Deathnote – Kami Sama Beruban – Yang Kemah di Kuburan – Setelah Seribu Hari – Cross The Universe – Di Lorong Krast

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Deathnote 

orang meninggal mirip si
penyelinap. susah dicari

dan kita hanya menanti mati
–momen mengumpet

akankah bersua meski amalan
beda? mungkin tak pernah

: aku menangis–meledakkan
kilangan. ketertinggalan

2016 

Kami Sama Beruban 

meskipun sama berambut uban
tapi kepala kami

: beda. terlebih isinya–terutama
batin. iblisnya

berbeda. target dirayu: beda
–tapi si penawarnya

: tunggal–menahan diri. hingga
kamipun sama beruban

2016 

Yang Kemah di Kuburan 

saat memasak mi godhog-endog
–untuk sarapan–: aku

Baca juga:  Menurut DPR - Menuju Gerbang Sekarat - Dengan Talqin - Dana Kampanye

ingat bencana alam, kemah
pengungsi, dan rumah buat

pulang. tapi tak pernah: mayat
kembali dari kuburan

–mereka macam diungsikan
ke alam lain. menghilang

meninggalkan uar panas rindu
–mengukus batin. gemetar

: gelesar perih tidak kunjung
reda di irisan kangen

2016 

Setelah Seribu Hari 

setelah satu bulan: apakah
arwah masih di rumah

atau tercenung melihat tubuh
busuk dan pelan berai

dimakan jentik? mengenangkan
segala kemudaan, dan

yang tersiraih, dan kini: semua
pelan mengurai. sirna

Baca juga:  Luka yang Abadi - Ranting Pohon Kehidupan - Sunyi yang Perih - Rintik Gerimis yang Merdu - Gugur Mawar di Atas Dada Sunyi - Berbagi Laut Kepadamu, Weisku

pada seribu hari, ketika arwah
menghuni kekal

: perlukah nisan marmer, kalau
kau kukuh di dalam Allah?

2016 

Cross The Universe

horison jauh seperti dinding
–tirai kelambu surya

ketika pagi jelma, kabut pun
luruh: hangat menjelma

saat dewasa: pesiar ke pesisir
–horison geser

dengan pesawat lintas benua,
horison berubah kubah

ketika mati: ruh melayang,
horison malah mengepung

sepi sendiri. Tuhan, tunjukkan
arah untuk kembali

2016 

Di Lorong Krast

jangan selalu berpegang pada
kenang: sebab hidup tak

Baca juga:  Di Keluasan laut - Tukang Masak - Menolak Menjadi Batu - Hari Pekan - Selepas Gerhana

bisa diralat, diperbaiki, atau
direstorasi

mustahil–tidak mungkin. hidup
sekali, tanpa ulangan

mari memilih refleksi. bersemedi
lebih intensif

tak lagi akan cari senang sendiri
–ruh mengsigumpal

2016 
*)Beni Setia, Pengarang. Email: benisetia54@yahoo.com
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi akhir pekan, 4 September 2016