Pulau yang Bernyanyi – Melihat Sitor di Langit – Ulang Tahun Kata

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Pulau yang Bernyanyi

Pikiranku dipenuhi nyanyian
Cahaya mendorong nyanyianku ke tengah laut
Menggema di jantung air lalu muncul kembali
ke permukaan: Sebuah pulau
Di pulau itu aku menolak menjadi seekor burung
Langit, keluasan, kesendirian, sawang tak berujung
Menjelma sebuah kata telah cukup bagiku
Menetes tumbuh di pasir dan batu. Dengan
kata itu kuberkati kegelapan. Jantung tanah
yang memendam sekalian suara
Dengan kata itu kusentuh ikan-ikan
Orang-orang datang mengikuti nyanyianku
Kami bernyanyi sambil mendorong cahaya
ke jantung bayang. Menampung sekalian
warna. Membiarkan seekor ular putih
melata tenang di tuts piano
2016

Melihat Sitor di Langit

Tengah hari di Notre-Dame aku melihatnya
Bertiup di angin: antara lonceng gereja,
musim bunga, dan perempuan kesayangan
Lelaki danau meniti di alis kekasih
Senggama khianat dan setia
Ulur mengulur manusia dan kata
Di Trocadero aku mengikutinya
turun menuju stasiun Metro. Lelaki danau
menyusur lorong bersimpang. Dihirupnya
keluasan dan kebuntuan. Langkah orang
ramai. Pintu-pintu terbuka
Tapi tak ke mana
Tersedu ia di ambang rindu
Terasing dari ibu dan Isa
Berpeluk kesepian dan nafsu
Manusia dan kata rasa hampa
Di Rue de La Chapelle tengah malam
Kami berhadapan sepenuh lengang
Lelaki danau, aku, dan perempuan kesayangan
Kamar penginapan, sebuah kota, dan kekosongan
Cahaya dan bayang ulur mengulur-ulur
2016

Ulang Tahun Kata

Tak satu kata pernah ditulis
Sedang buku kian tipis
Tak satu kata pernah terbaca
Sedang manusia terus meminta
2016
Ahda Imran lahir di Kanagarian Baruhgunung, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Menulis puisi, cerpen, esai, dan lakon. Kumpulan puisinya, antara lain, Rusa Berbulu Merah (2014). Bergiat di Selasar Bahasa Kebun Seni Bandung.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 11 September 2016