Negeri Datuk Djabok – Harmonika

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Negeri Datuk Djabok

pernahkah kau lihat, sesuatu yang berlari di
hadapanmu
bayang-bayang yang berjalan sepanjang pergantian
tahun dan waktu
dan aku mendengar cairan-cairan sejarah ini
menetes antara daun-daun dan pucuk-pucuk randu
yang selalu kita pungut dan merendanya jadi tirai
abad ini
di dada sungai waktu mengalir perlahan
lengan-lengan peristiwa itu mengapung kukuh
di antara dua tebing tak terpisahkan
anjungan mesjid, suara kalam dan azan berlompatan
suara yang menjadi beribu-ribu keping cahaya
menyebar dalam pendaran awan
cahaya yang menjadi sinar berkepanjangan
matahari di jantung negeri ini, sepanjang abad berlari
ketika aku melewati jalan dan jejak-jejak masa
lampau
desau napas di antara lalang-lalang menjulang
aku membaca darah dan nyawa, darah yang tumbuh
dan mengalir di bawah kibar bendera
di jantung negeri ini, tertimbun sejarah dan peristiwa
dan kemerdekaan itu berdiri di atasnya
hanyalah tiang-tiang bayangan itu menjelaskan pada
kita
Datuk Djabok, Abbas dan Mustafa membentangkan
jembatan antara air
Martais, Abbas Manan, mengalirkan darah di dua
tempat berbeda
seakan-akan waktu tak lagi bisa kita temukan
dan bayang-bayang yang berjalan terdinding tebal
awan
daun-daun berguguran, antara hujan dan panas
daun-daun berguguran, di atas sungai dan perahu
yang diam
daun-daun berguguran, antara kelopak dua matamu
di negeri ini, ketika payung itu mengembang
aku berteduh di bawahnya
Puncak Bakung, 2016

Harmonika

Kutulis irama itu, saat kemarau membakar hutan
gunung rabuku
di bibirmu daging dan besi bersentuhan, denging
napasmu
menjalar jadi angin di setiap rasi darah
dan warna-warna mulai hinggap di mataku
tumbuh jadi bunga di tanah bianglala serat dagingku
“aku ingin lagu perdamaian. saudaraku!”
kudengar suara itu seperti benturan tulisan-tulisan
purba dalam batu
atau juga bagai pecahan-pecahan badai yang melindu
lembah-lembah tempurung kepala
warna-warna zaman membelit sekujur tubuh
kematian di setiap sisi mulai di tabuh
irama itu dikepung api, menyala antara desah dan rintih
dalam diriku, benua-benua berenang terbalut
belerang
dan salju di setiap kutub bumi tubuhku mencair
mengepung setiap bunyi menggigilkan daging
bibirmu
“tetaplah bermain dalam irama perdamaian,
saudaraku!”
tapi kulihat jari-jarimu kian kaku dan suara itu
mengembara amat jauh
di lubang-lubang irama itu, uap dan bisa kian
membuih
“ah saudaraku , di setiap lipat daging dan tulangku api
mulai meretas!”
warna-warna berpikauan dan orang-orang tak
memerlukan harmonika itu
selain engkau dan aku
Muaro, Koto Nan Godang, 2016

Adri Sandra, lahir di Padang Japang, Payakumbuh, Sumatra Barat, Indonesia, 10 Juni 1964. Sejumlah 18 karya puisinya tercatat sebagai pemenang Lomba Cipta Puisi Indonesia yang diadakan di beberapa kota. Antologi Puisi tunggalnya Luka Pisau (2007) dan Cermin Cembung (2012 ).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adri Sandra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 18 September 2016