Dua Titik, Satu Garis – Tanpa Nyala – Kita dan Kata – Kesunyian Paling Bisu

Karya . Dikliping tanggal 29 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Dua Titik, Satu Garis

Pada mulanya,
kita dua titik terpisah
yang oleh cinta
dianugerahi mahabbah.

Pada mulanya,
kita adalah dua noktah
disatukan cinta
agar tak lagi memisah.

Pada hakikatnya,
kita hidup sesuai fitrah
lalu kepada cinta
akhirnya kita berhijrah.

Hanya kepada-Nya,
kita berharap sakinah.
Dalam Ridha-Nya,
kita memohon rahmah.

Takdir telah menulis
dua titik jadi satu garis.
Yang sudah digariskan
niscaya dipersatukan.

Terima kasih tiada terperi
pada Cinta nan sejati.
Terima kasih tiada terkira
pada Rindu nan nyata.

Telah tiba pada kita
yang tersurat sejak mula.
Telah dibawa oleh cinta:
alasan terhebat kita dicipta.


Jakarta, 2015


Baca juga:  Pengakuan Raje Kecik - Menyimak - Saling Membaca

Tanpa Nyala

Tubuhku lebih sedih
dari api yang kehilangan nyala.

Bibirku butuh kecupan,
dadaku meminta pelukan,
inderaku perlu kehadiran,
dan jiwaku kehausan.

Cinta saja tak cukup.

Tanpa pancaran Kasih Sayang,
ulu tak ubahnya hati tanpa rasa.

Mustahil.


Denpasar, 2015

Kita dan Kata

Sering kita mengulang kata.
Yang berbeda padahal sama.
Jika bukan asa mungkin alpa.
Atau bisa tentang apa saja.

Tak perlu lagi alasan bertemu.
Tak usah lebih dulu harus rindu.
Tak perlu batas-batas waktu.
Tak usah diatur sebegitu kaku.

Kita jumpa ketika kita berjumpa.
Kita berpisah kala kita memisah.
Berdekatan untuk saling menjaga.
Berjauhan untuk saling mengolah.

Baca juga:  Den Ayu Cempaka

Cinta bukan tanpa kekuatan.
Rindu bukan tanpa kelemahan.
Namun kita percaya pada keajaiban.
Oleh karena itu kita saling mendoakan.

Surabaya, 2016



Kesunyian Paling Bisu

Kesedihanku mendalam
tidak bisa membahagiakanmu.

Kerinduanku tenggelam
ke palung kesunyian paling bisu.

Doa-doaku apakah karam
karena harapanmu semakin ragu?

Kekasih, jangan kau diam,
kemarahan pun butuh tanda seru.

Kekasih, jangan kau bungkam,
tidakkah resahku sampai padamu?

Tiada damai selain tenteram,
dan bukankah kita masih setuju?

Kediri, 2015


Candra Malik lahir di Solo, Jawa Tengah, 25 Maret 1978.Tinggal di Depok, Jawa Barat. Telah menulis delapan buku, antara lain Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 Rindu, Ikhlaskanlah Allah, dan Kumpulan Cerita Pendek Mawar Hitam, Meditasi Mengenal Diri Kita Sendiri, dan Sekumpulan Esai Republik Ken Arok.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Candra Malik
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 29 Mei 2016