Kredo Rahasia – Untuk May – Dul Halim – Ma’rifat Malam – Pergilah – Elegi Malam

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Kredo
Rahasia

Rahasia
adalah kenyataan yang diasingkan
Dan
kesunyian begitu akrab;
Ia
musik yang tak merindukan hilir
Dan
luka yang gagap pada perih
Maka
biarkan ia berlayar menuju samudera kesunyian
Kutub,
2016

Untuk
May

May,
kau tahu
Perempuan
adalah tumpukan rahasia;
Menyeret
lelaki pada pusaran khawatir
Membiarkan
lelaki ditusuk oleh kerinduan,
Kerinduan
yang membentangkan jalan
Kepada
siapa ia akan berakhir
May,
masing-masing kita adalah gugusan takdir
Dari
jantung malam, dari wajah yang tegang
Kita
menyusun getir, dan
Pada
segala yang hidup kita bisikkan
Bahwa
kisah ini adalah pelaksanaan takdirku
Melihatmu
adalah kegelisahan perjalananku
Entah
apa yang kamu bawa dari masa lalu;
Kau
merobek cerita yang aku susun pada malam yang lain
Pada
hati tempat di mana aku hidup
Pada
hatinya, pada simpul segala harapan
Bagai
sungai mengalir menghanyutkan segala rahasia
May,
sungai itu kutahu
Menghanyutkan
harapan serta doa-doa manusia
Pada
samudera keabadian
tapi
tak mungkin sungai itu menghantarkanku padamu
sebab
itu, aku bungkus gumpalan rasa itu
dan
kubiarkan ia diombang-ambingkan
oleh
samudera di dalam diriku,
dan
bila ia telah menemukan celah untuk keluar
maka
akan aku muntahkan ia
sebagai
peristiwa maha menyedihkan di dalam diriku.
Kutub,
2016

Dul
Halim

Orang
gila itu
Menemukan
kembali ingatannya
Di
dalam tarian
Terlihat
jelas
Betapa
gerakan kaki yang lincah
Bak
angin meruah isyarat pada samudera
Yang
menjadikannya ombak,
Sedang
mata berkaca-kaca
Mencari
masa lalu
Di
dalam pelaksanaan takdir,
Sungguh
koyak jiwaku
Melihat
gerakan indah itu
Membawaku
memungut masa lalumu yang gagal
Sungguh
habis imajinasiku,
Membayangkanmu
adalah kesedihan
Yang
mahadalam,
Dalam
tarianmu, aku lihat telunjukmu
Menunjuk
ke langit, serupa alif
Menyangga
ke Esa-an
Sedang
di raut wajahmu yang telah keriput
aku
melihat kesedihanmu,
mencari
cinta sebagai hasrat penghabisan,
serta
mencari persahabatan yang kau tinggalkan
entah
di mana, saat di mana kau menyerah
demi
pelaksanaan takdirmu,
Dul
Halim.
Bragung,
2016

Ma’rifat
Malam

Kita
berjalan mengkhianati matahari
Bahkan
mengkhianati tuhan yang terberi
Menghapus
gelisah dan segala ketakpercayaan
Pada
malam dan pada segala yang sunyi
Pada
bambu-bambu
Kita
berharap dapat mengelabuhi bulan
Agar
merasuk ini sukma
Ke
dalam diri, ke dalam jantung kesedihan
Yang
tak mampu ditampung oleh keganasan siang
Mari
sayang,
Kita
mesti merahasiakan segala yang mesti rahasia
Tariklah
selimut keabadian itu
Biarkan
kita terasing dari kekelaman ini
kita
nikmati ketiadaan, dan
Biarkan
comberan itu bercerita tentang kefanaannya
Kutub,
2016

Pergilah

_faizal
Kmandobab
Kita
bertemu pada waktu yang salah
Dan
itu adalah deritaku
Betapa
sajak-sajakku ingin mengembara di tubuhmu
Tapi
lidahku kelu memanjat namamu
Sebagai
doa dalam kegelisahan
Sungguh
nikmati melewati waktu
Sia-sia
karena membayangkanmu
tapi
tetap saja kau harus pergi
sebab
waktu bukan milik kita
kita
bertemu pada waktu yang salah
dan
itu adalah deritaku,
pergilah,

Baca juga:  Ulang Tahun dalam Akuarium - Malam Kesembuhan - Jika - Sumedang - Kabel - Pada Akhirnya - Darah Tanah - Penjual Tambang
hingga
benda-benda di sekitarku
gagap
untuk menunjukkanmu padaku
bahkan
walau namamu
membungkus
diriku
aku
tak ingin menemukanmu pada nama-nama itu
aku
hanya ingin kau pergi
meninggalkan
luka yang ingin aku pelihara sendiri
dan
di masa depan akan aku tunjukkan luka itu padamu
hingga
ia benar-benar tahu
bahwa
kaulah yang menitipkannya padaku,
dan
kau pun juga akan tahu
betapa
kasih sayangku pada luka itu
menghapus
batas-batas kesadaranku.
Kutub,
2016

Elegi
Malam

Inilah
nyanyian sekaligus ratapan dukacitaku, sayang!
Kita
berdua tahu bahwa,
Baca juga:  Biografi Tua - Kepulangan - Namaku September - Langkah Kecil - Merawat Pagi yang Hampir Lenyap
Nama-nama
adalah doa
Pada
malam aku titipkan nama-nama itu;
Pada
semut hitam di atas batu yang hitam
Agar
benar purna gulita
Nama-nama
itu telah ditelan oleh malam
Sengaja
biar doa itu melesat masuk pada tujuannya
Mari
kita tuang anggur ini
Biarkan
kekosongan itu sebagai takdir premature
Yang
gagal menjalankan takdirnya sendiri
Biarkan
gelas itu luruh pada kehendaknya sendiri
Sebagai
cadas bagi segala kegagalan
Kutub,
2016


Shohebul
Umam J.R.,
peneliti
di Religion and Humanism, fungsionalis Lembaga Kajian Kutub
Yogyakarta (LKKY)

Rujukan: 
[1] Disalin dari karya Shohebul Umam JR
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 11 September 2016