Makrifat Allah – Lambang Kehidupan – Menuai Panen – Ingin Kembali – Temu Manten – Nikmat Mimpi – Ungkapan Perasaan

Karya . Dikliping tanggal 14 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Republika

Makrifat Allah 

Kau menyatu bersama keyakinan
Selalu kusebut dalam henak nafas yang keluar
Kau adalah keabadian mengembalikan
manusia dengan sempurna
Kau mahakuasa penentu rezeki dan usia
Oh, manusia tidak lebih hanya tanah,
Oh, manusia ialah badan yang akan rusak
Jiwa dan raga manusia seperti burung dalam
sangkar
Sangkar yang akna rusak karena usia
Sedang jiwa akan lepas bagai burung
mengepakkan sayapnya
Tuhan, kokohkan kakiku untuk melangkah
menuju surgamu
Tuhan, tempatkan jiwa-jiwa suci ini di
sampingmu
Tuhan sempurnakan awal dan akhir kami
Tuhan hanya kepadamu kami bersimpuh
Setono, Juli 2016

Lambang Kehidupan 

Tanah menapakinya,
Angin merintanya.
Matahari menyinari,
Hujan menangisi
Kilelono, mei 2016

Menuai Panen 

Kini ladang disentuh sepoi sedesah angin,
Bila satu runduk maka gemetarlah pula
lainnya
Semua merasa tersayat sabit luka
Kembang-kembang dan tangkai-tangkai lain
pun pasti ikut menggigil ketakutan

Ingin Kembali

Salam buatmu yang kurangkul dalam embun pagi,
Ketika kertas tanggal telah banyak berjatuhan
Salam hangat kasihku
Lewat sepasang mata camar penuh cinta ini,
Lewat pepohonan digusar badai kubuktikan 
kesetiaan
Cericit kecil telah membutuhkan pelukanmu
Pembayung, 2016

Temu Manten

Sewaktu-waktu kau akan menemukanku di
tempat ini
Persisi, keika kupandang nanar matamu lewat
bulan purnama
Lewat garis-garis telapak tanganmu akan
sampai kepadaku di tempat ini
Kala semburat sepasang bola matamu berpendar
penuh cinta
Bercakaplah soal mimpi serta harapan di 
tempat ini
Semoga bahtera kehidupan kita bahagia
Di ujung tempat ini,
Adalah mimpi kita
Rantam Sari, 2015

Nikmat Mimpi

Kupuisikan kenangan dlama selembar kertas,
Selalu kubaca sebelum tertidur pulas
Kupanggil kau pada sebuah mimpi,
Sampai waktu malam hingga larut malam
sekali
Dalam bait doa, dalam bait waktu,
Semoga doaku bersanding denganmu lagi
Ontorejo, mlarak 2014

Ungkapan Perasaan

Untuk yang tahu rindu,
Kenal pesakitanku!
Terdalam nun jauh
Dan canda tawamu
Kulemparkan pandanganku,
Sampai paling jauh
Ah, sayang hatiku jauh di pulau
Aku peluh
Aku rapuh
Untuk yang tahu rindu
Kenal pesakitanku!
Carat, 2016


Muhammad Septian Yoga. Mahasiswa S1 di STKIP PGRI PONOROGO Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif di Organisasi Himpunan Mahasiswa Penulis (HMP) di Ponorogo.
Pemenang lomba cerpen Harlah IPPNU, karyanya di antaranya atelah dimuat di majalahm lokal. Karyanya cerpen juga pernah dibukukukan dengan judul “Mirah dan Golan.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Septian Yoga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 14 Agustus 2016