Juru Silat Lidah – Juru Ulek

Karya . Dikliping tanggal 28 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Juru Silat Lidah

Jalan bertarungku jalan diam.
Tak mahir bila kusiarkan jurus
terang-terangan di hadapan para
jawara yang gemar kumat. Maka
ikhtiarku menjerat bakal lebih liar
dari kabut penidur. Kutajamkan
ujar agar semburnya sekuat racun
ular. Kumainkan kemajnunan biar
tak kentara hadanganku di hadap
yang mahir berjurus-jurus hewan.
Kuselipkan satu dua slintut tajam,
lebih tajam dari pedang, lebih gahar
dari rajam. Kini kuselimuti segala
perangkat perang dengan kesantunan
sebab tak seru lagi memulai palagan
dengan sekadar ancang-ancang.
(2016)

Baca juga:  pancanaka - prawitasari - monolog cermin

Juru Ulek

Medan pertarunganmu tak terawi kitab.
Maka pergi saja ke palagan paling biasa.
Lepaskan segala kegemilangan. Beralihlah
ke rupa lengkung sederhana. Berpaling saja
menuju cekung paling bersahaja. Yang tahan
menunggu tempaan keras tiba. Persiapkan
pergelanganmu. Pelan-pelan lenturkan dari
urat kaku-kaku. Kukuhkan, teguhkan ia dari godaan
alur saraf yang kadang menyimpangi rapi perlajuran.
Tak perlu kau tuntun tendangan setinggi kepala.
Yang musti majnun tak lain pijak kaki. Tata pijak
dengan tertib, seteliti semut menelusur ubin lantai.
Sewaspada mata mengawas bintang musim panen.
Bila telah seimbang semua dari kepincangan,
perhatikan benar yang berkacak di hadapan. Jangan
memeluk dengan sergapan garang beruang. Cukup
memerinya lamat-lamat selaku komposisi
yang seimbang dan tak kurang. Tertibkan. Sepadankan.
Bersamaan biar yang di atas meja makan tak melanggar
laku kesahajaan.
(2016)

Dody Kristianto lahir di Surabaya, Jawa Timur. Saat ini ia tinggal di Serang, Banten. Buku puisinya adalah Lagu Kelam Rembulan (2012) dan Petarung Kidal (2013).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dody Kristianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi 27 Agustus 2016