Dari Kafe Jabaru ke Headline Koran Pagi – Aku Tak Mampu Mencium Keningmu

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Dari Kafe Jabaru ke Headline Koran Pagi 

Apalagi yang mesti dibanggakan dari
lelaki rombeng. Malam berjingkat, tak lagi
rebah di sisiku tak pula memeluk-mendekap
hingga saling mendesah seperti 22 tahun lewat
saat malam pertama cuaca meneguhkan
maklumat: cinta!
“Ya tak perlu lagi dibanggakan, diharapkan
apalagi. Ia sedang bertabiat. Berkendara syahwat 
dan bergairah membanting kartu di meja
peruntungan,” kata perempuan separuh baya
              tentang suaminya
Di meja 13 cafe Jabaru
Kami bersahabat singkat
Di luar, langit memucat. Bulan sepenggal
condong ke barat. Sesekali musik
bagai tak terdengar walau di atas panggung
sang pelantun bagai sekarat
Lelaki rombeng? Aku terbelalak
Mata kucingku menembus matanya memerah
Tapi tangannya lincah memainkan sebatang rokok
di antara jari tengah dan telunjuk
“Aku mungkin juga rombeng,” selaku
“Kau tidak rombeng!”
“Bukankah aku sejak larut malam 
hingga dini hari ini masih bersamamu?
Tentu aku rombeng pula…”
“Kau di sini karena tugas. Tentu beda. Lagi pula
setia menemaniku, itulah yang istimewa,” ceracaunya
              dalam aroma alkohol yang mendera.
Kupikir sia-sia melanjutkan bicara
ketika tiba-tiba kepalanya bersarang
di bahuku, embusan nafasnya kian
liar, dan matanya terpejam
Pada mulanya hanya nama tanpa alamat
Persahabatan berlanjut memapahnya ke dalam mobil
Kubawa ia keliling kota hingga Subuh yang basah
“Di mana rumahmu,” bisikku sehabis membanting stir
                     karena kantuk
ia menoleh dlaam wajah
kusut. “Bawa aku ke manapun kau suka,” katanya
Tiga putaran bulan dan matahari
Aku tak kuasa mengindahkan maunya,, kecuali membawa 
paksa ia pulang  ke rumah ke rumahnya
Kuserahkan kepada lelaki rombeng yang ternyata
karib lamaku 30 tahun lalu
Tiada pembicaraan berarti selain pesan singkat
“Ambil istriku kalau kau mau,” ucap si karib
Seminggu kemudian headline kami mesti
menyuguhkan  berita tentang perempuan yang tewas
bersimbah darah akibat dihajar dan dibabat
parang oleh sang suami rombeng…
Agustus, 2016

Aku Tak Mampu Mencium Keningmu

(sepenggal kisah kawan terlunta)

Dering teleponmu masa lalu
Masih mengganggu rencana tidurku
Walau akhirnnya terlelap, tapi mimpiku berantakan
–Kau lamban mendekat. Seperti ragu, lalu balik
badan berlari menuju rumah
menyalakan televisi yang berkabar
duka:
       Seorang kakek menyetubuhi bocah tetangga
       Lima sekolah menengah atas
       menggilir janda penjual miras oplosan
       Pedangdut kondang mengulang kisah kaum Luth
       Melampiaskan paksa hasrat kelelakian
       pada remaja putera yang mengidolakannya
       hingga menyorongkannya ke gemuruh sepi penjara
       Sedangkan mayat bayi dibuang, tergeletak di halaman
       sebuah rumah saudagar kikir.
“Bayi siapa gerangan,” gumamku dalam tidur yang 
       sempat terjaga oleh tabiat sepasang kucing
       berjuang meraih puncak nikmat.
Lagi-lagi kau diam. Mengalihkan channel
televisi yang menyuguhkan kisah-kisah
luka:
       Bandar narkoba mengulangtakbir di hadapan regu tembak
       Pada detik-ddetik penghabisan meregang nyawa
       Sekawanan perampok mengikat pemilik rumah
       Membabatkan parang ke leher pembantu
       laki-laki yang memergokinya, serta aksi
       puluhan densus 69 berseragam dan senjata lengkap
       mengepung sebuah rumah dengan
       tangkapan mati seekor kecoa
Tak kapok mengulang alih channel keparat
Kali ini kau terperanjat saat wartawan gosip
melapokan:
       Pesta pernikahan termahal sepasang selebritis
       yanng berujung perceraian
“Puih, cuma perayaan kepalsuan cinta!” sinismu.
“Tak ada yang abadi. Tak ada yang suci,” sentilku
vmencoba meraih lenganmu
Ingin rasanya segera memeluk dan mencium
kening pualammu. Tapi kau selalu lebih tangkas
menggeser tubuh sambil memencet remote control
mengalihkan ke shannel berikutnya
“Mampus kau,” serumu penuh kebencian, saat televisi
       mempertontonkan seorang koruptor
       yang menyambut vonis penjara dengan tawa
“Kenapa kau murka?” selidikku
“Lebih sadis dari aktor pembom menara kembar,” jawabmu.
“Lebih sadis jugakah dari penguasa zalim?” desakku.
“Tentu. Koruptor yang menyambut vonis dengan 
senyum itulah penanam janin di
tubuh wanita yang teroaksa membuang
bayinya. Sedangkan kau setali tiga uang dengannya, masih
menginginkan tubuhku setelah 20 tahun raib
dalam buaian perempuan lain”
“Lantas kau jugakah ibu dari bayi ta berdosa
dan dibuang itu?’
“Bukan. Ibu dari bayi itu adalah karibku. Ya, gadis yang 
pernah berulang kali kaugauli sembari
dijejali janji intan mutu manikam kehidupan
masa depan,” jawabnya seraya menyambar gunting
       di atas meja, emnusukkannya ke dada
       hingga tembus jantungku.
Darah bagai cat tumpah. Mata membeliak, mulut
menyeringai
Dan tubuhku tak ubahnya pepaya disergap puting beliung
sebelum akhirnya terkapar sia-sia
di antara kehangatan pagi yang tinggal sisanya
(“Astagfirullah, bahkan dalam mimmpi pun
aku tak mampu lagi mencium keningmu.” gumamku ketika
                                                 benar-benar terjaga
              dari tidur yang tak diawali doa!)
Mangkubumi, Agustus 2016
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ismet NM Haris
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 11 September 2016