Oriza Sativa – Tulip Oliv

Karya . Dikliping tanggal 5 Juni 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Oriza Sativa 

: Warih Wisatsana

teach me filosofi padi
‘makin nunduk’ makin isi
teach me kesetiaan jerami
yang masih enak dimakan sapi
meski telah dibakar terik berhari-hari

teach me make sekar mekar di bibir pak tani
dan berdiri di bawah biji yang bakal berbuah dan menjadi
teach me thirty months sabar menanti
tahan dalam musim
tabah disergah deras hujan
lapang kemarau bertandang
tegak diterjang badai dan topan
kokoh ditimpa gempa dan bandang

teach me the examination of life
yang tak memberi materi sebelumnya

Baca juga:  Sarmin Mencari Kantil

2016

Tulip Oliv*

Kau beri makanan sisa pada anak yatim yang papa
Kau menidurkannya dalam peti mati yang belum jadi
Bocah cilik sembilan kepala itu tak pernah menentang
Meski kau perlakukan persis binatang

Hingga kautuduh ibunya panjang tangan
Anakmu babak belur seperti pecahan telur
Ia menantang pukulanmu dengan kabur
Ke kota ia berjalan, menadah kasihan

Dari pintu-pintu rumah kelaparannya
terbawa pada kebengisan ibu kota
yang tak bisa ditawar. Oliv bertemu kelompok kiri
Belajar mencuri dompet para pejalan kaki

Baca juga:  Kwatrin Buat KLR - Kwatrin Buat LSAG - Kwatrin Buat UK - Kwatrin Buat ATA - Kwatrin Buat SP - Kwatrin Buat SS - Kwatrin Buat WA - Kwatrin Buat TRS

ia berlari separuh mati takut tertangkap polisi
Seantero manusia kota menghakimi
Tapi Oliv bejo seseorang membelanya di meja hijau
ia bebas dalam lemas dan tak sadarkan-

Dirinya mulai berjalan ke kanan meski
Sukar. meski sempat para penjahat menyanderanya
‘tuk kembali ke kiri. Ia terpaksa kembali
Sampai tangannya berlubang kena tembakan

Dalam darah yang mengucur parah
Oliv dilarikan untuk sebuah kerahasiaan
ia dibawa pergi oleh seorang penjual diri
yang menemui mati. Seseorang menyerahkan
peristiwa pada keamanan. Seorang kaya yang
ujung pangkalnya menjadi bapak angkatnya.

Baca juga:  Dominus - Gelanggang - Ludus

2016-02-03

* Berdasar pada Novel Oliver Twist


Nuraz Aji, tkelahiran Klaten, 1996; kini sedang berjuang untuk Ujian Paket C
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nuraz Aji

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi 5 Juni 2016