Sepur Segara Kidul

Karya . Dikliping tanggal 29 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

– Faisal Kamandobat

Sudahlah!
Tetapi kamu terus mengandaikan mereka masih di sini –
Bersama sanak famili,
tinggal di balik rungkut perkebunan karet Cipari
pun Krumput.
Di perkebunan kopi celah Sindoro-Sumbing.
Sebagian lagi dekat pabrik gula Kalibagor!
Lalu di bawah brug-brug batu bata tertata,
air, untuk ranah lebih rendah,
terlimpah liwat undakan sawah, tak jemu mengalir.
Kapan di sana kebul nasi liwet menghangatkan wajah hari,
sesruput kopi jagung menyentuh dasar lambung.
Di sini, dari arah barat entah seperti apa –
Setelah berminggu-minggu menerjangsibak ombak –
Ditarik lok hitam legam, dekat julang karang Majethi,
rangkaian gerbong hijau lumut itu berhenti.
Lalu menyusul turunnya penumpang,
dikeluarkan dari gerbong paling belakang –
Bergulung-gulung karpet Turki serta Persia.
Tak ketinggalan batik serta tembikar Cina.
Berkarung siwak India.
Gandum serta kurma Andalusia.
Juga dus-dus paket kitab kuning terbitan Kairo sana.
Dengan yakinnya, kamu pun menambahkan –
Jangan lupa, larik-larik merdu kerap dilantunkan
pengelana-pengelana padang pasir rindu!
Sementara panas matahari meregangbetulkan
rangka tulang punggung, terus membumbung –
Deru dari laut menampar-nampar wajah –
di peron amis basah,
di antara pelancong yang bercakap
dengan bahasa ibu masing-masing,
kamu masih mencobasusun yang sekiranya menyentuh semua.

Sudahlah!
Di stasiun ini, memahami setiap gerak mimik serta tubuh
adalah kebajikan utama –
Maka kepadamu tidak akan ada yang tanya –
Langsung kota tujuan apa bermalam dulu.
Jika kamu tidak tergesa, biarkan keingintahuan bangkit!
Biarkan matamu menampungnya penuh! –
Ada nanti, dari kerumun iket-iketan asyik udud-dopokan,
atau kaosan celananya hitam komprang,
satu, menemujemput kamu di situ!
Seperti pelancong-pelancong itu,
kamu pun diantar ke mana yang kamu menampakkan suka.
Teruslah hingga menuntut sesungguhnya istirah!
Dekat pantai seberang, lalu sekitar ujung pulau,
ditata menjadi kamar-kamar mewah murah,
bekas-bekas benteng dan penjara bawah tanah
dengan kunci lelah, pintunya lebih mudah dibuka.

Baca juga:  Sisa Badai di Sepasang Mata
Sudahlah!
Di stasiun ini menuruti bahasa pelancong
hanya menjadi bahan pembicaraan teman-teman.
Yang fasih dipuji-puji,
yang grotal-gratul jadi bahan tertawaan.
Jika sanak saudaramu sudah menunggu,
biarkan aroma ketergesaanmu bertaburan di udara!
Tidak lama lagi seekor anjing simpuh di depanmu.
Lalu dengan gerobak mungil menarik barang bawaanmu.
Ikuti saja! – tarif seikhlasmu!
Sampai terminal angkutan antarpulau,
tampak berjejer taksi ampibi warna-warni.
Kroya, Majenang lalu Sokaraja.
Parakan atau Kedu, tarifnya berapa,
di sana tak perlu lagi tawar menawar.
Bukankah semua tertera jelas
di situs-situs hotel dan jasa angkutan kelas cahaya
yang kamu buka?
Ternyata ketergesaanmu
bangkit lebih kuat dari keingintahuanmu!
Taksi yang kamu pilih perlahan meninggalkan parkirnya!
Segera terbayang seperti apa masakan ibu,
kulah-kulah mandi para santri, juga perpustakaan kecil
yang belum selesai.
Ketahuilah, kawan!
Di sini, mereka yang tak terburu-buru –
dengan tank ampibi tak berpeluru,
dengan gerobak ditarik empat ekor harimau Jawa –
juga sudah meninggalkan stasiun.
Tidak lama lagi, kawan!
Sebelum naik-turun jalan menyusur kawasan hutan,
kendaraan musti mengikuti alur remang lorong gua.
Kawan, semoga Wangon sudah kamu lewati!
Yang pasti di sini mereka sudah menghirup lagi
aroma daunan diterpa angin tenggara.
Mungkin suka hal-hal tak dinyana.
Melengkapi panorama melatari diri,
yang bersamaan dirinya tertangkap kamera –
celeng berkalung emas mengiringi anak-anaknya
menyeberang –
gantole rangkaian daun jati melayang-layang
di bawahnya berputar-putar sepasang bhéri –
susul menyusul orang bersarung
gegas memasuki rongga benderang
pada kaki sebuah pohon,
dari mana lantun adan berasal –
untuk dirinya, minta teman mengabadikannya.
Demikian bergantian!
Oh, ini sudah pukul 11.56 –
Adakah kamu lagi bercanda dengan keponakan-keponakan?
Ataukah lagi menunggu Bapak
kembali dari pengajian kliwonan di pegunungan utara desa?

Baca juga:  Aubade Jalan Pulang - Jerusalem - Pagi di Sebuah Kampung
Bahagialah kamu!
Pertimbangan beliau, sehingga menetapkan satu
di antara gadis-gadis bermata sendu,
kiranya tak beda denganku!
Di sini rasanya juga bahagia!
Usai berpose di bawah naungan tebing-tebing condong,
terik begini, mereka malah berselancar sebasah-basah
di antara buaya-buaya Segara Anakan.
Selebihnya gegas ke hotel, cuma untuk menunggu
datangnya malam.
Ke kasino-kasino rakit hutan bakau,
menukar uang dengan koin-koin cadas.
Menyewa sepeda, menyeberang –
Menurut iklan sebuah tivi swasta,
pukul 17.00 nanti, di Stadion Wijayakusuma
bertanding kleb bola asal Korea melawan kleb dari Surabaya.
Seorang peneliti asal Meksiko, disusul pacar medsosnya,
menyusur kelak-kelok kanal kota.
Lalu sambil menikmati alun gending campur Jawa-Sunda,
dari atas perahu jungkung tua,
memilih kios mana memajang kenangan paling menggetarkan.
Apa lagi, kawan?
Sampai sini kata-kata rasanya cukup mendapat yang dibutuhkan.
Adakah karena kereta kuning gading yang datang
lima belas menit lalu,
musti menyusul kereta hijau lumut makin nglangut ke timur?
Kawan, suara tanda keberangkatannya
mirip lenguh paus kesepian, bukan?
Beberapa kali mendengar, kita pun merasa ada yang merindukan –
Adakah yang ngantri di depan loket, seperti kita juga?
Tapi siapa kekasih mereka?
Setelah masing-masing mendapatkan tiket,
di bawah emper ceruk tebing curam,
beberapa memesan wédhang kopi –
beberapa lagi meniup-niup mendoan panas –
membuangganti rokok yang belum habis,
lalu menghisap kuat-kuat gantinya.
Adakah karena merasa tidak akan menemukan lagi
apa-apa yang ada di sini?

Entahlah!
Kini mereka sudah di kursinya masing-masing!
Yang belum pernah bepergian melalui jalur ini,
mungkin berdebar-debar.
Baginya, bagaimana dan di mana barang bawaannya ditempatkan,
mungkin tidak penting lagi :
Dalam kotak berbeludru, ditunggu-tunggu orang Baron, Kukup
dan Krakal, akik kali Klawing sungguh lebih terjaga.
Untuk kios-kios pasar seni di Kuta, anyaman bambu Klumprit
musti dijajar jauh dari sinar jendela.
Jamu Gentasari pesanan orang Kodi dan Merauke
baiknya tetap kering sekaligus wangi.
Meski nanti akhirnya di kuali campur,
trasi dan gula aren pesenan rumahmakan-rumahmakan Hawai
baiknya dipisahjauhkan.
Tak kalah penting knalpot-knalpot Purbalingga
pesanan pabrik mobil di Jepang.
Lalu bola kulit bikinan Tasikmalaya
untuk semarak piala dunia.
O, menyusul kereta hijau lumut,
rangkaian kuning gading kembali menerjangsibak ombak.
Memberi kesempatan lewat,
perahu-perahu menjauh dari jalur samar.
Tapi telanjur membuang sauh, sebuah tanker berusaha teguh.
Tujuh belas menit kemudian, untuk guru atau mahaguru
Vihara Bante yang kembali dari bepergian ke Bangkok,
di selatan Srandil-Selok kereta berhenti.
Mahasiswa dan santri-santri Kesugihan pun
menggantikan yang turun.
Kamu tahu, pada jam-jam segini, di Pedalen Ayah sana,
sudah menunggu ratusan buruh pabrik semen Gombong
pulang kerja?
Juga bergalon ikan laut dalam –
seperti diminta restoran-restoran di Cina –
berkejaran di antara pecahan balok es.
Kini kereta mungkin telah meninggalkan Baron.
Makin ke timur panorama makin kabur.
Unggah-ungguh duniakah ini?
Kata-kata yang ingin mengikuti hal-hal meragukan,
sekali lagi kita cegah.
Tetapi beberapa ngotot, seperti dulu kata “ayu”,
tentang kekasih pertamamu, membujukku mengucapnya seru.
Padahal sekali pun aku belum pernah ketemu.
Kroya, 2014-2016
Badruddin Emce. Lahir 5 Juli 1962 di Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Ia aktif di PC Lesbumi NU Kabupaten Cilacap dan Tjlatjapan Poetry Forum. Kumpulan puisinya adalah Diksi Para Pendendam (2012).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Badruddin Emce
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 28 Mei 2016