di panggung – di malioboro – pergi ke yogya

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

di panggung

“itu hanya panggung
dan tak ada yang benar-benar terjadi di sana,”
seseorang, mungkin dokter, mungkin ia berasal
dari jakarta, berkata
penata lampu bermain terlalu banyak
dan cahaya yang menggenang menenggelamkan
kelakar sebelum seseorang sempat bersiap
tertawa
“tak ada yang benar-benar terjadi?”
tak ada yang benar-benar terjadi, ia menegaskan
dan di sana, seseorang, tampaknya
lebih keras berupaya bersedih
seolah tak ada lagi bagian dari hidup
yang layak dihidupi
dan kita, yang tak mengerti
tiba-tiba sama bertanya, “apakah kita sudah
bahagia?”

di malioboro

di malioboro
ia jatuh pada cerita para penyair yogya lama
dan terjebak pada sentimentalisme
ia mencari sebuah kata sedih
di antara ramai orang berfoto,
kaos tigapuluh ribu, tukang becak yang
menawarkan
lima ribu bolak-balik ke bakpia patok dan
sepuluh ribu
bila ingin ke dagadu asli
tapi hingga ujung, selain memaksakan
sebuah kalimat “mereka menginginkan
kesedihan yang tak ada”
ia hanya menemukan gambar seseorang
berwajah lucu di depan mirota dengan tulisan
“the city of raminten” dan “urip mung mampir
ngguyu”
ia tak tahu bagaimana cara menertawakan
kesedihan
dan karenanya ada yang terus terasa sepa

pergi ke yogya

pergi ke yogya, pada akhirnya, adalah perjalanan
tanpa peduli ke mana labuhannya, adalah lari
dari penjara
yang dibangun bahasa kandung, dan ludruk,
dan sejarah panjang
dari majapahit, apa yang aku bayangkan
majapahit
“dan kau akan menulis puisi-puisi yang
sama sekali asing
dari khazanahmu?”
dan aku akan menulis puisi-puisi yang sama
sekali asing
dari khazanahku
“tapi setiap puisi yang kau tulis
akan menjelma penjara baru bagimu”
kalau begitu aku akan membangun penjara
baru, meneruskan hidup dari penjara ke penjara
sebagaimana seseorang yang benar-benar
merdeka
seseorang yang ingin sebenar-benarnya
merdeka
Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis. (92)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 4 September 2016