Kedai Malam – Zikir Padi – Halaman Rumah

Karya . Dikliping tanggal 29 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Kedai Malam 

Keriap tiang bambu seolah gerutu, lenyap karena silau lampu
Berderet kursi-kursi sesak dipenuhi orang-orang buta
Kau dan aku berdua bertanya pada meja, kopi dan kretek
Tentang jam malam, lonceng yang terus memanggil di kejauhan
Jutaan sejarah manusia dibangkitkan buku-buku
Sastra memberi napas baru, keheningan candi dan batu-batu
Namun waktu, kau tahu, hanya memberi satu kesempatan
selebihnya hanya bayang atau kepalsuan
Apa makna malam bagi bohlam, perempuan bermata hujan
atau seorang pelayan tanpa tanda lahir?
Beratus tahun kita percaya agama turun dari langit
Bersama keheningan yang dilemparkan bintang-bulan
Tapi tak ada yang berubah, kecuali sengguk tangis kita
yang semakin basah. Karena nasib, medan yang raib
Kedai mengajari kita membangun istana palsu
Seperti berita televisi, boleh bernyanyi dan menari
Setelah itu dicampakkan ke jalan-jalan
Jadi gelandangan, lupa rumah kelahiran
Sedang malam akan semakin tua, kita lupa usia
Bila pagi tiba kita bimbang
Sementara lampu-lampu telah dimatikan
2015

Zikir Padi

Obor dalam hati kami berkobar
Cahayanya memantulkan bayang-bayangmu
di tanah merah tempat berpijak segala resah
Kemarau runcing diasah musim
Bukit-bukit mengeram air mata pohon
Ladang terbentang menanti hujan
Sawah terhampar kerontang dan lapar
Datanglah engkau ke ujung jalan
Surau teronggok tua, di dalamnya kami berdoa
Melnatunkan tembang seribu satu dosa
Dengan tanganmu perkasa, petiklah kami
Yang tumbuh mekar di atas bongkahan batu
Sebab waktu tak bisa ditunggu
Dan ke arah kami angin terus menderu
2014

Halaman Rumah

Kala fajar terbit dari punggung bukit
Kenari bernyanyi di batang sunyi
Teras kosong tana kursi
Aku berdiri menyaksikan orkestra pagi
Ayam-ayam berkejaran mencari makan
Para lelaki berjalan menyusur tegalan
Angin desau mematahkan ranting-dahan
Tapi hari ini biji ditanam esok mengembang
Keindahan mengendap dalam sejuk embun
Langit rekah menebar bau sawah
Sekawanan burung menembang lagu perang
Menyambut hari yang baru datang
Kesedihan, masuklah kau ke dalam rumah
Habiskan detik-menitmu di balik jendela
Menangislah hingga senja tiba
Sebab di beranda terbuka, wujudmu tiada
2014


Kamil Dayasawa, lahir di Sumenep, 5 Juni 1991. Alumnus PP Al-Amien Prenduan, Sumenep dan kini mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dab Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kamil Dayasawa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat”” edisi Minggu 29 Mei 2016