Di Ufuk Ramadhan – Nafas Pujangga – Sepi di Pigura Pagi – Isyarat Mata #1 – Isyarat Mata #2

Karya . Dikliping tanggal 29 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Di Ufuk Ramadhan

karena doa, aku alirkan seluruh kepasrahan
yang lama kusimpan tanpa penanda masa
ia tetesan airmata yang mengaliri residu kesumat
ia ingin lirihkan pedih luka itu, hanya ke lantai tanah milik
Tuhan

Di ufuk pasang ramadhan g
enap berbelas tahun aku mengenal iftitah
jalan pembuka kalbu, jalan menuju putih langit
kamar Tuhan

aku pasrahkan seluruh bebal tuli rasaku
memaknai indah dan syahdunya ramadhan
yang dirindukan oleh orang-orang yang ramai
menunggu datangnya hari yang berbalas kebaikan

(2016) 

Nafas Pujangga

: Tegoeh Ranusastra Asmara

Sedang aku cinta sepatah kata menjadi tangkai
lalu aku tanya, kau menidurkan siapa.
jika bintang disungkur oleh lembut mendung
kita menjadi sepasang malaikat
yang menaburkan isyarat
Keabadian adalah potret yang lupa dipigura
setumpuk cerita, lalu novel yang ditulis
oleh pujangga tua, tidak ingin dibacanya
sampai mati melumat emblem yang
menempel di bajunya

Baca juga:  Kenangan Tukang Kayu

Rebah, aku terkesan karenanya
ia menjadi dunia bagi buta kata
dan tuli bagi rongga usia


(2016) 

Sepi di Pigura Pagi

: Liek Suyanto

Desah itu lenguh yang tak terjawab
karena angin gigil di luar jendela
menerjang ribuan sapi tanpa genta
suatu sepi tetaplah sunyi
Ada suara tanpa rupa
ada asap tanpa jelaga
ada warna tanpa irisan
siapa bawa apa , dan kemana perginya
angin gigil di luar jendela
mengebor pori-pori tulang
siapa bawa apa, dan kemana larinya
Tak lagi ada penanda pembatas rasa
tak lagi ada kendali pembatas nafsu
tersungkur di sudut pigura


(2016) 


Isyarat Mata #1 

Pada bagian mata aku menuliskan kepedihan
Dengan merah, bukan darah tapi selaput yang
Membutakan pagi dan malam, saat burung pertama
Mencium oksigen, dan langit terkapar oleh panas
Matahari yang sedikit coklat menyentuh tanah
“Di kepedihan itu mata merah menjadi basah
Karena meander di pupilmu mengumpulkan bah airmata
yang kian kental, aku terbakar di pembaringan danau”


(2011) 


Isyarat Mata #2 

Pada bagian mata aku tuliskan kematian, dari perapian
Kayu singkong yang menjadi arang, berkobar dan menguliti
Kulit coklatku yang tak lagi terbaca oleh lensa myopiku
yang
Tebal seperti aquarium arwana, yang tak lagi punya energi
Untuk menari
“Di kepedihan itu mataku menyembulkan asap, berputar
Mengitari isi kamar, membuat bulatan-bulatan runcing
seperti
Aksara, susah dibaca memang, karena ia hanya isyarat
Untuk mengelabuhi segala bab yang tak pernah aku
pahami jua”

(2011) 

*) Budhi Wiryawan, lahir di Bantul. Buku puisi tunggalnya terkumpul dalam ‘Sripah’( 2009). Buku kumpulan puisi lainnya ‘Spring Fiesta’ (Penyair 9 negara, 2013), ‘Menyisir Senja’(5 penyair, 2013), ‘Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja’ ( 90 penyair, 2014) , ‘Pengantin Langit’ (antologi puisi menolak terorisme, 2014), ‘Parangtritisí (55 penyair, 2014) ’Jalan remang Kesaksian’(LPSK, 40 penyair, 2015) ‘Gelombang Puisi Maritim’ (Dewan Kesenian Banten, 2016), ’Syair-syair Keindonesia’(2016)-k


Rujukan:
[1] Disalin dari karya budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 29 Mei 2016