Sang Pertapa, Mintaraga – Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan – Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya – Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa

Karya . Dikliping tanggal 31 Juli 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Sang Pertapa, Mintaraga 

Siapa sesungguhnya Begawan Ciptoning alias Begawan
Mintaraga. Tersiar kabar hingar-bingar, sampai ke kahyangan,
tempat orang-orang — eh wayang-wayang, yang lebih tinggi
derajatnya.
Ia hanya dari kalangan orang biasa — et wayang biasa-biasa
saja. Hanya sedikit lebih tinggi derajatnya dibanding rakyat
jelata.
Diam-diam, di kalangan kahyangan berpusing-pusing.
Kok wayang biasa-biasa saja jadi Begawan.
Ia memang masih trah, keturunan raja-raja. Dari keturunan
Pandawa Lima, urutan ketiga. Ia bernama Arjuna. Yang
menyembunyikan jati dirinya. Ia dari kalangan akar ilalang,
memang bukan sekedar akar rerumputan. Ia bertapa tak mudah
goyah godaan. Ia hebat karena kuat.

Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan 

Telah tiba saatnya. Wahyu Jatiwasesa dijatuhkan. Bersama
hujan. Di malam orang-orang lena lelap.
Antara Astina dan Amarta memang ada yang gemar menduga-duga,
Wahyu Jatiwasesa bakal di puncak
Menerakresna, di gunung Patrakelasa.
Dalam wadah yang bersih indah beraroma nirwana. Dan jadi
rebutan dua kerajaan yang berbeda bagai malam dan siang.
Ada yang ingin mendapatkan dengan cara instan. Ada juga
dengan laku spiritual. Ada yang mendapatkan atau bukan dengan
keikhlasan.
Ada yang harus mendapatkan meski dengan cara keculasan.
Orang-orang Amarta yang biasa peka rasa menduga orangorang
Astina akan meraih dengan cara tak semestinya.
Wisanggeni dari Amarta yang konon manusia setengah dewa
diam-diam sengaja membuat wadah Wahyu Jatiwasesa tiruan.
Dan Durna dari Astina tergesa-gesa, terpedaya, memilih
wadah Wahyu Jatiwasesa yang bukan aslinya. Hanya
Abimanyu sesungguhnya yang berhak mendapatkannya.
Karena Abimanyu yang gemar bertapa dengan kesungguhan.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (5)

Karena Sedang Bertapa
Sadewa Menunda Pernikahannya 

Di negara Selamerah Sang Prabu Rasadewa kesohor memiliki
anak gadis yang luar biasa cantiknya. Kabar ini terdengar
ke mana-mana, hingga ke manca negara. Dewi Rasawulan
namanya. Anehnya, siapa mempersunting kelak akan jaya di
arena perang Baratayuda. Banyak yang kepincut melamarnya.
Dursasana dari dukuh Banjarjumput pun ikut-ikutan mencoba.
Janaka yang sudah banyak istri juga ingin mengoleksinya.
Demikian pula Prabu Dewakesuma dari Praja Simbarmanyura
ikut mabuk asmara. Tetapi justru Kresna yang
berhak menjodohkan Dewi Rasawulan dengan Sadewa. Dan
itu kehendak para Dewa.
Hanya saja Sadewa ingin menunda hari pernikahannya karena
sedang menyelesaikan bertapanya.

Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya 

Hanya karena kuatnya iman yang benar seseorang bisa
menerapkan kebijaksanaan sesungguhnya. Cuma lantaran
iman yang benar seseorang dianugerahi indra keenam
yang tajam.
Sang Betara Kresna seolah selalu dituntun bisikan gaib.
Tahu jodoh Setyaki hanyalah Dewi Endang Tri Rasa, putri
Begawan Bratasudarsana dari padepokan Candi Atar. Maka
Betara Kresna selalu mengawasi Sang Dewi agar tak jatuh
ke tangan lain lelaki.
Diam-diam Batara Kresna menyusup ke taman kaputren
Candi Atar. Bercokol di sana. Tetapi wujudnya malih macan
sebagai upaya penyamaran. Meski ujudnya macan bisa
berbicara seperti manusia. Memberi nama dirinya Sardula
Buda Kresna.
Datang Adipati Karna dan para pengawalnya dari kerajaan
Amarta ingin melamar Dewi Endang Tri Rasa, tetapi sang
macan menghalang-halanginya, menyerangnya. Datang
sang
Dursasana dari Banjarjumput, tetapi maut nyaris merenggut,
lalu nyalinya ciut dan hanya bisa segera pulang membawa
dendam yang tak alang kepalang.
Resepsi penikahan Setyaki ditunda. Karena Setyaki sedang

Baca juga:  Menjelang Sapu - Mensyukuri Sapu - Sapu Lidi - Sapu

Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa 

Di Padepokan Giri Bentar, tempat yang kesohor amat gawat
kelewat-lewat.
Ibarat siapa berani mendekat bakal menemui sekarat.
Banyak binatang buas liar yang selalu haus darah dan daging
segar.
Ditumbuhi semak belukar. Cadas-cadas keras mudah runtuh.
Pohon beracun banyak tumbuh.
Tempat yang seram. Tetapi di sini Begawan Sapwani berdiam.
Dijadikan tempat bertapa, memuja-puji kepada Dewata ingin
mendapatkan keturunannya.
Tak disangka. Berkat keteguhan bertapa. Jatuh di pangkuannya
bekas bungkus bayi Bima yang dilemparkan Gajah Sena.
Bekas bungkus bayi Bima sirna, berganti bayi sehat yang
sempurna.
Bayi tiban itu diberi nama Jaya Jatra.
Kelak setelah dewasa disuruh melacak keberadaan Bima.
Tetapi sial, Jaya Jatra kesasar ke negara Astina bukan ke
Amarta.
Dan disandra di sana. Sebelum ketemu Bima.
Dan, agar tak mudah terlacak diubah namanya menjadi
Sindunata.
Agar benar-benar lupa asal-usulnya. ❑ – c

*)Sunardi KS, lahir di Desa Mayong, Jepara. Menulis di beberapa
media cetak dengan bahasa Indonesia dan daerah
(Jawa). Buku kumpulan puisi berbahasa Jawa-nya berjudul
Wegah Dadi Semar, 2012.bertapa



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 24 Juli 2016