Kamar 341 – Aku tak Hanyut – Sajak Sakit I – Sajak Sakit II – Titik Nol Koma – Sejak Gerimis – Awan

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Kamar 341 

Aku bersiap hijrah dari kamar tak berwajah
Di sebuah sudut muram tanpa gelisah
Di ujung selasar yang mata lampunya berkedip
Dan suara rengeknya seperti peluit

Ini bukan stasiun kereta pembawa berita
Ini kamar yang bertimbun doa di sekujur renta
“Jangan pernah lupa sangkanmu” ujarnya
Lalu aku melipat rasa nyeri dari kepala ke kaki

Lalu sekujur tubuhku menari merangkai sepi.


Lebaran Yogya, 2016 

Aku tak Hanyut 

Aku tak hanyut meski hilang sujud
Aku tak hanyut pada namaMu berulang kusebut
Aku tak hanyut pada goda menghadang lutut
Aku tak hanyut pada ruku yg menyeringaiku

Aku tak hanyut, Tuhan.


Lebaran Yogya. 2016 

Sajak Sakit I 

Jam meleleh di dinding
Angka bimbang.
Seperti tulang Mencair di pembuluh bulir
Menuju tepian celuk akhir

Lebaran Yogya, 2016 

Sajak Sakit II 

Jeda menyiarkan gamang
Di ruang lampu temaram.
Denyut merekam ubun-ubun
Siapa limbung tertimbun aum.

Lebaran Yogya, 2016 


Titik Nol Koma 

Jam berhenti di titik ini, rasanya
seperti dalam lemari beku. Dingin
Tapi nama-nama mengalir diam
Menuju loket tempat wajah kaku

Baca juga:  Yogya-Jakarta - Gerbong 274-A4 - Langkah Pejalan - Nikah Cahaya - Pesta Ulang Tahun - Di Atas Nisan Ibu

Kalau kau berpura menepis waktu, rasanya seperti
dalam sandiwara
Meneliti titik koma tanpa kata
Tak pernah jadi kalimat sederhana

Jam berhenti di titik ini, nol koma
Tak ada sapa. Bahkan siapa
Hanya sederet angka. Fana

Yogya 2016 

Sejak Gerimis 

Sejak gerimis mulai sempoyongan di antara teriak
tuter dan derit ban yang miris
Sejak gerimis menodongkan basah di antara jas
hujan dan laju sepeda yang resah
Sejak gerimis memilih jalan di antara aspal dan
kerikil yang terdesak ke pinggir
Sejak gerimis tak mau berhenti menjelang senja dan
sore yang ragu
Sejak gerimis itu aku tahu kau rindu dalam benamku.

Baca juga:  Dua Pergelaran

Awan 

Suatu saat berawan. Melayang. Angan-angan
tenggelam dalam remang. Dimakan segerombolan
mimpi. Ia bersisa, mungkin, disembunyikan angin.

Dingin menyebut 20 derajat.

Suatu saat berbeku. Seperti batu. Dari kutub waktu.
Utara, katamu. Tapi mata angin diam. Mata beranda
bicara. Tentang udara dan rindu yang menguap dari
celah pintu.

Suatu saat berseteru. Seperti cemburu. Menyulut
kepala hingga tubuh jadi jelaga. Sesekali ragu
menggebu. Tentang cawan berisi debu. Belum tentu
itu abu.

Baca juga:  Mata Angin - Sajak Pejalan Malam - Dua - Kwartrin Pagi - Derai Hujan

Lantas awan menjelaskan: Ini rekayasa alam.
Atau grundelan para petualang?


Slamet Riyadi Sabrawi, lahir pada 12 Juni 1953 di Pekalongan. Editor antologi puisi BulaksumurMalioboro (1975). Buku-buku kumpulan puisinya antara lain Lilin-lilin Melawan Angin (2009), Tiba-tiba Ingatanku Menjalari Tubuhmu (2011), Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (bersama 51 penyair, 2012), TOPENG (2012), Negeri Langit, antologi 150 penyair Indonesia (2014), Ujung Beliung (Juni 2015) dan antologi terbarunya (2016) Garit Terang di Tubuh Malam


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Slamet Riyadi Sabrawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 4 September 2016