Menjadi Musafir – Yang Abadi Hanyalah Waktu – Perihal Kekasih dan Tuhan

Karya . Dikliping tanggal 8 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Menjadi Musafir 

Telah ku telusuri jalan terjal
Penuh duri, penuh bebatuan
Memasuki goa-goa yang penuh sarang hewan buas
Tubuhku tak menakuti
Kau telah menjelma segala ketakutan

Telah ku ceritakan pada robekan embun pagi
Aku bukanlah sulaiman yang mampu berbicara
dengan hewan
Jantung ku bergetar
Mencintaimu tak semudah menyandingkan kematian
dan ketakutan


Yogyakarta 2016 

Yang Abadi Hanyalah Waktu 

Aku bukan mencari kematian
Yang ku hadapi hanyalah kenyataan
Meraung kesendirian dalam kesepian
Ketakutan dalam kesendirian
Tuhan hilang dalam gelisah dan resah
Jika kau tak segera pulang
Kau membuatku bertambah gelisah
Dan ku tak menyukainya
Kematian hanyalah tentang waktu
Kita hanya setia menunggu

Yogyakarta 2016 


Perihal Kekasih dan Tuhan 

Masih ku mengingat aksara indah matamu
Yang kerap menggelombangkan rindu dalam perihal
kematian tuhan dalam ruang sepi
Ruang sepi mengeja aksara-aksara tuhan
Kesepian hanya berkisah aroma kemarau dan musim
hujan yang kau suka

Baca juga:  Kabung - Kubang

Melupakan kalimat tuhan dalam roma kopi kental di
pagi hari
Sekental rindu

Neng
Kau hilang, ku bersedih
Kau tertidur, aku pun sibuk mencarikan selimut
Aku lupa dimana tempat tidurku
Cintaku hanya ingin memberi kisah tentang indah
pagi dimatamu, sejuk embun di matamu

Tuhan bergelombang dalam ingatan yang usang
Berada dalam kehidupan yang lupa jalan pulang

Aku tak pernah bergairah menikimati tauziyah
khotib Jum’at
Tauziyah yang berkisah tentang kematian yang tak
mengenal tanggal, bulan, dan tahun

Baca juga:  Mata Monyet

Tuhan adalah nyanyian bising para kyai
Aku menyadari, akulah lelaki, hidupku nista dan dusta

Neng, bawalalah aku pada keramaian dengan
gelombang rindu
Dimana orang-orang menikmati, menghadapi
kenyataan dengan mesra

Tuhan yang terlupa, teringat di ruang-ruang hampa
Maaf aku pun telah berdosa

Yogyakarta 2016 




Rudi Santoso lahir 30 November 1993 di Sumenep, Madura, mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Salah salah satu pendiri Komunitas Seni dan Sastra Blangkon Art Jogja. Buku antologi puisinya Sajak Kita (2015) dan Surat untuk Kawanan Berdasi (2016).




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rudi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 8 Mei 2016