Seperti Para Penyair – Penyair dan Kudanya – Jiwa Terakhir – Puisi – Siang Ini Tidak Ada Sajak Tuan

Karya . Dikliping tanggal 30 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Seperti Para Penyair

Mata kita tambah redup
Tapi jiwa kita menyala
Berkobar di malam larut
Esok kita tak peduli

Kita terkutuk pada pagi
Dikutuki para penakut
Tapi kita burung rajawali
Pengembara malam
Tuan bagi kesepian sendiri

Mata kita terpejam
Hati kita berjarak
Pemberani kerap sendiri
Seperti para penyair
yang tak lagi menulis puisi
Tapi dalam hati
Terukir bahasa-bahasa
Sebagai puisi sunyi
Bagi jiwa yang sepi
Nasib kita malam ini
Bukan nasib kita subuh nanti
Selagi sepi memberi arti
Kita mau tambah merasuk
Dalam puisi–
yang ditulis dengan luka jiwa
untuk dibaca para pengelana
yang jiwanya bebas kembara

O para penyair
Tergelatak di ranjang
Dadanya menyesak
Jiwanya berontak
Ingin ke luar
Menembus ke dinding
Barangkali rembulan
Menitip salam dari kejauhan
Rindunya yang dulu
Cintanya yang lalu
Jiwa kanak-kanaknya ambigu
Kenangan yang tak henti pergi
Pada waktu yang telah jadi abadi

Baca juga:  Nyanyian Hujan - Yang Hilang Dalam Hujan

Wahai para penyair
Sesekali menjauhlah
Berhenti dari rasa ngeri
Dalam segelas kopi
Barangkali ada kanak-kanak
Serupa kau dahulu..

Jakarta 2016



Penyair dan Kudanya

Terdengar seperti suara genderang
Siapa akan berperang dengan kesunyian?
Aku melihat seekor kuda
Melompat dari dalam segelas kopi
Kuda dengan mata tampak beku
Sungguh jauh perjalanannya..

Apakah ada ksatria memanggilnya?
Hendak menyusuri kota
Menantang kebekuan
Atau mencari cinta
yang entah milik siapa

Seorang gadis berdiri dari duduknya
Di deretan kursi di kedai kopi
Aku tak menyangka–
Ia bercermin menuntunnya
Barangkali ia mencari cintanya
Seorang ksatria yang telah menjelma
Menjadi pelana kuda

Tapi ia hendak ke mana?
O, dia ke arahku
Matanya menembus kalbuku
Kuhirup nafas penghabisan;

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-2 Maret 2016

“Aku mencarimu penyairku
Pulanglah bersamaku
Tempat kau dimuliakan
Sebagai penunggang kuda
Yang bebas kelana..
Tinggalkan dunia di mana
Kuda-kuda memakan rumput
Dalam dunia kita, penyairku
Kuda-kuda memakan debu
Menenggak sisa badai
Kemudian berlari dalam kabut”.

Segelas kopiku tandas
Aku harus pulang
Menidurkan puisi
Menjaganya dari mimpi buruk tentangku

Jakarta 2016

Jiwa Terakhir 

Penyair adalah kuda-kuda selatan
Yang datang dari dalam lautan
Tak sudi jadi tunggangan
Tapi rela terluka demi perjalanan

Baginya tiada jalan kembali ke mula
Setiap kejauhan adalah mula
Bagi tujuan paling hampa
Yang telah dipilihnya

Ia adalah penderitaan
Ia adalah keluhan jiwa peradaban
Ia adalah penyair;

Yang fana waktu, luka-luka abadi
Betapa menderita penyair
Entah kapan keluh jiwanya berakhir.

Jakarta 2016

Puisi

Dia akan berjalan
Meniti hidup hingga jauh
Penyair merindukannya
Seperti kerinduan abadi
Penyair pada jarak…

Baca juga:  Balada Orang Pinggiran - Sajak Pendek Tentang Indonesia dan Mawar - Anak-anak, Ketika Pagi Tak Terulang Kembali

Jakarta 2016

Siang Ini Tidak Ada Sajak Tuan

Tidak ada puisi di siang terik
Penyair tengah sibu bekerja
Membangun mimpi di dekat kuburan
Jadi badut atau politisi
Jadi tukang pulung atau tukang tipu
Apa beadnya?
Sajak-sajak dijual di pasar loak
Atau di sosial media, sebagai hiburan
Tapi siang ini tak ada sajak Tuan
Penyair tengah sibuk bekerja
Membangun mimpi di dekat kuburan

Jakarta 2016



Sabiq Carebest lahir 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Buku kumpulan ajaknya Memoar Kehilangan (2011). Kumpulan sajak terbarunya akan terbit, Tentang Waktu Penyair (2016). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 29 Mei 2016