Puisi Picisan – Ode Para Cinta – Rapsodi # 19 – Taman Para Pecinta – Nonsens

Karya . Dikliping tanggal 25 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Republika

Puisi Picisan

Barangkali ini adalah puisi picisan yang kutulis
untukmu, Kasih
gubahanku tak seindah pujangga yang mahir 
menulis dan berkata
bait yang kutulis begitu miskin diksi pun polos 
makna
Ia terasa mengalir, tak seperti puisi pujangga
yang memesona
bahkan angin akan enggan menyimpan pesan 
puisi ini untukmu
tak ada kesan mendalam selain hanya sekadar 
bahan cemoohan
Barangkali ini adalah puisi picisan yang kutulis
untukmu, Kasih
gubahanku tak seindah pujangga yang mahir
menulis dan berkata
bait yang kutulis begitu miskin diksi pun polos
makna
Yogyakarta, 15 Juni 2015

Ode Para Cinta

Datanglah! Mari berkerumun dalam jamuan
penuh keindahan lahir batin
sukacita mana lagi yang perlu dibicarakan selain khazanah cinta?
walau sakit, kita merasa nikmat dan tiada rasa
bosan
Mari saling bicara dari kedalaman jiwa yang
begitu jernih
jangan campur urusan logika dengan hasrat
cinta di hati
sebab keduanya takkan sejalan dan tak 
berkesudahan dalam kenyataan
Datanglah, hai Pecinta! Bawalah rindu yang 
menghangat di dada
anggur cinta telah menanti kecup bibirmu
agar jiwa menari
isyarat rindu akan hidupkan roh cinta dalam
jiwa kekasihmu
Yogyakarta, 01 Juni 2015

Rapsodi # 19

Kemarilah! Irama cinta telah melesat tinggi ke
angkasa
tiap petik yang mengalun dalam jiwa telah
bersayap cahaya
lepaskan lara dunia, hentakkan kaki
dan berdansalah dengan sukacita
Kekasih sejati telah menanti di lapis langit
paling tinggi
naiklah bersama bentang makrifat , dengannya
pula segala hakikat sampai
lidah mengecap bentuk fisik, rasa abadi ada
dalam diri
Ke marilah penuh suka cita, bukankah tak ada
selain dirinya?
nestapa dunia akan musnah dalam dekap hangat
kekasih tercinta
mari bergegas menuju langit, di sana keabadian
begitu nyata
Yogyakarta, 22 September 2015

Taman Para Pecinta

Tak perlu berlari sedemikian rupa di taman para
pecinta
derap kaki telanjangmu itu justru mengusik
ritus segala kekhusyukan
cukuplah berbisik lirih agar hikmat senantiasa 
terjaga di sana
Apakah cinta butuh ratapan agar segera bersemayam di jiwa?
tanpa kehadiran hati, apa guna jibaku demi
mendapat cinta
datanglah ke ribaan dengan penuh pasrah,
walau getir adanya
Gelas yang diperlakukan secara kasar pasti
retak bahkan pecah
tak perlu membuat gaduh hanya karena
berharap tatap perhatian
apa yang diraih dnegan sukarela akan hadirkan
hakikat bahagia
Yogyakarta, 16 November 2015

Nonsens

Apakah kau tetap mengira bahwa yang tampak
adalah kenyataan
bagaimana jika segala keberadaan telah tiada,
apakah terlihat adanya
lantas, jika penglihatan menjadi buta, masih
adakah cahaya makrifat?
Dasar sumur bukan permukaan air yang
menggenang di dalamnya
butuh timba atau galah untuk mengukur seberapa
debit airnya
bila kau menjeburkan diri, tentu pandir mutlak
ada padamu
Janganlah kau menimba dengan bakul, pasti itu
perbuatan sia-sia
perlataan tanpa esensi hanya ampas dan
memiliki sedikit manfaat
keyakinan adalah jalan menuju penyatuan jiwa
pada kebenaran hakiki
Yogyakarta, 22 Oktober 2015



Anam Khoirul Anam. Novelis sekaligus penyair kelahiran Ngawi, 26 Juni ini sangat gemar membuat puisi-puisi bermazhab puitik-romantik. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media massa lokal maupun nasional. Menjadi juara III pada lomba puisi se-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisinya juga masuk dalam antologi Puisi 142 Penyair Nusantara Mneuju Bulan serta tergabung dalam antologi karya Selaksa Makna Cinta (PUstaka Puitika: 2010). Saat ini bergiat dan mengasuh komunitas literasia: Anam Khoirul Anam Reader (AKAR).
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Anam Khoirul Anam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 25 September 2016