Matahari Turun di Kota Yogya – Sampai Hujan Tiada – Lelaki di Pinggir Rel

Karya . Dikliping tanggal 17 Juli 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Matahari Turun di Kota Yogya

Pada sudut-sudut Kota Yogyakarta kutemukan pagi bermekaran
Seperti hasrat perawan di malam pertama
bergejolak di anggur secawan

Matahari turun menyetubuhi keranuman pagi
Menghapus jalan setapak pencari nafkah di malam hari

Kususuri pagi hingga titik nadir
Lenggak-lenggok pepohonan yang berpending cahaya
Menghiasi wajah-wajah kota bersahaja

Di Yogyakarta aku sadari
Hangat matahari adalah hangat kasih baru lahir
Maka kubiarkan ia mengalir ke dalam batin

Baca juga:  Taubat - Kedudukan - Dinding - Istirahat

Sampai Hujan Tiada

Kita masih bersama malam
Pada hujan yang tiba-tiba gadang
Kita menerobos kenang

Bumi menghitung rintik hujan
Langkah kita terhapus seketika

Seekor cecak merayap kebasahan
Ia cacat bulir hujan sebagai doa
Sebagai kisah yang terpisah
Antara jejakku dan jejakmu

Kita menerobos hujan dan kenang
Di sebuah pertigaan
Jalan ke rumahmu lebih dekat jalan ke silam

Kita di sini, tak memilih apa-apa
Sampai hujan tiada

Lelaki di Pinggir Rel

Duduk memandang rel yang kosong
Melihat masa depan dibawa laju kereta
Ia menyusun lagi angan-angannya
Menjadi seorang pejabat yang gampang mencuri

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-2 Mei 2015

“aku ini orang miskin, mau nyuri aja susah”

Sebelumnya, ia dipukuli karena mencuri mangga
Oleh pejabat pencuri uang negara

Setiap kereta lewat angan-angannya hilang
Ia pun menyusun lagi angan yang berbeda
Begitu seterusnya

“aku bermimpi, suatu saat tidak ada hasrat kuasa,
semuanya sama, hidup berpelukan”

lelaki itu hilang di rida-roda kereta.

Yogyakarta, 2016



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Rasidi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 17 Juli 2016

Baca juga:  Elegi Musim - Cahaya yang Dipetik Tuhan dari Dada Malaikat - Pada Pelukan Rembulan - Kelahiran Puan Hasanah - Kembali ke Peraduan Tuhan - Secangkir Kopi Tiam