawesi Selatan, 2000). Sehari-hari berkhidmat sebagai pengajar di Universitas Negeri Padang.









Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohammad Isa Gautama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 10 April 2016