Tukang Cukur – Juru Jampi – Meneladani Juru Urat

Karya . Dikliping tanggal 24 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Tukang Cukur

Kuhindarkan kau dari keparat berlarat-larat.

Dari hujatan yang memindai atas ke bawah.
Lawan yang mengintai tak terterkam di hadapan.
Rambut memanjang benar segawat sawan. Demit
bertahan di akar-akar. Anasir kecil berkeliar
merambah tanah di kepala. Tak jenak tidurmu.
Seibarat kata primbon, tak akan melekat pada
kesempurnaan. Karena rambut gaib rembyak
sepatutnya milik yang bertampang gahar mendongak.
Maka bilik sempit ini menatarmu pada ketenangan
semata. Pada selaras rima laku gunting yang menata
sulur-sulur liar. Pada kelihaian silet memapras rumbuk
yang menghadangmu ke kesempurnaan. Niatkanlah
ritual ini selaku ruwatan. Selaku juru selamat,
kuentaskan sekalian kau dari tingkah membangkang,
lenyap kegawatanmu, tak manjur dalam keklimisan.
(2016)

Juru Jampi

Bujalajabu kokok belok demdem


kemarilah bujang, kemari kau
yang dirundung sawan samsara

sebab asmaramu tak terpaut
ke syahbandar yang tepat.
Eh, mbaliko, mbaliko, mbaliko
Nek gak mbalik tak sawat timbo
Kuseru pula orang-orang bermarwah
kerdil. Kusampirkan yang kecil-kecil
ke buhul, ke sumsum, ke ubun-ubun.
Kurangkum tanah terpijak di tujuh kuburan.
Kuikat segala kemungkinan dengan kafan
perawan yang dipendam kemarin malam.
Dan tak lupa bujang, sawurkan rambut
yang tampak hingga yang tersimpan
samar di badan. Agar pemanggilan kian
sempurna. Danyang nyasar nyungseplah
di kamar yang benar.
(2016)

Meneladani Juru Urat

Telah kau temukan jalan ulung

Baca juga:  Juru Silat Lidah - Juru Ulek

menawar urat api agar keliarannya
tak sampai menjalar, tak berkeliar
ke lajur lain-lain. Kau berbesar hati

menyabarkan daging bengkak dari
darah darah beku. Jangan sampai
yang menghambat gerak itu membikin

kisruh, lebih-lebih menakik denyut
menuju jantung. Tak perlu kau elus
yang meradang dengan daya berat

seperti si tukang pijat keparat sebab
keandalanmu tak semata mendaras
peraluran darah. Yang kau tandaskan

cukup gemlodak di atas bawah, kiri kanan
yang kalut kalut. Semesta getar nadi yang
semrawut bisa kau buru dengan kesantunan

tak terkira. Selaku penggawa, kau tak perlu
mahir pamer badan dengan pedang. Dengan
kegenitan menyentak, jari-jari lentikmu kuasa

mementalkan kegaharan si penakluk begu.
Sungguh, sesawur beras kencur nan panas
dan sejumput belimbing wuluh melenakan

Baca juga:  Hikayat
bisalah meredakan yang mengerang-erang.

(2016)
Dody Kristianto lahir di Surabaya, Jawa Timur. Kini ia tinggal dan bekerja di Serang, Banten.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dody Kristianto

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 23 April 2016