Puasa – Lapar dan Haus – Ramadan – Sembahyang Airmata – Matahari Mengutuknya – Ingin Mnejadi Ombak

Karya . Dikliping tanggal 5 Juni 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Puasa

Dalam penglihatan
Aku puasakan mataku lalu berhening di kedalaman airmata
Agar dapat membedakan mana yang gelap dan terang
Untuk menemukan kebenaran hakiki
Dalam pendengaran
Aku puasakan telingaku lalu bermeditasi di kesunyian gendangan
Agar aku tidak terjebak suara-suara palsu yang menyesatkan
Agar aku dapat memaknai kerinduan dan cinta
Dalam penciuman
Aku puasakan hidungku lalu berhirup di palung pernafasan
Agar aku tidak sesak oleh tebaran-tebaran asap dan debu kemunafikan
Agar aku dapat bernafas dalam kasih sayang
Dalam lapar
Aku puasakan perutku lalu berzikir dalam detak jantung
Agar aku tidak mudah dibakar nyala nafsu kesombongan
Agar aku bersayap kesabaran, terbang mengarungi ketentraman-ketentraman
Dalam haus
Aku puasakan tenggorokanku lalu bertasbih mengimani ayat-ayatMu
Agar aku dapat mengembalikan kemanusiaanku
Dalam puasa
Rinduku menderu
Ingin dekat di sisiMu!
Kudus, Mei 2016.

Lapar dan Haus

Laparlah
Di perutku ada seluas kebun
Berbuah kesabaran
Hauslah
Di tenggorokanku ada sungai
Berarus rindu
Ber-air susu
Haus dan laparlah
Lahir bathinku berukuk sujud
Kepadamu, Tuhan.
Kudus, Mei 2016.

Ramadan

Pintu depan dibuka
Pintu belakang ditutup
Ada surga
Pada lapar hausmu
Kudus, Mei 2016

Sembahyang Airmata

Ini sembahyang airmata yang menetes rindu  ;
Ia ingin menjelma gerimis di musim kemarau dengan rintik ketulusan
Setelah hatinya dikepung terik bayang-bayang peradaban
Tak ada yang tertunda selagi nafas masih dapat menghirup udara
Atau mata kita ikhlas, takjub berpaling melihat cahaya
Saat doa-doa berguliran ada sungai mengalir mengantarkan cinta
Saat sunyi bersujud ada purnama terbit di jiwa
Saat hidup sementara ada kabar kematian yang menyapa
Ini sembahyang airmata yang bergulir membelah samodra :
Ia ingin berlayar dalam debur ombak memecah karang keangkuhan
Setelah pencariannya dipenuhi kekalahan-kekalahan
Ini sembahyang airmata
Berlinangan membasuh debu-debu yang melekat
Di dalam dada!
Kudus, Mei 2016.

Matahari Mengutuknya

Bagi para pemerkosa dan pembunuh yuyun
Di hidungku masih mencium darahmu
Baunya menyerupai angin mengantarkan gerimis luka
Menetes di kelopak mata, sampai sajak-sajakku menjerit kesakitan
Di urat nadiku
Darahmu mengalir dan mengalir, mengaruskan kepedihan
Suaranya menyembilu di relung-relung hati
Suaranya menggergaji harapan-harapan kasih sayang
Keadilan menyalakan kemarahan atas kebiadaban
Pada airmata yang menetes perih itu
Aku terbayang nasibmu seperti menyaksikan bilur-bilur hujan
Menderas perih dari peristiwamu yang tak akan terlupakan
Dan matahari pun mengutuknya, bukan?
Di sini,
Berjuta-juta nafas ibu dan anak-anak mengantarmu
Sampai ke pintu surga.
Kudus, Mei 2016.

Ingin Mnejadi Ombak

Di bibir pantai itu
Aku ingin menjadi ombak
Menderu dalam lautMu
Kudus, Mei 2016
Jumari HS, Penyair Otodidak, lahir di Kudus, 24 Nopember 1965. Karya puisi dan cerpen banyak bertebaran di berbagai media masa Indonesia. Buku puisi tunggalnya berjudul ‘Tembang Tembakau’ dan 22 Mei 2016 meluncurkan berjudul ”Jejak Yang Hilang” dan buku cerpennya berjudul ”Bayang-bayang Kematian ”. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jumari HS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 5 Juni 2016