Seekor Burung Jatuh – Sebuah Kota Tenggelam – Sebuah Pasar Terbakar

Karya . Dikliping tanggal 17 Juli 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Seekor Burung Jatuh 

Seekor burung jatuh
di koran pagi.

Orang-orang pun sibuk
menduga-duga penyebabnya.

Ada yang menyimpulkan
burung itu lapar dan kelelahan.

Mereka yang keberatan
justru menganggap
karena terlalu banyak makan
sehingga dia tak mampu
mengendalikan berat badan.

Ada juga yang berbisik
bahwa binatang darat dan laut
yang cemburu telah meniupkan
angin kencang, sehingga
dia kehilangan keseimbangan.

Tapi para ahli menegaskan
bahwa burung itu sudah renta
dan tak layak terbang.

Sementara seorang lelaki
yang sedang jatuh hati
dengan tenang menuduh
gravitasi sebagai penyebab
paling pasti.

Sebuah Kota Tenggelam 

Sebuah kota tenggelam
kota dengan beban
yang berat
beban hidup.

Baca juga:  Tilas Harimau - Langgam Harimau - Mengkaji Langkah Surut

Gedung-gedung
dan rasa iri sama
tingggi.

Hujan dan cemburu
sama deras.

Masalah dan batu-batu
sama keras.

Kota dengan napas sesak
dan cinta yang rusak.

Kota yang menampung
terlalu banyak air
dari tubuh manusia
kini menjelma aquarium
di mana mereka
serupa ikan yang bosan
berenang, mengerang.

Sebuah Gedung Rubuh

Sebuah gedung rubuh
gedung sekolah.

Tak ada pesawat jatuh
menabraknya
atau gempa keras
mengguncangnya.

Gedung itu hanya rubuh
seperti seorang lelaki renta
tanpa cinta di tepi senja.

Baca juga:  Sisir

Mungkin karena tak ada
yang ingin menjaganya
selain angan dan angin.

Atau karena memang tak ada
yang bisa memerintahkan waktu
untuk tak terlalu terburu-buru
berjalan menuju kehancuran.

Sebuah Pasar Terbakar 

Sebuah pasar terbakar
di televisi.

Sesaat, sebelum pengendali api
tiba di lokasi, pasar itu sudah
seluruhnya terbakar.

Sementara, jauh sebelumnya
orang-orang dengan setengah
sadar
berusaha memadamkanya.

Para pedagang yang tak berdaya
menyiramnya dengan air mata
mereka yang marah
meredamnya
dengan ludah dengan susah payah.

Tapi api mampu membakar
bahkan harapan hidup
yang jauh lebih besar.

Baca juga:  Karena Tahta (tentu) Brajadenta Berontak - Kurupati Tersandera Arjuna - Rakyat Menanti-nanti Putra Abimanyu - Sang Bima dan Gatutkaca Gentar Di Dunia - Hanya Bima yang Paham Kelahiran - Ketika Wrekudara Terangkat Derajatnya

Segala yang mengalir
dari tubuh mereka
tak pernah bisa meredam
nyala dan membongkar
rahasia di balik ganas
panasnya.


Edwar Maulana lahir di Cianjur, Jawa Barat. Sedang menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Siliwangi Bandung.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Edwar Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 17 Juli 2016