Ar Rahiim – Perjalanan ke Bagdad – Tentang Kemenangan Berikutnya

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Ar Rahiim 

Yang membuatnya begitu kokoh 
adalah kasih sayang 
Melindungi nuthfah hingga menjadi darah 
Merawat dengan tabah maka jadilah mudghah 
Selanjutnya tulang belulang hingga ditiupkan ruh 
Di dalam rahim manusia benar-benar dipersiapkan 
Dan lahir dan menangis dan bodoh dan dzalim 
Dan bernafas dan lupa bagaimana caranya bersyukur 
Padahal sebelumnya telah bersaksi dan berjanji 
Yaa Rahiim 
Durhakaku pada catatan peristiwa di masa lalu, 
hapuskan 
Dosaku, sucikan 
Sujudku, kabulkan 
Ibuku, muliakan 

2015 

Perjalanan ke Bagdad 

nanti, kamu ke sana jangan sekadar pemelesir 
memang, sebagian besar buku sudah musnah 
hanyut. tenggelam di tigris. hangus. terbakar. miris. 
mongol pelakunya. tapi itu kota, 
tentu saja masih simpan itu sejarah 
fakta kehancuran juga realita kegemilangan. 
anakku, tentunya ibumu telah bercerita tentang harun ar
rasyid 
nanti, kamu ke sana, jangan sekadar jalan-jalan saja 
2016 

Tentang Kemenangan Berikutnya 

”kita tidak lahir dari buku-buku sejarah dan cerita para guru 
di sekolah,” 
katamu sambil melipat kembali penunjuk arah yang ber
serakan 
di dalam peta. sepasang mata coklatmu lindap, menancap 
pada reranting kering di penghujung musim dingin. lalu lirih 
kau berbisik, entah kepadaku, 
entah kepada angin. katamu: masih 
ingatkah kau akan perebutan 
konstantinopel? di sekolah-sekolah turki, mereka akan 
bilang itu adalah kegemilangan 
kaum muslimin. di waktu yang sama, di sini, orang-orang 
balkan akan mengajarkan 
ke anak-anaknya tentang runtuhnya kota besar kristen 
secara tragis. 
dan kita, tak berhenti memperdebatkannya. 
matahari di sofia masih samar sebab salju di puncak vitosha 
masih merajalela. angkuh dan perkasa. menebar dingin 
anpa 
umpama. tiba-tiba saja kau merobek peta. katamu: kita 
hanya perlu 
melangkah. saat angka-angka kalender semakin ringkih 
untuk menceritakan 
peristiwa kepada bayi-bayi yang lahir kelak. media. semua
ini salah media! 
aku merasakan marah mengalir di darahmu. seperti 
terwarisi amarah 
yang mengalir di darah para pejuang thrakian*). selain 
media, kau juga menyalahkan 
kapitalisme. pemenang perang. perusak identitas orang-
orang balkan. katamu: dulu 
kami percaya sosialisme akan menjadi pesaing utama 
sistem yang hari ini berkuasa. 
kelak, kami akan merampas media dan akan menyuarakan 
tentang sama rasa 
sama rata ke seluruh dunia. tapi apa nyana, 
orang-orang balkan 
hari ini harus tunduk dengan demokrasi bentukan mereka. 
dari banya bashi**), sayup-sayup kudengar suara adzan. 
katamu: pergilah bersembahyang. katakan pada tuhanmu, 
kita tak mau lagi ada perang. 
aku tersentak. nyaris saja kehilangan diksi yang sudah 
bersiap 
di kerongkongan. aku undur diri, kataku: ya, kemenangan 
berikutnya 
akan diraih tanpa peperangan. 
2016 
*) thrakian: suku asli yang mendiami tanah bulgaria semenjak ratusan tahun sebelum masehi sampai akhirnya terusir oleh pasukan roma (alexander agung) di abad 1 masehi. 
**) banya bashi: nama masjid yang terletak di tengah kota sofia, ibukota bulgaria yang didirikan dimasa kekhalifahan turki utsmani. sampai hari ini menjadi satu-satunya masjid yang kota sofia yang masih digunakan untuk beribadah umat muslim di bulgaria. 
*) Pay Jarot Sujarwo, Lahir di Pontianak, 5 Juli 1981. Berproses kesenian, sastra dan teater di Yogyakarta. Saat ini mengelola penerbitan di tanah kelahirannya, menulis 15 judul buku baik sastra (puisi, cerpen, novel), maupun buku-buku traveling. Hobby traveling telah mengantarkannya mengelilingi beberapa negara di Eropa dan Asia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Pay Jarot Sujarwo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 11 September 2016