Negeri Basah-basih – Kepalsuan – Rintihan Tekukur – Silsilah Kemarau – Bunga Tandus – Tangisan Seekor Belatung

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Kliping Sastra

Negeri Basah-basih

   :untuk para koruptor

Sudah lama kita bersama
Lama-lama jadi samar-samar
Di kamar mawar engkau jadi tawar
Menawar harga diri di ujung janji
Ah, penipu
Pura-pura kau jadi kura-kura
Sembunyikan hartamu dalam perut

Lihat, lihatlah lilin-lilin itu
Rela mati demi kesetiannya
Sebatang korek api saja tak pernah takut berikan cayanya
Tapi kamu, suka basah-basih

Hei, kamu-kamu
Ini muka-mukamu
ada makam-makam yang kau gali
Jangan makan kami
Ini negeri, bukan energi pembesar perut

Pergilah seperti singa tinggal di negeri basah-basih.

Maumere, awal September 2016

Kepalsuan

“Lebih sukar aku ke langit
Ketimbang perjalanan ke hatimu
Lebih baik berbicara tentang mimpi daripada mengumbar-umbar janji”

Ah, mimpi benarkan cerita kita?
Jika kutahu kalau banyak cahaya yang bersinar  palsu, aku ingin lama-lama tidur bersamamu

Maumere, awal September 2016.

Rintihan Tekukur

Saat senja membeku di kepala
Tak kubiarkan malam menemuiku seorang diri
Ingin ku senduhkan melodi rintih
Jatuhkan air mata senja
Hingga berdarah-darah sekaligus
Aku tak inginkan bulan tumbuh di mata
Sesaat menemani, lalu mati juga
Aku butuh syair
Aku butuh puisi
Agar aku utuh jadi tekukur
Merintih serupa nyanyian
Satu lirik saja cukup untuk hari ini.

Baca juga:  Di Buritan Malam - Losari, Penjaga Rumah Hasanudin - Jeruji Bangsa

Maumere, awal September 2016.

Silsilah Kemarau

Musim sudah menguyur
Rintik-rintik sedang merintih
Tak ada air yang bertunas di mata bumi
Tak ada kerling di keningan malam
Tinggalkan ranting-ranting meratap pohon
Burung-burung mulai membongkar rumah
Karena ketiadaan kasih
Langit beranjak pagi-pagi
ke hulu mencari bumi baru
Air-air masuk kamar
Sembunyikan diri takut diperkosa
Angin yang berlari-lari itu sudah di rampok
Gunung-gunung berhutang pada tanah
Ingat anak-anaknya yang di jual penyamun
Kini tinggal puisi yang di berdiri bawah kemarau
Mencatat kematian  tuhan
Oleh janji yang dikebiri.
Silsilah ini pun berakhir setelah kemarau di pinang September.

Baca juga:  Asma' Pengasahan - Memandai Keris - Jaza' Kelambiomar

Maumere, 1-September-2016.

Bunga Tandus

Pergilah ke taman karang
Petiklah sebidang bunga yang tandus
Sembelihlah wanginya agar tak ada kumbang yang berkerumun
Setelah itu kuburlah dirimu dalam durinya
Berilah sajian kenyangkan perut bumi
Bila tunas menangis, cedoklah keperawanannya
Agar angin berkeriput di dahannya
Kalaupun ia masih benafas
Jahitlah jantungnya dengan amarah terik
Saat purnama berciuman dengan malam
Jangan katakan apa pun
Entah kau malu pun lalui saja
Karena sesaat lagi bumi akan melahirkan api
Hanguskan taman dosa.

Maumere,1-Agustus-2016.

Tangisan Seekor Belatung

Di tengah riuh kelana
Seekor belatung menjadi patung
Setelah tangisnya digantung di jantung duka

Ada seorang pengrajin tersenduh dan jatuh
Setelah cintanya surut di pipi belatung

Tangisan yang dalam
Diselami sedih
Jatuh berulang-ulang
di teras sepi

Baca juga:  Rumah Raksasa - Penjual Sarapan Pagi - Beri Aku Jarak - Mulut Ibu - Tubuhkan Aku dalam Tubuhmu - Datang di Hari Minggu - Jus Alpukat

Sunyi itu tampak meraung-raung
Kala air mata hendak tebenam

Ini nyawa
Ini hawa
Itu sawah
Yang kau garap setengah-setengah
Yang tumbuh di dalam kamatian
Dan yang gugur dari mata belatung.

Maumere, 1-September-2016.

Jefry Seran Tahuk, anggota komunitas ASAL (Arung SAstra Ledalero), pencinta seni, baik seni sastra maupun seni rupa. Karya-karyanya selain dimuat di harian Flores Pos, juga di media On Line Flores Sastra, Flores Muda, Facebook juga di Kliping Sastra. Saat ini sedang mempersiapakan penerbitan buku pertamanya Antologi Puisi berjudul “Puisi Tuhan”: sabda yang menjelma di balik bait-bait malam.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jefry Seran Tahuk
[2] Dikirim melalui surat elektornik ke redaksi klipingsastra