Kemarau

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Kemarau

Berlari-lari Leni yang binal
memintal napas dalam kutukan matahari
mengekori Aku yang tak pantas dipersuami.

Di semak di dekat lumbung padi negeri
memejam kita bertukar ludah dalam cinta yang sudah.
Serasa tanah merah, bibirnya yang merekah

Ia selalu berbisik tentang suatu Desember yang hujan,
dan mengajakku percaya pada kerisik daun yang menangkap isyarat angin.
Tapi kita berbeda untuk sebagian hal;
Aku menginjak tanah yang retak sedangkan ia melayang bersama angin.

Baca juga:  Kredo Rahasia - Untuk May - Dul Halim - Ma’rifat Malam - Pergilah - Elegi Malam

Sempat kita pertemukan percakapan tentang cinyusu di setenga jalan menuju Cijeru.
Melulu kubiarkan hatiku bertanya.
Karena, Semakin siang menyala semakin sulit aku menerjemahkan tawanya.

Berdua kita pejamkan derita kemarau yang tak berkesudah,
Berdua kita sudah.
Berdua kita titipkan pesan-pesan pada angin
Berdua kita ingin: Hujan turun membasahi cinta, menghapus dahaga.

Rindu tak Sebercanda itu

Merindumu di tepian sajak
Seperti terjebak pada jauh yang tak berjarak.

Tapi semuanya harus tuntas sebelum tengah malam
Karena dingin akan menyerbu dan mencuri sukma di batas kesadaranku.

Baca juga:  Bandung Caput Mundi - Incognito Rhapsody

Maka kutulis saja: Aku kangen kamu.






Ilavy Shohavy, lahir di Subang 20 Juli 1994, adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus pegiat Forum Sastra Lilin Malam.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ilavy Shohavy

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 11 September 2016