Pohon Alpukat – Pertarungan di Laut – Pohon Alpukat

Karya . Dikliping tanggal 3 Juli 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Tentang Tuan Eksil

Kelasi lata, kelasi hina
kami diam di kamar kelas tiga
jangan ketuk! pintu terbuka saja
terkangkang ke luas pandnag
bebas masuk
kau angin buruk
buat aku mabuk
kami meringkuk

di kamar kelas tiga

dagang celaka
dari tanah koloni

pahit napas bumi

“dengan perjalanan jauh
aku merasa jenuh.”

sebentar lagi, sebentar lagi
akan kau temui, kakanda!
– semenanjung Hadramaut
kota tanah tumpah darah
jihin gurun jihin lembah
hantu laut hantu samudra
dari kitab segala wangsa

tapi aku sedang tidak butuh agama
aku perlu kafe dan sbeungkus sigaret

untuk mengusir melankolia
yang datang begitu saja

Baca juga:  Rumah Raksasa - Penjual Sarapan Pagi - Beri Aku Jarak - Mulut Ibu - Tubuhkan Aku dalam Tubuhmu - Datang di Hari Minggu - Jus Alpukat

tentang tanah asal
ombaknya hebat
pantainya jingga
kabut kelebat
“adakah kau punya kenalan di darat?”

hanya seorang pialang, engku
yang terlilit hutang

o, celaka dagang
di kamar kelas tiga
kau amuk bala!

Pertarungan di Laut

Menyeberangi selat
ombak tinggi berdinding

apa yang ada padamu
akan tumpah ke laut

sejak semula
kami miskin-papa
badai maha kaya

kamu ingat ibu-bapak?

ombak tinggi berdinding
ingatan lepas-terpelanting

menyeberangi selat
sempit ini hanya
bagai menyeberang
samudra ke samudra

hati kamu kecut-beku
bibir terkatup biru-hitam?

kami bersorak riang, tau!
bagai kuda di gelanggang

Baca juga:  Sang Pertapa, Mintaraga - Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan - Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya - Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa

“hora,hora, hora!”

ombak makin tinggi jua…

Pohon Alpukat

Langit putih
kabut putih

pohon alpukat di tebing lembah
buahnya lebat tergantung-gantung
bagai bohlam di dada gadis-dara

di bawahnya anak kerbau tidur
dengan emak yang insomnia

dalam satu kubangan lumpur hitam dari Merapi
yang kini baru pingsan, tetapi ketika terjaga nanti?

kamu pasang mata awas
seperti akan datang wabah
beriberi atau kaki gajah
batuk hitam dan rabu basah

pohon alpukat yang menahan laju hujan
berayun-ayun dlaam langit putih kabut putih
daun-daunnya telah rontok semua
ranting-rantingnya ranggas kelabu

di bawahnya ada pondok
dan sepetak ladang
arit yang terselip pada dinding
dan pacul dengan sisa tanah kemarin petang

Baca juga:  Padri Penghabisan - Khotbah Rahib Tua - Cubadak Paradiso

kamu pasang mata awas
seperti akan datang…

semacam revolusi
yang meledak lagi!

tapi langit putih sempurna
kabut menggayut bagai buta mata.


Deddy Arsya tinggal di Sumatera Barat. Buku puisinya berjudul Odong-odong Fort de Kock (2013).
Rujukan:

[1] Disalin dari karya Deddy Arsya

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 2 Juli 2016