Tangis Tembakau – Menangislah – Aku menemukan Tuhan – Pendakian – Ratapan Air Mata

Karya . Dikliping tanggal 15 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Republika

Tangis Tembakau

Di lembar daunmu
Aku dengar tangis ibu-ibu itu
Melinting-linting nasibnya
Di batu-batu

Menangislah

Menangislah! Lapar, resah gundah
Dan terdiskriditkan lalu tertatih-tatih
menyusuri bebatuan
Meratapi keangkuhan yang menjulai-julai
menusuki angin di dada
Hening terasa menyembilu, memerih di pulung
laut
Daam kerasnya karang ketamakan : Aku
menyelaminya pada riuh ombak menemukan 
cinta
tersesat jejaknya.
Kudus, April Akhir 2016

Aku menemukan Tuhan

Aku menemukan air mata, Tuhan
Di perut kita yang mengiba dibiarkan kelaparan
Mengaduh skait diusir gaduhnya keserakahan
; Aku menemukan air mata, Tuhan
Aku mendengar suara, Tuhan
Dari hutan yang kehilangan pepohonan
Hewan dan binatang-binatang pergi entah
kemana
Dan air tinggal air mata kita berguliran di jiwa
Aku merasakan resah, Tuhan
Di antara jejak-jejak kita yang kehilangan
arah
Tersesat di belukar bayang-bayang
Dan rindu terasa menggergaji kalbu
Aku menemukan, Tuhan
Pada sia-sia hidup yang membiarkan kita
kehilangan peta.
Kudus, April Akhir, 2016

Pendakian

Mendaki pada gunung
Di puncaknya aku cuma menemukan tebing
dan bebatuan
Mendaki pada bebukitan
Di tempatnya aku cuma menemukan belukar 
penuh kebohongan
Mendaki pad acinta
Pada riuhnya aku cuma menemukan banyak 
kepalsuan bersliweran
Aku mendaki dan mendaki
Berharap hujan dapat mengajariku pada kasih
sayang
Berharap angin dpaat memberiku arah pada
jalan kebenaran
Berharap air dpaat mengaruskanku pada
muara keabadian
Aku mendaki dan mendaki
Dalam rindu membuncah-buncah di kalbu
Aku mendaki dan emndaki
Mensyukuri nikmat-nikmat-Mu. Tuhan
Kudus, Akhir April 2016

Elegi Nelayan

Di atas perahu tongkang
Aku kehilangan laut, berlayar mendayung
bayang-bayang
Keringat melelah sia-sia dan mata terasa
berkunang-kunang
Memenadangi ombak tinggal keperihan
Dalam debur ombak
Yang terdengar tangis istri dan anak-anak 
lapar
Karena hari-hari hasil ikan berkurang digusur 
peradaban
Tak peduli banjir setiap tahun mengirim penderitaan
Di atas perahu tongkang 
Aku melihat wajah negeri buram
berselimut kabut kebohongan, keangkuhan
dan ketamakan
Di manakah kemerdekaan?
Di manakah keadilan?
Di atas perahu tongkang
Jiwaku seperti digergaji gerigi kemunafikan
Kudus, akhir April 2016

Ratapan Air Mata

Ini air mata siapa? rumah digusur, anak-anak
putus sekolah
Dan kelaparan, lalu para koruptor beranak
pinak menyiapkan diri
Menjadi penguasa di negeri sendiri
Perih menyembilu, banyak ratapan di wajah
ibu pertiwi
Dalam peradaban yang kehilangan harga diri
: Aku merenunginya di pusaran waktu penuh bebatuan
Kudus April akhir 2016
Jumari HS. Penyair Otodidak, lahir di Kudus, 24 November 1965. Karya puisi dan cerpen banyak bertebaran di berbagai media massa.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jumari HS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 15 Mei 2016