Mishima – Perisai Akhiles

Karya . Dikliping tanggal 5 Juni 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Mishima

1
Seperti pengungsi dari gempa, Mishima (aku bayangkan ia Mishima) pulang.
Lanskap rusak. Tapi ia ingin bergerak, kemudian tua.
Dan terbaring.

Dan Mishima terbaring, menatap langit-langit,
dari tiakr yang disepuh musim.

Rambutku hilang, ia berkata,
rambutku hilang. Tapi lihat,
aku tahu di mana aku akan tak ada lagi.

Setumpuk arang panas
Menghangatkan kakinya.

2
Di detik-detik berikutnya,
ruang itu mendengarkan ham:

Siul cerek melengking
dari didih air, sebelum
dusun tertidur.

Seolah-olah semua
Membiarkan kata-kata berhenti
pada shoji.

3
Di luar ashram, tiga hantu dari kuil
memukulkan beliung
pada paras waktu dan berkata:
Kau tahu, aku tahu, kita tahu.

4
Aku bayangkan Mishima berkata:
mimpi membujukku
dengan luka Santo Sebastian.

Tujuh anak panah
yang menembus tubuhnya yang berahi

meregang di pusarku.

5
30 tahun yang lalu aku pernah bersamamu ke Yudanaka
dengan kereta api pelan. Oktober meminta kita
menghirup warna daun. Tapi kau menyanyi kecil
dan membuka kutang, dan dua jam kemudian
di tepi bak air panas, kutemukan namamu
yang terhapus.

Minum, kau berbisik.
Minum.

Tattoo di lengan itu mengeriput seperti
daun terakhir. Tubuhmu sebuah kemarau:
anasir dan peristiwa
yang tak menyentuh lagi.

Baca juga:  Harin Botan

6
Seharusnya aku Narsisus
dengan tukak lambung

yang tak bercermin
ke wajah air.

Seharusnya aku Narsisus dengan amis ikan
yang meludah dan bersetubuh
di kolam itu
dengan arwah
dan humus hutan.

Mungkin aku tak kenal sakit hati
yang membalas.

Aku membaca tiap frase mitologi,
aku selalu ingin melengkapi: pedang

dengan matahari.
kembang dengan keringat, sungai
dengan sperma
yang tipis tertahan,

Apa yang tak bisa kita cintai sebenarnya
dari carut-marut bumi?

Seharusnya aku Narsisus, yang memandang
gerak-gerik mendung:
burung-burung Yunani yang sewarna
membentuk huruf. Tak punya arti

Dan tak pernah menengok ke kolam.

7
Lewat pintu geser, Mishima seakan melihat mereka,
dalam asap rokok: Kelasi kapal-kapal yang kalah
yang disembunyikan
di kotak waktu.

Rumah makan unagi ini tak mau mengungkapkanya.
Di lantai dua, tamu-tamu beku. Botol-botol beku.
Di dinding ada kanvas: hutan Guadalkanal,
pasir yang tak tersentuh perang,
pematang yang naik turun,
pengantin yang diusung ke tengah semak
dengan nyanyian hampir mabuk.

Tapi selalu ada orang yang seperti aku, kata Mishima,
yang tak ingin cerita alternatif.

Baca juga:  Nabi - Makam Kita - Pencurian Sekarung Arloji - Aturan Sewa Rumah - Danau Purba

Hari hanya satu narasi.
Tuhan menamainya kematian.

Dan Mishima terbaring, menatap langit-langit,
dari tikar yang disepuh musim.

2016

Perisai Akhiles

Sebelum menikam, ia tunjukkan sisi tersembunyi perisainya, dan berkata
pelan: Aku Akhiles, aku pembunuhmu. Aku tak datang dari negeri yang
berbahagia.

Tak ada penyair yang menggubah (atau mencatat) momen itu: enam detik
sebelum lehernya memuncratkan darah, Hektor melihat di logam itu lanskap
sebuah kota yang tak dikenalnya. Seorang dewa pandai besi telah menatahkan
sebuah mosaik pada lingkar luar, disertai kata-kata: Untukmu, Akhiles, aku
lukis kota yang putih, jembatan-jembatan yang menyilang kanal dan pasar ikan
sepanjang tepian. Aku lukiskan sederet tenda rempah-rempah, sederet kedai,
dan sebuah sirkus yang selalu mulai. Kau bisa lihat perempuan-perempuan
bergegas ke arah ladang dan laki-laki mencatatkan alamat mereka di pusat
kota, untuk sesuatu yang tak mereka ketahui.

Pendeknya, sebuah kota yang normal, seperti Troya—tapi dengan peta lain
yang tak disusun.

Di bagian yang tak disusun itu Hektor melihat orang-orang bajang hidup
dengan nama yang tak tersimpan. Tak ada arsip para dewa. Tak ada agenda.
Tiap fajar, di musim panen, mereka naik ke bukit yang berbeda untuk
menyanyikan sebuah kur sukacita—meskipun, Hektor merasa, suara mereka
sangat  parau.

Baca juga:  Napak Tilas Alejandra Pizarnik (1) - Napak Tilas Alejandra Pizarnik (2) - Omerta

Ia tahu orkes mereka hanya hujan. Terkadang angin. Terkadang angin.yang
Mengayun dahan sipres, selama berubah. Para dewa tak punya akses ke
pedalaman ini. Lagu baru saja disiaplkan dan kalimat akan tersirat, ”Kami
metamorfosis. Kami mengulang yang tak berulang.“

Hektor tersenyum. Sebelum nafasnya putus, ia merasa ia berseru: Tuan-tuan
yang tak punya nama, panggilah aku. Aku akan datang. Troya tak layak dipertahankan.

Dan ia rubuh.

Ketika kemudian Akhiles menyeret mayat pangeran itu dengan kereta perang
Mengitari kota Troya, di antara debu yang berkabung dan bertebaran ia
bergumam, Aku Akhiles. Aku tak akan pulang ke wilayah Zeus, ke kepastian
yang tak bahagia.

2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Goenawan Mohammad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi 4-5 Juni 2016