Kibar Labar Nelayan – Nda – Sabe – Aku Bawa Seluruhku ke Hadapanmu – Bukit Monthokah

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Kibar Labar Nelayan

Kibar layar perahu itu
Desir angin di bibir pantai itu
Juga dentum gelombang
”Tak pernah membuat getir cinta kami“

Kami terus berlayar
Memanggang ingatan di luas dan dalam lautan
Toh, di mata kami, nasib bukan seperti meja judi
Dan Tuhan bukan pendusta yang pura-pura baik hati

Kami percaya
Dengan rambut yang tipis
Dan pelipis yang diguyur gerimis
Esok pagi bibir kami
Masih sanggup mengecup kening istri

Kami terus berlayar
Sampai malam lindap kea sin lautan
–Ke dalam kulit kami yang juga legam,
Atap rumah, kepul tungku
Geliat peluk istri, juga Tuhan
”Tak pernah khianat akan kematian“

Lautan adalah sumber kasih tanpa pamrih
Juga kumpulan kisah-kisah para pejuang
Menantang takdir kehidupan

Kami percaya, dan selamanya kami tetap di sini, di laut ini
Mengibar layar bersama anak cucu
Dan menyenandungkan lagu
Olle ollang paraona alejere
Alajere e selat madure.

Madura, 2016-09-04

Baca juga:  Kita dan Sederet Perjalanan - Efek Hibernasi Hari Sabtu - Pengelanaan Kaum Futuris - Ketika Puisi ini Ditulis

Nda

Aku membayangkan kau sebotol anggur yang kuteguk
Saat malam kelindan, lalu kuda-kuda menginjak sepi
Dan dingin di ubun-ubun kepalaku.
Batu-batu lepas dari perigi kulit, jatuh ke jurang jauh
Menghantam masa lalu, suara, dan kenang

Di ingatan, wajahmu tegak menjunjung rinduku.
Dan kini aku punya alasan berdiri menantang dunia dan takdir
Tanpa rasa takut terbunuh sia-sia.

Jogja-Cabeyan, 2016

Sabe

Yang lahir dikencingi pagi
Duhai padi yang kuning dan meninggi
Kita pernah dibakar matahari bersama di sini,
Menikmati simpang siur angin setelah magrib
Dan gerimis yang jatuh dari mata langit
Adalah takdir
Lalu sulur ingatan merekam setiap musim yang tandang
Pada kalender keberuntungan
Agar buahmu segar ditalam
Mengenyangkan usia kerabat dan anak cucu
Sampai ratusan hari ke depan
Tinggal sejengkal hari lagi
Riwayatmu riwayatmu menyatu
Dan kita tak mau berseteru
Hanya persoalan siapa yang lebih tua
Menduduki dunia
Sebab seperti rindu
Kau adalah detak
Yang terus berulang dan akan kembali lahir
Di tanah ini, di mata kami.

Baca juga:  Kibar Labar Nelayan - Sabe - Nda

Madura, 2016


Aku Bawa Seluruhku ke Hadapanmu

Aku bawa seluruhku ke hadapanmu
Tanpa ada yang tersisa:
Baik masa lalu, ataupun masa depan

Lihatlah wajahku, wajah yang tak lagi
Menyimpan kesia-siaan
Sebab segala hablur bagai angin, bagai kenang

Aku telah bercerai dengan sepi, dengan sapu tangan
Yang setia pada kucur airmata
juga senyummu yang pucat
adalah rangkuman kisah lampau
Yang ditolak detak jam

Lihatlah wajahku, wajah yang kau sambangi
Dengan bunga-bunga dan dusta
Telah legam –karatan
Sebagaimana gerbong tua kereta itu
Tak ada yang berarti dari yang datang
Dan yang hendak pergi!

Maka aku bawa seluruhku ke hadapanmu
Sebagai ketiadaan.

Sleman, 2016

Bukit Monthokah

Kita akan beranjak
Dan akan selalu datang ke tempat ini
: Tanpa memilih musim

Kita akan selalu wangi
Seperti mekar bunga melati
: Setiap hari

Baca juga:  Penyair yang Bunuh Diri dalam Puisi - Aku Kembali ke Jantungmu - Jubah Rindu - Celoteh Para Aktivis - Meninggalkan Petang - Secangkir Kopi di Atas Meja - Selepas Adzan Siang Lewat

Kita akan bebas
Seperti mekar bunga melati
: Setiap hari

Kita akan bebas
Dan berlari sampai letih
Menaklukan undakan demi undakan
: Tanpa harus tertatih

Kita terus melempar tawa
Sesekali mengasah mata
Untuk menganali yang sia-sia
: Di dalam dada

Di puncak bukit ini
Kusentuh wajah angin,
Kabut di ngarai
Dan burung-burung yang berkicau
Sampai batin terdalam
Di mana tenang, Tuhan
Dan semesta adalah satu hal
Sementara hal yang lain
Yaitu dukamu yang jauh bermil-mil
Dari damai lenganku

Kutub, 2016

Anwar Noeris, lahir di Sumenep, Madura. Mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anwar Noeris
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu, 4 September 2016