Di Keluasan laut – Tukang Masak – Menolak Menjadi Batu – Hari Pekan – Selepas Gerhana

Karya . Dikliping tanggal 8 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Di Keluasan laut 

kehidupan membawa kami
dari satu pelayaran ke pelayaran lain.
laut tak selalu tenang,

tak selamanya angin buruk, memang.
siapa yang tahu di mana akan berakhir
dan menyudahi ini semua.
mungkin pelabuhan tua
tak lagi memiliki kekuasaan apa pun
atau dermaga ramai tempat segala ada.

maka yang paling akhir dari semua ini
angkat jangkar, kembangkan layar.

di lautan semata pelayaran
jerit ratap kami melewati keluasan semesta

Tukang Masak 

Aku takjub pada mereka yang pandai meracik menu
Menyajikan macam-macam makanan di atas piring
Menamainya dengan nama asing, membuat liurku kering

Kau tak hanya pandai di dapur
Memotong adonan demi adonan, layaknya puisi
Dari satu kata ke kata yang lain
Menjadikan setiap yang kau masak
Begitu sedap dipandang
Apa rahasia sebuah sajak?

Baca juga:  Seraut Wajah Muram

Menolak Menjadi Batu 

lantaran menolak menjadi batu
sesekali kukunjungi ibu,
setidaknya dalam rinduku

aku perantau sial
tak membawa apa-apa ketika pulang
sekuat apa aku menolak
aku hanya di tiap gunjing.

2013 


Setiap Hujan 

hujan yang jatuh tak pernah sama, tak pernah serupa.
kau boleh mencium panas musim kemarau dalam rintik hujan
pertama,
tempat di mana kau berada, menentukan rasa dan kadarnya

ia jatuh menimpa apa, ia datang di waktu kapan
membuat dirimu gigil oleh kenangan.

ada yang dibawanya serta
masalalumu seketika terlukis di antara tempias,
seseorang yang jauh,
membayang dengan rasa tak kepalang

hujan tak pernah sekedar hujan


Hari Pekan 

Aku terkenang ibu yang terburu di antara pematang
Mengangkut cabai di pundaknya untuk ditukar dengan isi dapur
Di hari pekan, di minggu yang bagiku selalu riuh

Baca juga:  Aksara Malam - Narasi Malam

Di pasar, kami merayakan yang sedikit
Dengan baju yang diselipkan di lemari
Bau kapur barus dan lumpur sawah
Bercampur keringat pengunjung pasar
Dan riuh penjual obat serta harga yang membingungkan

Ke pakan, di hari pekan
Menukar semua yang kami punya
Melepaskan segala yang kami ada


Selepas Gerhana 

tak ada yang bakal berubah
setelah gerhana
malam akan segera usai
semua berebut mendongengkan
dalam sajak-sajak murung

siang datang dengan semestinya
jalan-jalan terus saja padat
maut lewat seperti biasa

”aku menyaksikannya. sepanjang malam
terus berjaga,” ujar seseorang
yang berada jauh di luar pulau
di batas negara di batas bendera. sudah
lama ia tak bisa tidur
dan berdebar menghadap pintu
”seperti bulan, aku ditutupi matahari.
aku merasa dikhianati.”

Baca juga:  Mantra Hujan - Sabang - Bayangan

aku dan kamu terus berseteru
seperti kelam yang diciptakan saat gerhana

——————


Indrian Koto, lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Menyukai sastra dan terus bergiat mendalaminya. Tinggal di Yogyakarta. Bekerja sebagai penjual buku sastra.  




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Indrian Koto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 8 Mei 2016