Rinduku Pada Rindumu – Tulang Rusukku – Hati Senapas Umbu – Seperti Berhenti – Bara Paling Cinta

Karya . Dikliping tanggal 8 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Rinduku Pada Rindumu 

Rinduku rindu angin pada napas,
menujumu deru ronin yang gegas.

Rinduku rindu api pada nyala,
bersumbu nyali untuk segera jumpa.

Rinduku rindu siang pada malam,
padamu berpulang rahasia terdalam.

Rinduku rindu tanah pada hujan,
selalu aku tengadahkan harapan.


(Kayu Agung, 2006) 


Tulang Rusukku

Pada mulanya,
cinta adalah kegaiban rasa.
Pada akhirnya,
kita jadikan keajaiban yang nyata.

Pada mulanya,
rindu adalah kelemahan kalbu.
Pada akhirnya,
kita jadikan kekuatan ‘tuk menyatu.

Aku adalah tulang punggungmu,
engkau adalah tulang rusukku.
Aku mengarah pulang padamu,
engkau mengarah datang padaku

Baca juga:  Ayat-ayat Penasaran - Kutukan Asmara - Kulukis Tubuhmu dalam Bayang-bayang

(Solo, 2014) 

Hati Senapas Umbu

Semakin hari semakin aku
tidak percaya kekuatan cinta.
Sebab, justru jiwa ragaku
melemah sejak merasakannya.

Semula puisiku sekeras batu,
setiap baitnya serupa mantra.
Akhirnya hatiku senapas umbu,
setiap sakitnya serasa tantra.

Jangan harap bisa kau baca
kecuali dengan berisak airmata,
sekejap kemudian kau cipta
maligi tak berjarak bagi yajna

(Banyuwangi, 2015) 

Seperti Berhenti

Di dalam cinta, tidak ada masa.
Di dalam rindu, tidak ada waktu.
Seperti berhenti, padahal abadi.

Di dalam cinta, tak ada yang maya.
Di dalam rindu, tak ada yang palsu.
Seperti imajinasi, padahal sejati.

Baca juga:  Kasidah

Di dalam cinta, yang ada segera.
Di dalam rindu, yang ada terburu.
Seperti pergi, padahal kembali.

Di dalam cinta, bukan tak ada asa.
Di dalam rindu, bukan tak ada ragu.
Yang kaurasa sepi, sungguhnya ramai.

Di dalam cinta, tak ada rekayasa.
Di dalam rindu, tak ada harubiru.
Takkan selesai, yang t’lah kaumulai

(Surabaya, 2015) 


Bara Paling Cinta

: aku mencintaimu seperti api

menjalar mengikuti nadi,
meliuk ke setiap lekuk ragawi,
menyentuh yang paling inti,

Baca juga:  Pertengkaran Terakhir

dan semakin tidak terkendali.

(Malang, 2016) 

Candra Malik, lahir di Solo, Jawa Tengah, 25 Maret 1978, tinggal di Depok, Jawa Barat. Telah menulis delapan buku berjudul Makrifat Cinta, Menyambut Kematian, Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 Rindu, Ikhlaskanlah Allah, Novel Mustika Naga, dan Kumpulan Cerita Pendek Mawar Hitam, Meditasi Mengenal Diri Kita Sendiri, dan Sekumpulan Esai Republik Ken Arok. (92) 

Rujukan: 
[1] Disalin dari karya Candra Malik
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu edisi 8 Mei 2016