Getik Ikan Bethik – Getting Ikan Keting – Sekat Ikan Sepat – Seser Ikan Bader – Lekuk Ikan Kutuk – Pepaya

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Getik Ikan Bethik

                     di kali jambe

mataku genangan mata air tawar
sirahku kuncung mekar merengkuh luar latar
sisikku mantel silap penyamar pandang
punggungku pun hijau ganggang pengecoh
senar para penjoran. getik manggar,
getik pelepah gedang, getik batang merang
getik apung kiambang, getik kangkung lanjaran
getik lumut akar poh bapang, sebab lagakku
acap tak tertakar. luput jerat, luput pikat
mana pinggang, mana pusar
terus mengumpan, urang rebon, cacing uker,
kepal nasi liwet, yuyu mbes, paha kodok,
jangkrik upo, kroto rangrang, terus mengumpan
sampai matamu mulur ke pangkal, ke sarang
sampai gelagar jadi goyang, pingkalmu menanjak
aku mengelak, rengkuhmu pun kian sesak, kian gelak
Jambe, 2014-2016

Getting Ikan Keting

dengan tuba berburu kau sudahi seteru
mengakhiriku dengan wulu wiru
menyembul dari balik sebongkah batu
betapa para penepuk sorak itu kian rindu
umpan yang diulurnya, jauh melewati
gerumbul pokok waru itu lindap dalam kecapku
menancap ke lubang dalamku
kian lalu kian seru membelit arus
dan geliat gempalku membekuk siasatmu
memperdaya kail dan senar
menekuri buih dan pecahan kayu
sungguh kau karib-seteru sejauh sendang
yang lagi tak dapat kau temu
karena hulu makin mengasingkanku
langit-langit makin meninggi, aku terjebak
ke dasar gelap jurang, dan perusuh itu datang
membawa pengap dan kepul asap
yang tak dapat diterka arah geraknya
selain melambungkanku ke udara
menghamburkanku kembali ke tanah
Sumokali, 2016

Sekat Ikan Sepat

                       sumur kebun cak wakiyi

dengan tubuh jorong, pun moncong runcingku
dengan duri kecil, pun kelihaianku
kelit-serong,
menyusup ke hulu rimbun, menghela setiap kutuk
dan reruntuk, menyusur lumpur, mengurai jalur
hampir terkubur,
bagaimana pun kami gandrung menata bilah keruh
mengukur maut ke tiap lengkung
sumur,
mengamini riwayat pun menakar umur
menafsir jarak pun mengintai cebur
bila terang,
bila bersua akan tersungkur
sungguh aku tak ingin kau mengakhriku,
seperti kembang apung terkental-kentul
di bibir sumur
bila
Sudo Kidul, 2014-2016

Seser Ikan Bader

                              dam sumokali

lambungku limbung terpiuh para penikung
mulutku megap terseruak gelungan ombak
gumpil retak akar semak tercebur  ke pinggir kolam,
keruh kian menjebakku dalam gejolak
duh gusti, seberang kian rupa gendam tak tertawar
langgam renangku mercusuar padam dalam remang
hinggar setinggi kuduk, lambai ditampik-ciut
sorak-sorai para penepuk, aku kian surut
duh gusti, telah kuselam lubuk sunyi agar aku
seteguh arus kali, telah kukerah sirip nyali
pun kemilau sisikku menyamar birahi
tapi gontai dayungku kian terhuyung,
haluanku serupa baling-baling tertekuk lumpur
aku meluncur, aku melucut, pun terkubur dalam arung
Sumokali, 2014-2016

Lekuk Ikan Kutuk

                         kolam paklik majid

lamatkan langkah, tungkai merendah
dalam kubangan sepanjang hentak bergelungan
tak beda benar antara lumpur dan rupanya yang legam
pun sisik lumut dan lendir siripnya yang kambang
ke rindang semak, ke bonggol akar gayam
lihailah ia merupa alur peranakan ular
kujur badannya tak juga nampak,
meski genang telah menghilir ke seberang
tapi rogohlah semata dengan jemari tenang
rasakan denyut yang berdentang dikeruh endapan
meski serangga berdengung membikin gatal pinggang
kian gesitkan lengan bila ada yang melintas serampangan
seperti menguncupkan dua telapak tangan, menukik ibu jari menggenggam
kencangkan lekat ikat, tolak lesat ke arah rumpun, rerumputan
Sidodadi, 2014

Pepaya

adakah aku sekantung peria yang iri akan kucir pahitnya
sedang dagingku kuning-jingga manga madu penatarsewu
sukacita ataukah duka terlara saat pemanjat itu merengkuhku,
melepasku dari buhulnya
seperti nasib yang akan mempertemukan kembali
saat-saat lumat dan senyap di rongga lidah
duhai tuan, bujang ataukah duda sudi merayuku,
ketimbang tinggal dalam keranjang saudagar
mending tuan membawaku serta ke meja jamuan
aku yang kian matang dalam timbangan, timanglah tuan!
sebelum penebang menabuh gendang sumbang
di pedukuhan, dan serak penawar kian kerontang di pematang
akan kuingat saat itu tuan, setelah subuh usai
ketika pengiris itu menanggalkan tudungku
memisahkan siasat-pahitku di atas talenan sajian
kemudian menumbangkanku dalam penggorengan
atau di atas talam bergambar mawar buram,
aku menyilang manis dalam hidangan
bukankan aku mula, dari sebulir getir belahan buah
kemudian tergelincir ke lekuk Tanah
Sumokali, 2014-2016
Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Ia kini tinggal dan bekerja di Sumokali, Sidoarjo, Jawa Timur. Buku puisinya bertajuk Nanas Kerang Ungu (akan terbit)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ferdi Afrar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “”Kompas” edisi Sabtu 30 Juli 2016