Tanggomo Lumbung Beras – Tanggomo Kucing Nabi – Tanggomo Sirih Pinang – Kepada Tisu – Tanggomo Pohon Rotan

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Tanggomo Lumbung Beras

Setiap bulir berasmu akan disimpan
dan dihitung dalam lambungku;
aku lumbung beras bebas tikus,
bebas kutu, bebas serangan
penyamun dari Limututu.
Empat matra mantra telah
ditanam di empat penjuru
dijaga wawalo berbulu biru
yang senang memamah umbut
seraya bersenggayut
pada jeruji dan ambang pintu.
Setiap bulir berasmu akan kujaga
sebagaimana hutan menjaga udara
namun, tak ada yang bisa kukatakan
jika yang kau simpan benda curian
sehelai bukan kain, berkilat bukan ingatan
namanya kerap disebut oleh para pemburu
kabut–para mombuwa bernyawa serabut.
Yang menumpuk akan terkeruk, yang berlapis
bakal menipis, dan yang tersekap kelak tersingkap.
wahai pencuri, wahai pencuri, aku tahu yang
tersesat di matamu yang sirap, di mimpimu yang sepi
Kau harap rambutmu tak pernah putus, tak pernah timpas
tatkala segulung cahaya menimpa permukaan telaga,
selalu bertenaga layaknya jemari kata-kata
yang ingin menembus tangis seoranng dara.
Namun, jika akhirnya engkau ditinggalkan
tak ada yang bisa kukatakan
dan tak ada yang bisa disalahkan
selain sebuah bidikan di bibir periuk
dan sebentuk lubang yang menganga di dada
2016

Tanggomo Kucing Nabi

Wahai tuan yang hendak emnggapai dahan
memanjatkah perlahan. Sangat perlahan
angin ribut akan datang sebentar lagi
secepat kelebat peri dari Kotabunan.
Lihatlah langit bergelombang dan bergoyang.
sebab seseorang meniup nafiri untuk setiap waktu
yang hilang–setiap kesempatan yang terbuang
sejak kau mengajakku bicara dan bertanya,
apa arti kucing dengan bulu belang di pinggang;
apa arti permadani yang digulung di tepi ranjang;
apa arti kembang sepatu yang diadu dengan parang.
Aku adalah kucing kesayangan nabi, masa laluku
semadi panjang, mataku senyala siang.
Akus erdadu yang berjaga  di betis pokok rotan
sebab tak ada yang lebih rentan terkerat
selain kesetiaan.
Kelak akan kuceritakan kisah ini hanya kepada
yang percaya; seorang pencuri telah pergi ke
langit buat menebak warna petang dan memetik
buah hitam yang disangkanya puisi.
Pergi sembari menghunus amanat sungai, rimba
dan dusun, yang sekilas bak pias pusara sebelum
kabut gunung melepaskan diri dari samsara.
Wahai tuan yang hendak mencapai khayangan
merataplah perlahan. Sangat perlahan
sebentar lagi bakal kau dengar: sayap-sayap
peri berdengung dan bergetar, seperti kidung.
seperti kengerian yang ditebar
2016

Tanggomo Sirih Pinang

Kami jatuh sebagaimana
jatuhnya seorang tiran
seumpama lirih rintik
hujan atau ringkih biji-bijian
dari seulas bibir kami mengalir
melintasi dada bidadari
yang telah bosan merenda
dan berlari
Kami disepah seperti serapah
ludah merah yang lerah beruntun
percik pertama jatuh di jidat,
percik kedua merambah jakun,
dan percik ke tiga pecah di ujung
hidupng yang menuding awang-awang.
Kehangatan kami hendak
mengoyak tidur seseorang
membangkitkan segala syak
dari kesadaran yang kerontang
membercak dan tergenang
di atas derita manusia
seolah kami utusan dari
yang tinggi kepada yang fana.
Ini adalah kejatuhan sempurna
pelengkap murung wajah
gunung Tilongkabila.
Sang bidadari hanya ingin kembali
sejak bumi memberinya remai tungkai,
lecet buku jari, dan secarik dukacarita.
Maka bangunlah, pencuri, bangunlah
rauplah wangi kami dan
tengoklah angkasa hampa
ada yang telah pergi sembari
mengolom mimpi sebiji pupa.
Meninggalkanmu. Ya,
meninggalkan kau di rimba raya
2016

Kepada Tisu

Sehelai tisu barangkali
dibikin dari biji hujan
di mana cuaca adalah mata
seorang ibu–selepas jalanan
dikosongkan oleh sebelas
magasin peluru.
Sore itu, jendela-jendela
bergetar merangkum suara
lelaki renta di kampung yang
jauh berjalan pelan sekali
memang semesta sedang melata
sementara waktu menikmati
peran sebagai seutas tali.
Kepada tisu aku bertanya
mana yang lebih dulu tiba,
kedatangannya atau gedebuk
pepohonan yang berat bak
empas napas penyesalan?
Dosa siapa yang hendak kita
lap seusai nalar tergenang
dan tangisan tak tercerap
percakapan terbuat dari kertas
yang tak gampang terurai tapi
mudah terbakar, sementara
stasiun-stasiun televisi
menebarkan racun di udara.
Sehelai tisu diremas lalu
dilempar ke kolong meja
tempat hantu-hantu meringkuk
sembari melepas cerca:
“Manusia sungguh celaka.
Manusia sungguh celaka.”
2016

Tanggomo Pohon Rotan

Telsh kusaksikan  kekasihmu terbang
ke Owabu; negeri yang menolakmu
gerbang tersembunyi bagi lelaki
yanng letih mendengar kutuk
dan dusta benda-benda mati.
Leluhurku batang balas di lambung
perahu, tahan beban dan amukan waktu,
sahabat suku bajau dan kawanan lemburu
yang kerap meregang nyawa di laut biru.
Maka tak perlu kau heran jika hal 
terakhir yang kuhiraukan adalah pesan
untuk bersunyi-bersembunyi dari
pencuri yang kehilangan arah berahi.
Naiklah, naiklah ke busur panggungku
jika kau hendak menyusul perempuanmu
akulah Hutia Mala yang hendak membelah
kota-kota, mendedah jejak kata-kata
perhentian pertama adalah pakusina
tempat orang-orang suci dihina,
dirajam, atau dipaksa berjalan melata.
Dengan tujuh tempayan minyak
urapilah segenap urat dan belak
lupakanlah segala semerbak
sebab kematian terlalu berharga
dan kejatuhan sukar dielak.
Bertahanlah sebelum melewati pintu-pintu
dua penjuru: Masariku dan Magaribu
akan kau lihat langit jadi merah labu
dikoyak kepak gagak dan kibar layar rompak.
Sementara Kota Dakusina di lembah sana
tersandar bak anak udik duduk di singgasana
sebab kelak ada yang mengutip batu-batu api
dari lembar-lembar kusam kitab suci
buat dijatuhkan di tempat itu sekali lagi.
Namun ini bukan ujung jalan
sedikit lagi, selepas empat lapis
langit ditambah satu ruang penguji
kita akan tiba meski para dewa
mengubah paras mereka jadi gergaji.
Selama yang keras terus menerus kaukupas
selama seekor kucing tugur menyangga napas
kita akan terus ke atas, membikin tuntas
semua yang belum lunas, membikin lunas
apapun yang belum tuntas.
2016


Jamil Massa, lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Bermukim di kota kelahirannya, dan bergiat di Komunitas Sastra Tanggomo.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jamil Massa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 9-10 April 2016