Natal di Porib – Jampang Kulon

Karya . Dikliping tanggal 14 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Natal di Porib 

Natal pertama sejak aku mencintai-mu
yang dinanti-nanti, akhirnya tiba

Kau datang mengenakan tubuh pualam
seputih jenazah di atas tungku kremasi
di sepertiga senja, sebermula gerimis
kemudian bertalu lebih deras

Lonceng gereja berdentang
ekor gaungnya runcing memanjang
bawa ingatanku pada tanah di selatan
yang batal ditanami Calina
dan aneka palawija

Ada sesuatu yang merenggut niat baik
seakan Kristalnacht hendak berulang
tidak di tanah Aria, tapi di sini, di Lemuria

Tahukah, bagai La Nina mengelabuiku
namanya terdengar menggemaskan
bagai kata-kata sorgawi dalam litani
demikianlah sesuatu itu
lucu nan asri, namun betapa beringas
seperti diktator junta militer
menganeksasi perasaan-perasaanku
merampok sawah dan ladang kami
dan kau menyebutnya minimarket

Mengapa kita merasa jadi diri sendiri
justru saat mengenakan atribut orang lain
mengapa keinsyafan kalah oleh rupiah

Kita alfa, bahkan nyaris tak percaya
lambung ditimang dengan rimpang
diasuh oleh gulma dan perdu

Bukankah kekayaan kita empon-empon
yang membuat kompeni keranjingan
memangkur hingga 357 tahun?

Harum rempah-rempah saudaraku
menguar dari tanah khatulistiwa
matahari masih merah tembaga
tak pernah, ya tak pernah tertandingi

Betapa manis nama-nama di bawah ini
kedawung, babajan pule, kunir, binahong
rimpang laos, sinom, temulawak, sambiloto
widoro laut, doro putih, kapolaga, lempuyang
baluntas, manis jangan, kayu legi, temugiring

Baca juga:  Langgar Kiai Bahri

Apa kabar akar-akar Sambung Nyawa!

Selamat jalan burung pipit
dan Salvador Allende
moga kalian masuk sorga
di samping ayahku

Inilah ritual misa itu
mudra tanpa untaian candelabra
karena di sini tak ada guguran salju

Tapi di sini
kelaparan batin berkumandang lebih menggigilkan
dari badai nemo di Connecticut
maka inilah ekaristi itu

Terimalah daging Yesus
Sekedar ganjal perut
hiruplah bercak-bercak anggur
yang dikucurkan langit meradang

Kami helat sakramen agung
altar kami ialah nisan para pejabat
yang terbunuh filosofis dalam batin
karena mereka, semestinya jadi pelayan
telah menjelma Yudas Eskariot

Lonceng gereja usai berdentang
ekor suranya yang terkahir
berdengung 17 detik
habis itu, tatapan-mu sedingin hujan
malam kudus turun tanpa Sinterklas

Kau mungkin benar sebuah tirta gangga
yang sanggup mengukir arah takdir
bila tersendat, mencipta jalan baru
merangsek bahkan melapukkan logam
kau tak pernah peduli kepadaku
bahkan saat membutuhkanku

Maka inilah hadiah Natal untuk-mu
sinetronopera sabun remaja Tokyo
bukankah pelajaran moral
kadang perlu berwajah ganda?

Ada kalanya di sana menguar tema
Kemanusiaan yang adil dan beradab
sebuah falsafah yang bergema
di tanah subur makmur kertaraharja
tanah tempat aneka logam berbiak
tapi hanya gema, tak berdampak
tak sampai pada saku tetangga kami
yang merayakan Natal di Porib

Baca juga:  Kehidupan - Pencarian 1 - Pencarian 2 - Cerita dari Rumahmu - Kita dan Sebuah Cerita - Sajakmu - Fragmen Mbak Rita - Segelas Kopi Pagi

Bandung, 2016 


Jampang Kulon 

1
Perang di Utara
tak teramal dalam siasat
badai salju mengamuk
kami terdesak

Aku tak bisa
menghubungi-mu lagi

Izrail gentayangan
pada hari ke-900
di kota yang kami kepung
namun pedang mautnya
berkedip ke legam jantung kami

Langit sesak gejolak
seperti pertapa yang terusik

Sungguh tangguh Beruang Kutub
berbaret merah darah, merah kematian
dengusnya lebih dingin dari El Nino
arwahnya direndam
di Selat Siberia

Aku memang
tak terbunuh
tapi sudah ku katakan
aku tak bisa menghubungi-mu lagi

2
Ini subuh pertama di Jampang Kulon
jejak hujan tertahan di langit
seperti cipratan cat
dari kuas pelukis ekspresionis
tanpa semburat fajar
langit menutup diri
bahkan untuk doa berkelana

Terang tanah perlahan bangkit
gugus kabut dan awan bakal hujan
mencipta bayangan
sial sungguh
karena masih juga
wajah apel-mu
seakan seringai wali kota
menertawakan penyair
rasul yang dikira kalah itu

3
Rasul atau penyair
tak pernah kalah
walau sering dikira
mudah menyerah

4
Aku berkelana lagi
seturut takdir memandu
tahun baruku terdampar
di pantai-pantai bernyanyi

Di tanah para jawara
aku melapas kata
menjelma cahaya
yang selalu tahu
cara menahan kegelapan
dan sudah kukatakan
aku tak bisa menghubungi-mu lagi

Baca juga:  Intro - Paranoia Akut - Nisan - Dalam 12 Jam

Di tanah para jawara
aku menerima perjanjian
yang tersisa
dan yang bakal terentang
bukan milikku

Sepenggal daulat
sebutir takdir
melesat bersama langkahku
sebermula selalu kata


Sukabumi, 2016 


Doddi Ahmad Fauji, Lahir di Bandung, 4 September 1970. Antologi puisinya antara lain Yth. Nona Yumar (Madrasah Budaya, 1997), Bukan Ken Arok atawa Teu Nanaon da Teu Kunanaon (Madrasah Budaya, 1997), Poeima (Madrasah Budaya, 1997). Antologi Amor, Memoar, Traktat (SKB dan Pustaka Latifah: 2006), diterbitkan ulang pada 2016 oleh Penerbit SKB dengan judul sama, lalu antologi Neng Li (Penerbit ASASUPI, 2015). Pada 2003, ikut membaca puisi di Athena, Yunani. Pada 2004, baca puisi dan jadi pemakalah seminar kondisi sosial-politik Indonesia di Moscow Government University, serta jadi pemateri diskusi proses kreatif di St Petersburg University, Rusia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Doddi Ahmad Fauji
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 15 Mei 2016