Aku Pelupa soal Cinta – Aku Pelupa soal Harta – Aku Pelupa soal Pidato – Aku Pelupa soal Takhta – Aku Pelupa soal Wanita – Pada Suatu Malam di Bekasi

Karya . Dikliping tanggal 2 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Aku Pelupa soal Cinta

Ibu, aku pelupa soal cinta
hingga bilangan rindu mengajari
cara mengingat namamu
dari dingin tikar pandan di sudut malam
penyebab aku terdiam di sepertiga malam.

Kemarin kau masih
menyanyikan lagu gerimis
yang selalu turun lebih kosong
setelah aku pamit
sambil sibuk mengerosong nasi gosong
kau siasati bunyi rindu yang
seharusnya tak perlu.

Sebuah lambaian tangan dari kotamu
selalu membawa patahan hatiku
untuk keberangkatan yang
berjarak dari kepulangan,

Ibu, aku mungkin pelupa soal cinta
tapi aku selalu ingat bagaimana
cara mengirim dirimu ke dalam diriku
cara mempersingkat jarakmu
ke dalam jarakku.

(2016)


Aku Pelupa soal Harta

Aku pelupa soal harta
sekian malam menidurkan
rupiah dengan lelap
dan barangkali mimpi-mimpi
wajahku tak berani menatapnya
agar ia atau bayangannya tak
sungguh mengikutiku.

Aku telah rela bila harus
tenggelam dalam lupa
sebentuk ingatan yang
melapangkan ke tujuan
atau jalan memutar untuk
menghindar dari kutukan.

Di tubuh rupiah, seperti di buih-buih
memang tersirat sesuatu yang tak ada
namun saat dipegang, ia menenggelamkan.

Baca juga:  Mimpi Datang, Mimpi Pergi - Kipas Angin di Surau Tua

Saban pagi ia hitung dirinya
di ruang brankas
keping-keping khayal yang berserakan
menuju jerat tiada akhir.

Tenang saja, aku memang bankir pelupa
tak akan kuceritakan kutukan-
kutukan di tubuhnya
setelah ia bangun esok hari.

(2016)



Aku Pelupa soal Pidato

Sesudah pidato ketiga lebih
baik aku keluar sebentar
hembusan angan telah
menelan semua ingin
lebih baik mencicipi kopi yang pahitnya
tertunda tadi pagi.

Hari ini dan kemarin tak
harus sama takarannya
tiga pidato tadi memanjang
dan menebal di ujungnya
mirip bayang-bayang yang membosankan.
Pidato pertama, menyaru
bahagia adalah kepalsuan
dilarang tapi tetap saja diulang-ulang.

Pidato kedua, berlagak tertawa
adalah kesombongan
dihindari tapi tetap saja diminati.

Pidato ketiga, dikit-dikit tepuk
tangan adalah pemborosan
dibenci tapi tetap saja diikuti.

Begitu ditanya isi-isi tiga pidato tadi
aku yang pelupa memilih diam
agar mereka tiada harap pada sia-sia ini.

(2016)


Aku Pelupa soal Takhta

Aku mencari suasana pagi, tapi
tejrebak pada malam
terperangkap kerumitan yang
lebih lembut dari bayangan
sepintas timbul-tenggelam
sepintas timbul-tenggelam
di lubang jalanan
adakah hari kelam sekelam ini?

Baca juga:  Tanah Kita - Tanah Tuan - Puisi dan Aku - Anak-Anak Masa Depan

Ketika ajakan kerumitan disajikan di depan
beberapa orang tak bernama
perlahan-lahan lenyap
sebelum aku sampai ke tujuan.
Aku yang pelupa tak berani mendekat
tahta, tempat menetas muslihat tak terlihat.

Aku pelupa yang tak takut
pada apa dan siapa
lalu kutemukan zombie,
manusia pelahap manusia
yang mabok kepayang oleh kursi goyang
mencari-cari sesuatu yang kelak pasti retak.

Mereka selalu ada untuk meniadakan
dan mereka selalu meniadakan
untuk tetap ada.

(2016)



Aku Pelupa soal Wanita

Perjumpaan lagi untuk
kenal yang telah lama
ialah permulaan kisah yang tak pernah tahu
berujung pada apa, akhirnya.

Setelah sekian lama, aku melupakan nama
seolah sekian pagi bersatu mengepungku
ketika sapaan dari mulutmu
mengunci mulutku
pada suatu hari di bulan yang canggung.

Setelah sekian lama, kau
masih ingat namaku
kauseka kepalaku yang masih padam
dengan bisikan setengah edan:
“Izinkan aku menyapa seorang lelaki
yang tak pernah lelah untuk berlari
yang tak pernah lelah untuk mencari
yang tak pernah lelah untuk memiliki.”

Baca juga:  Parama’an - Pigura Tua - Bilapora Rebba - Reportase Sepasang Sandal Usang - Monolog Sebuah Kursi - Tikar Daun Siwalan

Ingatan-ingatan di kepalaku sibuk berkelahi
pada jejak-jejak masa yang
susah dieja, ternyata.

(2016)



Pada Suatu Malam di Bekasi

Dilihat dari dalam adalah lampu baca,
dilihat dari luar adalah laron yang terbang
di sela-sela cahaya.
Tetap tak menggubris batas panas
untuk jatuh bersama-sama
dari haribaan sebuah benda.

Rasanya, seekor laron pernah menabrak
lampu baca itu.
Entah di tangkainya yang
mudah patah, atau
bagian kacanya yang sering pecah.

Maka bayang-bayang seperti berjatuhan
pada suatu malam di Bekasi
ketika seorang lelaki menemukan
guguran sayap
di mana luka pedih sungguh menipu
atau mengibuli dengan seenaknya.

Rasanya, cahaya tak memberi
banyak pilihan:
ia hanya padam sekali, agar
laron tak jadi mati.

(2016)




Didik Siswantono, lahir di Surabaya dan bekerja pada sebuah bank pemerintah di Jakarta. Mengelola komunitas sastra Kanusa di Serpong, Tangerang Selatan. Diundang menghadiri Asia Pacific Poetry Festival di Hanoi, Vietnam, Maret 2015. Buku puisinya Pelajran Berlari (KPG, 2015)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Didik Siswantono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Mingguedisi 1 Mei 2016